24 JUN 2026
Gas Mahal Ancam PHK 55.000 Pekerja Keramik – Sinyal Daya Saing Manufaktur Melemah

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Gas Mahal Ancam PHK 55.000 Pekerja Keramik – Sinyal Daya Saing Manufaktur Melemah
Korporasi

Gas Mahal Ancam PHK 55.000 Pekerja Keramik – Sinyal Daya Saing Manufaktur Melemah

Tim Redaksi Feedberry ·24 Juni 2026 pukul 08.02 · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
8 Skor

Ancaman PHK di industri keramik ditambah rencana relokasi pabrik otomotif menunjukkan tekanan struktural pada manufaktur Indonesia, yang berdampak langsung pada lapangan kerja dan investasi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) melaporkan ancaman penutupan dua pabrik keramik besar di Bekasi yang bisa menyebabkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 55.000 pekerja. Penyebab utamanya adalah lonjakan harga gas industri dan penyusutan pasokan gas murah dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) melalui skema alokasi gas industri tertentu (AGIT). Pada Januari–Mei 2026, pasokan AGIT yang diterima industri keramik hanya 47,5% dari kebutuhan, sehingga kekurangannya harus dipenuhi dengan gas regasifikasi LNG seharga sekitar US$20,5 per MMBTU. Akibatnya, rata-rata harga gas yang dibayar industri keramik mencapai US$15US$16/MMBTU — dua kali lipat dari harga HGBT US$7/MMBTU yang menjadi acuan. ASAKI menyebut utilisasi pabrik menurun drastis dan daya saing tergerus, terutama menghadapi gempuran produk impor dari China dan India.

Ketua ASAKI Edy Suyanto menegaskan industri hanya meminta kepastian pasokan dengan harga wajar di kisaran US$7US$9/MMBTU, setara harga gas di Malaysia dan Thailand. Namun, informasi terbaru dari PGN menunjukkan pasokan AGIT pada Juni 2026 berpotensi turun lagi hingga di bawah 30%. Momentum ini makin kritis karena sebelumnya Presiden KSPSI juga menyebut dua pabrik keramik di Bekasi terancam berhenti beroperasi. Secara paralel, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengakui ancaman PHK makin nyata, ditandai rencana dua pabrik komponen otomotif Jepang (PT J dan PT S) pindah ke Vietnam, yang berpotensi memutus hubungan kerja 7.000 buruh. Dua pabrik komponen otomotif itu berada di Jawa Timur dan masing-masing memiliki ribuan karyawan. Fenomena ini bukan sekadar kasus terisolasi, melainkan indikasi memburuknya iklim investasi manufaktur di Indonesia.

Biaya energi tinggi, upah yang kurang kompetitif, serta ketidakpastian pasokan listrik (terbukti dari pemadaman bergilir di Jawa) menjadi faktor pendorong relokasi. Dampak PHK massal akan langsung menekan daya beli masyarakat di kawasan industri seperti Bekasi dan Jawa Timur, yang selama ini menjadi penopang konsumsi rumah tangga. Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan menyiapkan mediasi bipartit dan advokasi lintas kementerian, namun pendekatan kasus-per-kasus dinilai belum menjawab akar masalah struktural.

Mengapa Ini Penting

Tekanan pada industri keramik dan otomotif menunjukkan bahwa masalah biaya energi dan daya saing sudah mencapai titik puncak. Jika pemerintah tidak segera memberikan kepastian pasokan gas dengan harga kompetitif, Indonesia berisiko kehilangan sektor manufaktur padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja. Risiko PHK massal tidak hanya menggerus konsumsi domestik, tetapi juga mengirim sinyal negatif ke investor asing tentang stabilitas kebijakan energi dan iklim investasi. Lebih jauh, relokasi pabrik ke Vietnam menandakan bahwa Indonesia kalah bersaing dalam hal biaya produksi, regulasi, dan infrastruktur energi — ancaman nyata bagi target pertumbuhan ekonomi jangka menengah.

Dampak ke Bisnis

  • Industri keramik langsung terpukul: utilisasi turun, margin tergerus, dan daya saing hilang. Dua pabrik besar di Bekais terancam tutup, 55.000 pekerja bisa di-PHK. Dampak domino: pemasok bahan baku (tanah liat, frit, glaze) dan jasa logistik di sekitar kawasan industri akan kehilangan pendapatan.
  • Sektor otomotif: dua pabrik komponen Jepang (PT J dan PT S) dengan total 7.000 pekerja berencana pindah ke Vietnam. Ini menyusul keputusan sebelumnya yang sudah mengingatkan tentang erosi daya saing. Rantai pasok lokal — UMKM pemasok komponen — akan kehilangan kontrak, memperparah efek berantai.
  • Sektor energi: krisis gas industri menyoroti kegagalan alokasi AGIT dan kebijakan harga ganda (HGBT vs LNG). PGN sebagai pemasok utama mendapat tekanan untuk menjamin pasokan. Di sisi lain, PLN juga tengah berjuang memulihkan pasokan listrik Jawa, menambah ketidakpastian energi bagi industri.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi pasokan AGIT untuk industri keramik pada Juni 2026 — jika turun ke bawah 30%, risiko penutupan pabrik makin dekat.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons pemerintah terhadap usulan ASAKI untuk menetapkan harga gas US$7-9/MMBTU — kegagalan menurunkan harga bisa memicu PHK lebih luas di sektor energi-intensif lain.
  • Sinyal penting: data PHK resmi dari Kemnaker dan pengumuman relokasi PT J dan PT S — jika realisasi, akan menjadi preseden negatif bagi investasi Jepang di Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.