6 JUL 2026
Even Realities Raup $150M, Valuasi $1B — Kacamata Pintar Tanpa Kamera Mulai Dilirik

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Even Realities Raup $150M, Valuasi $1B — Kacamata Pintar Tanpa Kamera Mulai Dilirik
Teknologi

Even Realities Raup $150M, Valuasi $1B — Kacamata Pintar Tanpa Kamera Mulai Dilirik

Tim Redaksi Feedberry ·6 Juli 2026 pukul 09.00 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
5 Skor

Pendanaan besar di smart glasses menunjukkan arah baru teknologi wearable, namun dampak langsung ke Indonesia masih terbatas karena belum ada pemain lokal signifikan dan adopsi masih awal.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4
Analisis Startup & Pendanaan
Seri Pendanaan
Pre-Series B
Jumlah
$150 juta
Valuasi
$1 miliar
Sektor
Smart Glasses / Wearable Technology
Investor
MeituanTencentHillhouseSequoia ChinaNorthern Light Venture Capital

Ringkasan Eksekutif

Even Realities, startup smart glasses asal Shenzhen yang didirikan oleh mantan insinyur Apple pada 2023, baru saja mengumumkan pendanaan pre-Series B sebesar 150 juta dolar AS dari Meituan dan Tencent. Putaran ini membawa valuasi perusahaan mencapai 1 miliar dolar AS, menjadikannya unicorn baru di industri wearable. Berbeda dengan kompetitor seperti Meta dengan Ray-Ban Stories atau Snap dengan Specs yang mengandalkan kamera untuk menangkap konten, Even Realities memilih jalur berbeda: kacamata pintar tanpa kamera yang mengutamakan privasi. Produk flagship mereka, G2 yang dirilis November lalu, menggunakan tampilan heads-up display yang memproyeksikan informasi langsung ke garis pandang pengguna, tanpa merekam video atau audio. Pengguna berinteraksi melalui ring companion R1 dengan mengetuk dan menggesek.

Pendekatan ini sengaja dirancang untuk mengurangi stigma sosial terhadap perangkat yang merekam, sekaligus memenuhi standar privasi ketat Eropa. CEO Will Wang, yang sebelumnya mengerjakan Apple Watch dan iPhone, menegaskan bahwa privasi adalah fitur utama yang dibangun sejak awal — data dienkripsi, transkripsi suara tidak disimpan sebagai rekaman, dan infrastruktur mematuhi regulasi GDPR. Dalam hitungan tiga tahun, Even Realities tumbuh pesat: dari 30-40 karyawan di 2024 menjadi 300-400 saat ini. Produk pertamanya, G1, berhasil menjual lebih dari 10.000 unit pada 2024, melampaui target internal, menjadikannya perusahaan pertama di kategori ini yang mencapai angka tersebut. Kecepatan ekspansi ini menarik perhatian investor besar selain Meituan dan Tencent, termasuk Hillhouse, Sequoia China, dan Northern Light Venture Capital.

Persaingan di pasar smart glasses global semakin memanas. Meta telah menjual 7 juta unit Ray-Ban Stories dan menguasai lebih dari 80% pangsa pasar, sementara Snap baru meluncurkan Specs generasi konsumen dengan harga 2.195 dolar AS, meski mendapat tekanan dari investor aktivis. Google juga masuk melalui kemitraan dengan Warby Parker dan Gentle Monster untuk audio glasses bertenaga AI Gemini. Even Realities memposisikan diri sebagai pemain premium tanpa kamera, mengincar pengguna yang peduli privasi dan profesional yang membutuhkan asisten real-time tanpa mengorbankan kenyamanan sosial. Bagi ekosistem teknologi global, pendanaan ini menegaskan bahwa smart glasses bukan lagi sekadar proyek eksperimental, melainkan kategori produk yang mulai menarik modal institusional besar.

Namun, profitabilitas masih jauh dari jangkauan — hampir semua pemain masih merugi, termasuk Meta yang unit Reality Labs-nya terus mencatat kerugian miliaran dolar. Even Realities sendiri belum mengungkapkan rencana profitabilitas.

Mengapa Ini Penting

Pendanaan Even Realities menunjukkan bahwa ada segmen pasar yang bersedia membayar premium untuk privasi di perangkat wearable, berbeda dengan model kamera yang dominan. Ini bisa memengaruhi arah pengembangan produk kompetitor global, termasuk Meta dan Google, yang pada akhirnya berdampak pada pilihan perangkat yang masuk ke pasar Indonesia. Jika tren 'tanpa kamera' terbukti berhasil, perusahaan lokal atau mitra distribusi di Indonesia bisa mengadopsi pendekatan serupa untuk menghindari potensi konflik regulasi privasi yang masih abu-abu di Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan logistik dan manufaktur di Indonesia yang mulai menguji smart glasses untuk efisiensi operasional bisa mendapatkan alternatif produk yang tidak menimbulkan kekhawatiran privasi dari pekerja atau pelanggan. Model Even Realities yang tanpa kamera lebih mudah diterima secara sosial dan kepatuhan internal.
  • E-commerce dan platform ritel Indonesia yang menjual gadget impor perlu memantau apakah produk Even Realities akan masuk ke pasar domestik. Jika ya, ini bisa menjadi pesaing bagi produk Meta Ray-Ban yang sudah bisa dibeli secara online, namun dengan nilai jual privasi yang berbeda.
  • Startup teknologi lokal yang bergerak di bidang AR/VR atau wearable AI bisa mendapatkan referensi strategi diferensiasi: fokus pada privasi sebagai fitur utama, bukan sekadar kamera dan AI. Ini bisa menjadi celah pasar yang belum digarap serius oleh pemain besar.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: apakah Even Realities mengumumkan kemitraan distribusi di Asia Tenggara dalam 6 bulan ke depan — jika ya, produk ini berpotensi masuk ke Indonesia dan bersaing langsung dengan Meta Ray-Ban.
  • Risiko yang perlu dicermati: adopsi smart glasses global yang masih lambat di pasar non-Amerika/Eropa bisa membuat Even Realities kesulitan mencapai skala profitabilitas, sehingga pendanaan lanjutan mungkin diperlukan dan valuasi bisa tertekan.
  • Sinyal penting: respons regulator di Indonesia terhadap perangkat wearable berbasis AI — apakah akan ada aturan khusus tentang perekaman data melalui kacamata pintar, yang bisa menjadi hambatan atau justru peluang bagi produk tanpa kamera seperti Even Realities.

Konteks Indonesia

Smart glasses global mulai memasuki fase komersialisasi, namun adopsi di Indonesia masih sangat awal. Produk seperti Meta Ray-Ban sudah bisa dibeli secara online tanpa hambatan berarti, sementara regulasi tentang perangkat perekaman tersembunyi dan perlindungan data pribadi masih bersifat umum. Even Realities dengan pendekatan tanpa kamera menawarkan alternatif yang lebih aman secara regulasi, sehingga berpotensi lebih cepat diterima oleh segmen enterprise dan pengguna yang peduli privasi di Indonesia. Startup lokal atau mitra distribusi bisa memanfaatkan celah ini untuk menjajaki kemitraan eksklusif atau adaptasi produk untuk pasar Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.