1 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / Gas CO2 Tinggi Disulap Jadi US$9/MMBTU — Pilot Natuna
Korporasi

Gas CO2 Tinggi Disulap Jadi US$9/MMBTU — Pilot Natuna

Tim Redaksi Feedberry ·31 Oktober 2026 pukul 23.21 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Investor Daily ↗
6 Skor

Bukan peristiwa pasar yang mendesak, tetapi capaian teknis ini membuka jalur komersialisasi lapangan gas berkadar CO2 tinggi yang selama ini idle — relevan bagi ketahanan pasokan gas domestik dan opsi pengembangan Natuna.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Target 2026: dua train SP ABG berjalan hingga kapasitas penuh 22 MMSCFD gross agar capaian net 8 MMSCFD terealisasi di akhir tahun.
Alasan Strategis
Memonetisasi gas Lapangan Akasia Bagus yang berkadar CO2 tinggi agar dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai keekonomian, sekaligus menjadikan SP ABG Jatibarang sebagai pilot project dan percontohan nasional untuk replikasi di lapangan bergas serupa seperti Natuna.
Pihak Terlibat
PT Pertamina EPPT Pertamina Hulu Energi (Subholding Upstream Pertamina)PT Pertamina (Persero)

Ringkasan Eksekutif

Lapangan gas berkadar CO2 tinggi yang biasanya telantar kini punya jalur komersial. Pertamina EP Jatibarang Field memonetisasi gas Lapangan Akasia Bagus lewat Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) Stage 1, fasilitas produksi yang dilengkapi CO2 Removal Package berbasis amine system (MDEA). Hasilnya, gas dari SP ABG tercatat terjual US$9 per MMBTU pada ajang IPA Convex di Tangerang — disebut sebagai harga jual gas tertinggi di Indonesia. Produksi saat ini berada di kisaran 10–11 MMSCFD gross dengan net 3,3–3,5 MMSCFD. Target 2026: dua train SP ABG berjalan hingga kapasitas penuh 22 MMSCFD gross agar capaian net 8 MMSCFD terealisasi di akhir tahun. Kandungan CO2 tinggi adalah alasan klasik sebuah lapangan gas tidak pernah masuk tahap produksi.

Nilai kalornya turun, pembakaran melambat atau terganggu, dan gas menjadi korosif terhadap pipa ketika bertemu uap air dan membentuk asam karbonat. Pembeli menjauh, hitungan keekonomian lapangan runtuh. Skalanya berbeda-beda antar-lapangan: Subang mengandung 20% CO2, Point A Aceh 19,39%, Cilamaya 40%, sementara Natuna D-Alpha sekitar 72% — level yang membuat pengembangan nyaris mustahil secara komersial. Supervisor SP ABG Jatibarang Field, Dendy Gradienda, menyebut pihaknya menyusun rencana dan berinvestasi agar sekitar 65% gas tersebut dapat dimanfaatkan dan dimonetisasi nilai keekonomiannya. Klaim yang diajukan pun tegas: fasilitas ini disebut satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, yang mampu menurunkan kadar CO2 dengan persentase terbesar. Yang tidak tampak dari angka harga adalah aritmetika di baliknya.

Rasio gross ke net hanya sekitar sepertiga — 22 MMSCFD gross berbanding 8 MMSCFD net pada target puncak, dan pola serupa sudah terlihat pada produksi berjalan. Selisih itu bukan kebocoran, melainkan konsekuensi proses: regenerasi larutan amine menuntut panas, ditambah konsumsi fuel gas dan susut operasional. Artinya, keekonomian proyek bergantung pada satu variabel tunggal — premium harga yang cukup besar untuk menutup penyusutan volume sebesar itu. Harga US$9 per MMBTU menjelaskan mengapa proyek ini berjalan: pembeli membayar untuk kualitas gas, bukan sekadar molekulnya. Dengan Brent berada di US$113,43, insentif bagi pembeli industri untuk mengunci pasokan gas non-LNG yang nilai kalornya tinggi dan kadar pengotornya rendah justru menguat. Dampak terbesarnya bukan pada SP ABG sendiri, melainkan pada preseden yang diciptakan.

Fasilitas ini kini diposisikan sebagai pilot project dan percontohan nasional, dengan replikasi paling bernilai mengarah ke Natuna. Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menyatakan dukungan penuh agar pengembangan Akasia Bagus berlanjut ke stage 2 dan kapasitas produksi di lingkungan Subholding Upstream meningkat. Namun replikasi ke lapangan dengan kadar CO2 jauh lebih tinggi menuntut skala capex dan konsumsi energi yang berbeda kelas — persoalan yang tidak selesai hanya dengan keberhasilan satu train. Dalam 1–4 minggu ke depan, sinyal yang perlu dicermati adalah kepastian keputusan stage 2, laju ramp-up dua train menuju kapasitas penuh, dan apakah ada penyebutan mitra pembeli gas dengan kontrak jangka panjang — bukan sekadar transaksi yang tercatat di pameran industri.

Mengapa Ini Penting

Selama ini lapangan gas berkadar CO2 tinggi diperlakukan sebagai aset yang terkunci: cadangan ada, tetapi tidak bisa dijual. Fasilitas berbasis amine di Jatibarang mengubah status itu dari beban menjadi lini pendapatan, dan implikasinya bukan pada satu lapangan kecil di Indramayu, melainkan pada cara Indonesia menilai cadangan gas marginalnya. Jika model ini terbukti ekonomis pada kadar CO2 menengah, peta prioritas pengembangan lapangan gas domestik bergeser: cadangan yang sebelumnya dicoret dari daftar prioritas bisa masuk kembali ke antrean investasi. Sebaliknya, jika replikasi berhenti di level laboratorium, Natuna tetap menjadi cadangan besar yang tak tersentuh.

Dampak ke Bisnis

  • Kontraktor penunjang — penyedia jasa EPC, fabrikator unit amine, dan spesialis perawatan pipa — menghadapi permintaan baru jika replikasi berjalan. Keunggulan teknis yang diklaim perusahaan menjadi prasyarat masuk bagi pemasok, dan kompetensi CO2 removal menjadi pembeda antar-penyedia jasa di sektor hulu gas.
  • Pembeli gas industri seperti smelter, pabrik pupuk, keramik, dan kaca mendapat alternatif pasokan dengan nilai kalor lebih tinggi dan kadar pengotor lebih rendah. Namun premium US$9 per MMBTU berarti struktur biaya energi mereka menyesuaikan ke atas — masuk akal hanya bagi proses yang sensitif terhadap kualitas pembakaran dan biaya perawatan pipa.
  • Efek yang baru terasa dalam 3–6 bulan: fasilitas ini berpotensi menjadi fondasi kapabilitas carbon capture bagi Pertamina. Keahlian menangani aliran CO2 dalam volume industri adalah modal yang sama untuk layanan penangkapan karbon ke pihak ketiga — jalur pendapatan yang belum tentu masuk proyeksi keuangan jangka pendek, tetapi mengubah posisi Pertamina dalam rantai nilai transisi energi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi produksi dua train SP ABG — apakah naik mendekati 22 MMSCFD gross dengan net 8 MMSCFD pada akhir 2026, karena selisih gross-to-net menentukan apakah premium harga cukup menutup biaya energi pemisahan.
  • Risiko yang perlu dicermati: keputusan investasi stage 2 Akasia Bagus — jika tertunda, narasi 'percontohan nasional' kehilangan dasar, dan replikasi ke lapangan berkadar CO2 lebih tinggi seperti Natuna kehilangan pembuktian skala.
  • Sinyal penting: munculnya kontrak jual beli gas jangka panjang dengan pembeli industri — transaksi di ajang IPA Convex menunjukkan minat, tetapi komitmen pasokan berdurasi panjang adalah penanda sesungguhnya bahwa gas berkadar CO2 tinggi sudah diterima pasar.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.