29 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Euro Tertahan di 1.1110, Terendah Sejak Mei 2025
Forex & Crypto

Euro Tertahan di 1.1110, Terendah Sejak Mei 2025

Tim Redaksi Feedberry ·29 Oktober 2026 pukul 11.59 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: FXStreet ↗
5.7 Skor

Keputusan ECB hari ini menjadi katalis langsung bagi euro, sementara penguatan dolar AS yang berlanjut menambah tekanan tidak langsung pada rupiah dan biaya impor domestik.

Urgensi
6
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5
Analisis Data Pasar
Instrumen
EUR/USD
Harga Terkini
1.1110
Level Teknikal
Support 1.1115–1.1110; resistance intraday 1.1140, lalu 1.1200 dan EMA 100 periode di 1.1215
Katalis
  • ·Keputusan kebijakan ECB yang diperkirakan menahan suku bunga dengan bias hawkish ke arah kenaikan 25 basis poin pada Desember
  • ·Kekhawatiran terhadap level utang Prancis yang memburuk dan kebuntuan politik menjelang pemilihan tahun depan
  • ·Penguatan dolar AS akibat ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang hawkish dan ketidakpastian geopolitik

Ringkasan Eksekutif

EUR/USD kembali menghadapi tekanan jual pada sesi Asia Kamis, gagal melanjutkan pantulan moderat dari area 1.1110 yang menurut artikel merupakan level terendah sejak Mei 2025. Pemicunya adalah kembalinya penguatan dolar AS, tetapi laju pelemahan tertahan karena pelaku pasar memilih menunggu keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari yang sama. Tidak ada follow-through tajam — pola khas pasar yang menahan posisi besar sebelum katalis resmi keluar. ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan bulan ini, namun tetap mempertahankan bias hawkish menuju kemungkinan kenaikan 25 basis poin pada Desember. Yang membuat sinyal itu kurang mengangkat euro adalah faktor di luar ruang rapat bank sentral.

Level utang Prancis yang terus memburuk dan kebuntuan politik menjelang pemilihan tahun depan menekan persepsi risiko terhadap aset kawasan, sehingga premi risiko politik menutup sebagian dampak positif dari nada hawkish ECB.

Di sisi lain dolar, ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang hawkish dan ketidakpastian geopolitik kembali menarik permintaan terhadap aset safe haven. Kombinasi ini membuat jalur dengan resistensi paling kecil bagi EUR/USD tetap ke bawah. Gambaran teknikal mengonfirmasi bias tersebut. Harga bertahan di bawah Exponential Moving Average 100 periode pada grafik empat jam, dengan Relative Strength Index di kisaran 40,2 yang menandakan momentum penguatan masih tipis. Moving Average Convergence Divergence baru berbalik sedikit positif, belum cukup untuk membalik arah. Tren turun yang terbentuk sekitar dua bulan terakhir masih berlaku, dan penembusan ke bawah zona 1.1115–1.1110 menjadi syarat sebelum posisi bearish diperluas.

Di sisi atas, area 1.1140 dipantau sebagai penanda pembentukan dasar atau kelanjutan pelemahan, dengan hambatan berikutnya di dekat angka bulat 1.1200 dan EMA 100 periode di 1.1215. Selama level terakhir itu belum ditembus secara meyakinkan, tekanan turun belum mereda. Bagi perekonomian Indonesia, jalur transmisinya berjalan lewat dua kanal yang berbeda sifat. Kanal pertama adalah permintaan Eropa: Uni Eropa merupakan pasar tujuan ekspor penting, dan euro yang secara struktural tertekan membuat produk Indonesia terasa lebih mahal bagi pembeli kawasan tersebut. Kanal kedua adalah harga dolar secara luas. Dengan USD/IDR berada di 18.105 dan Brent di US$110,05, kombinasi kurs lemah dan energi tinggi masih menjadi beban ganda bagi struktur biaya impor.

IHSG yang berada di 5.143 setelah turun 2,34%, serta AALI sebagai proksi CPO di 9.450 yang melemah 3,08%, menunjukkan bahwa tekanan sedang dirasakan merata, termasuk pada sektor komoditas yang biasanya menjadi bantalan saat rupiah tertekan.

Mengapa Ini Penting

Pelemahan euro bukan sekadar cerita pasar valas: ia mencerminkan bahwa premi risiko politik Eropa kini ikut menetapkan harga aset, bukan hanya selisih suku bunga. Bagi eksportir Indonesia, ini berarti daya beli pasar tujuan utama melemah pada saat biaya energi dan kurs already menekan margin. Yang diuntungkan justru pihak yang jarang disebut — importir barang modal dan peralatan dari Eropa yang bisa mendapat ruang negosiasi harga lebih lebar bila pelemahan euro ikut tercermin pada EUR/IDR.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir berorientasi Uni Eropa, terutama produk sawit dan barang olahan, menghadapi kombinasi daya beli kawasan yang melemah dan harga jual dalam euro yang secara relatif kurang menguntungkan; tekanan ini datang bersamaan dengan pelemahan AALI sebagai proksi CPO sebesar 3,08%.
  • Importir mesin, peralatan, dan barang modal asal Eropa berpotensi memperoleh harga lebih kompetitif jika depresiasi euro terhadap dolar menular ke EUR/IDR — kanal yang sering terlewat karena perhatian pasar terpusat pada USD/IDR di 18.105.
  • Korporasi domestik dengan eksposur surat utang atau kontrak berdenominasi euro perlu mencermati volatilitas pasangan ini, karena kebuntuan politik Prancis dapat melebarkan spread pendanaan Eropa dan menular ke biaya refinancing pada 3–6 bulan ke depan.
  • Sektor pariwisata dan jasa yang melayani wisatawan Eropa menghadapi tekanan permintaan yang bersifat bertahap, bukan seketika — dampaknya lebih terasa pada musim perjalanan berikutnya dibanding bulan berjalan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil rapat ECB hari ini dan penyebutan eksplisit soal Desember — jika kenaikan 25 bps benar-benar disinyalkan tanpa disertai kejelasan fiskal Prancis, euro berpeluang memantul secara teknikal meski terbatas.
  • Risiko yang perlu dicermati: penembusan zona 1.1115–1.1110 — bila terjadi, tren turun dua bulan terakhir berlanjut dan hambatan berikutnya baru muncul di sekitar 1.1200 dan EMA 100 periode di 1.1215.
  • Sinyal penting: arah indeks dolar broad tertimbang-dagang di 121,32 dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 4,99% — keduanya penentu apakah tekanan terhadap rupiah dan arus modal ke aset domestik mereda atau menguat dalam 7–14 hari ke depan.
  • Yang perlu diawasi: perkembangan politik dan fiskal Prancis menjelang pemilihan tahun depan — eskalasi di jalur ini dapat menekan euro lebih dalam tanpa perlu perubahan suku bunga sama sekali.

Konteks Indonesia

Pelemahan euro terhadap dolar menyentuh Indonesia melalui dua jalur. Pertama, permintaan ekspor: Uni Eropa termasuk pasar tujuan utama produk Indonesia, sehingga euro yang tertekan membuat barang Indonesia terasa lebih mahal bagi pembeli kawasan tersebut. Kedua, harga dolar secara luas — dengan USD/IDR di 18.105 dan Brent di US$110,05, penguatan dolar global menambah tekanan pada biaya impor dan struktur biaya perusahaan domestik. Di pasar saham, IHSG berada di 5.143 setelah turun 2,34% dan AALI sebagai proksi CPO melemah 3,08%, menandakan tekanan berlangsung merata termasuk pada sektor komoditas yang biasanya menjadi penopang saat rupiah tertekan. Pelaku usaha yang mengimpor barang modal dari Eropa berpotensi mendapat harga lebih kompetitif bila depresiasi euro menular ke EUR/IDR, sementara eksportir berdenominasi euro menghadapi tekanan ganda dari sisi volume pesanan dan nilai tukar.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.