26 JUL 2026
Gelombang PHK Teknologi Global: Monday.com PHK 20% Karyawan, AI Jadi Dalih

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Gelombang PHK Teknologi Global: Monday.com PHK 20% Karyawan, AI Jadi Dalih
Teknologi

Gelombang PHK Teknologi Global: Monday.com PHK 20% Karyawan, AI Jadi Dalih

Tim Redaksi Feedberry ·26 Juli 2026 pukul 01.30 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
7 Skor

PHK besar-besaran di Monday.com dan 20+ raksasa teknologi global dengan dalih AI menandakan transformasi struktural pasar tenaga kerja digital yang akan merembet ke Indonesia melalui rantai pasok talenta dan investasi teknologi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
6
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
PHK
Timeline
Pengumuman 22 Juli 2026 (berdasarkan konteks artikel), dengan biaya restrukturisasi USD45-55 juta, dan proyeksi pertumbuhan pendapatan 20% tahun 2026.
Alasan Strategis
Restrukturisasi untuk bertransformasi ke model operasi yang lebih ramping dan berfokus pada AI, bukan sekadar pengurangan biaya atau penggantian manusia dengan AI.
Pihak Terlibat
Monday.com

Ringkasan Eksekutif

Monday.com, perusahaan perangkat lunak manajemen proyek asal Tel Aviv, menjadi yang terbaru dari daftar panjang perusahaan teknologi yang menyebut kecerdasan buatan sebagai faktor dalam PHK massal. Dalam pengajuan SEC pada Rabu lalu, perusahaan mengumumkan akan memangkas sekitar 20% tenaga kerja—lebih dari 600 karyawan—sebagai bagian dari rencana restrukturisasi yang berkaitan dengan transformasi produk, pemasaran, dan strategi go-to-market menuju model operasi yang lebih ramping dan fokus pada AI. Pendiri sekaligus CEO bersama Eran Zinman menyatakan dalam memo LinkedIn bahwa langkah ini bukan untuk mengurangi biaya atau mengganti manusia dengan AI, melainkan untuk menyesuaikan organisasi dengan visi baru yang sudah dicanangkan setahun lalu saat rebranding ke arah AI-first.

Monday.com memperkirakan akan menanggung biaya restrukturisasi sebesar USD45-55 juta, namun tetap memproyeksikan pertumbuhan pendapatan tahun-ke-tahun hingga 20% pada 2026. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Analisis Financial Times menunjukkan bahwa sejak awal tahun, perusahaan teknologi AS telah memangkas hampir 140.000 pekerjaan. Hanya Amazon, Oracle, Meta, dan Microsoft yang menyumbang hampir 50.000 dari jumlah tersebut, sementara mereka mengalirkan ratusan miliar dolar ke pembangunan pusat data AI. Namun, gambaran yang lebih bernuansa terungkap: perusahaan yang mengutip AI dalam PHK justru mencatatkan kinerja saham di bawah Nasdaq sekitar 10% dalam 30 hari perdagangan setelah pengumuman. Artinya pasar meragukan narasi yang disampaikan manajemen. Sementara itu, perusahaan murni AI seperti Anthropic dan OpenAI justru merekrut secara agresif, menyerap talenta yang dilepas dari perusahaan lain.

Di Meta misalnya, meski mem-PHK 8.000 orang, mereka memindahkan sekitar 7.000 karyawan ke peran baru yang berfokus AI. IBM juga meningkatkan perekrutan entry-level untuk peran AI dan hybrid cloud di samping pemangkasan yang ada. Dampak bagi Indonesia bersifat tidak langsung namun signifikan. Pertama, perusahaan teknologi multinasional yang beroperasi di Indonesia—seperti Microsoft, Amazon, atau Oracle—mungkin melakukan penyesuaian serupa di kantor cabang, menggeser prioritas dari peran tradisional ke fungsi terkait AI. Kedua, lonjakan investasi pusat data AI global membuka peluang bagi Indonesia sebagai hub regional jika infrastruktur kelistrikan dan konektivitas memadai. Pemerintah dan pelaku industri perlu mengantisipasi pergeseran permintaan tenaga kerja: keahlian AI, rekayasa data, dan keamanan siber akan semakin dibutuhkan, sementara peran administratif dan operasional rutin berisiko terautomasi.

Ketiga, startup teknologi lokal yang mengandalkan pendanaan ventura harus bersaing dengan gaji global untuk talenta AI, yang bisa meningkatkan biaya operasional dan memperpanjang jalan menuju profitabilitas. Ke depan, ada beberapa sinyal yang harus dipantau dalam 1-2 bulan mendatang: (1) apakah lebih banyak perusahaan teknologi besar akan mengikuti langkah Monday.com dan mengaitkan PHK dengan AI, yang akan memperkuat tren restrukturisasi; (2) respons pemerintah Indonesia—apakah ada insentif untuk pelatihan ulang (reskilling) bagi pekerja yang terdampak digitalisasi; (3) data kependudukan dan angkatan kerja Indonesia terkait adopsi AI di sektor jasa keuangan, ritel, dan manufaktur; (4) laporan keuangan dan prospek bisnis Monday.com pasca-PHK, sebagai barometer efektivitas strategi AI-first. Jika model ini berhasil, bisa menjadi cetak biru bagi perusahaan lain di Asia Tenggara.

Jika gagal, gelombang PHK bisa berlanjut tanpa perbaikan kinerja yang berarti.

Mengapa Ini Penting

Gelombang PHK yang melanda Monday.com dan puluhan raksasa teknologi global dengan alasan AI bukan sekadar berita korporasi biasa. Ini menandakan pergeseran struktural dalam cara perusahaan teknologi mendefinisikan nilai tenaga kerja: peran tradisional mulai dianggap tidak kritis, sementara investasi masif ke AI mengubah alokasi sumber daya. Bagi Indonesia, yang tengah membangun ekosistem digital dan startup, tren ini menjadi peringatan dini bahwa model bisnis padat karya di sektor teknologi tidak lagi berkelanjutan. Perusahaan lokal dan cabang multinasional harus segera merancang ulang strategi sumber daya manusia—atau risiko tertinggal dalam persaingan global. Yang luput dari perhatian adalah bahwa pasar tidak sepenuhnya percaya pada narasi AI perusahaan; saham mereka justru tertekan setelah pengumuman. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah AI benar-benar dalih, atau keharusan strategis yang belum terbukti menguntungkan?

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan teknologi multinasional di Indonesia (Microsoft, Amazon, Oracle, Meta) kemungkinan meninjau ulang struktur organisasi cabang lokal mereka, dengan perpindahan tenaga kerja dari peran non-teknis ke fungsi AI, data, dan cloud. Ini dapat menekan lapangan kerja di sektor layanan TI rutin dan administrasi.
  • Ekosistem startup Indonesia menghadapi tekanan ganda: di satu sisi kebutuhan talenta AI meningkat, di sisi lain biaya perekrutan dan retensi naik karena persaingan dengan gaji global. Startup yang tidak mampu bertransformasi ke model bisnis berbasis AI berisiko kehilangan daya saing dan minat investor.
  • Investasi infrastruktur pusat data AI global yang terus mengalir dapat menguntungkan Indonesia jika pemerintah mampu menyediakan lahan, energi, dan kebijakan yang ramah investasi. Namun sebaliknya, jika Indonesia lambat, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura bisa menyerap investasi tersebut, memperlebar kesenjangan digital regional.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman PHK berikutnya dari perusahaan teknologi besar (Google, Apple, dll.) yang mengutip AI sebagai faktor—akan memperkuat atau melemahkan tren ini.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika pasar terus menghukum saham perusahaan yang melakukan PHK berbasis AI, manajemen bisa mengubah strategi, yang berdampak pada keputusan investasi di kawasan Asia.
  • Sinyal penting: data lapangan kerja teknologi Indonesia pada kuartal III 2026—apakah terjadi perlambatan perekrutan di sektor digital dan adakah lonjakan permintaan untuk peran AI spesifik.

Konteks Indonesia

Global tech layoffs with AI as a factor primarily affect Indonesia indirectly. First, multinational tech firms with Indonesian branches may adjust headcount priorities, shifting from traditional roles to AI-related positions. Second, the global AI investment boom may drive data center demand in Southeast Asia; Indonesia's competitiveness in attracting such investment depends on infrastructure and regulatory support. Third, local startups face a talent war for AI experts, raising operational costs. No direct statistical data on Indonesia is provided in the article, but the trend is relevant for policymakers and business leaders monitoring future workforce dynamics.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.