27 MEI 2026
Euro Melemah, Dolar Menguat Akibat Ketegangan Hormuz — Tekanan Baru untuk Rupiah dan Biaya Energi Indonesia

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Euro Melemah, Dolar Menguat Akibat Ketegangan Hormuz — Tekanan Baru untuk Rupiah dan Biaya Energi Indonesia
Forex & Crypto

Euro Melemah, Dolar Menguat Akibat Ketegangan Hormuz — Tekanan Baru untuk Rupiah dan Biaya Energi Indonesia

Tim Redaksi Feedberry ·26 Mei 2026 pukul 15.42 · Sumber: FXStreet ↗
8.3 Skor

Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz memicu penguatan dolar dan volatilitas minyak, menekan rupiah yang sudah di level lemah serta memperbesar risiko biaya impor energi dan arus modal keluar Indonesia.

Urgensi
8
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

Euro melemah terhadap dolar AS pada sesi Amerika Utara setelah ketegangan baru di Timur Tengah antara AS dan Iran di dekat Selat Hormuz. EUR/USD diperdagangkan di 1,1622, turun 0,15 persen. Dolar menguat seperti tercermin dalam Dollar Index (DXY) yang naik 0,21 persen ke 99,21. Harga minyak mentah WTI justru turun 2,75 persen ke 94,34 dolar per barel, meredakan kekhawatiran inflasi jangka pendek. Data dari AS menunjukkan Consumer Confidence Conference Board turun ke 93,1 pada Mei, di bawah perkiraan, dengan dua pertiga konsumen mengurangi pengeluaran karena harga tinggi. Faktor pendorong utama pelemahan euro adalah ketegangan geopolitik.

Iran mengungkapkan bahwa AS melanggar gencatan senjata setelah serangan defensif di selatan Iran, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kesepakatan bisa memakan waktu 'beberapa hari'. Ketidakpastian ini mendorong permintaan aset safe haven dolar.

Di sisi lain, pejabat ECB Isabel Schnabel mengatakan bank sentral Eropa harus menaikkan suku bunga pada Juni, meskipun ada risiko resesi. Jajak pendapat Reuters menunjukkan 85 persen ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni, tetapi hati-hati terhadap ekspektasi pasar yang terlalu agresif karena pertumbuhan ekonomi Zona Euro melambat ke 0,8 persen tahunan di Q1-2026 dari 1,3 persen di Q4-2025. Dampak ke Indonesia bersifat langsung dan signifikan. Penguatan dolar AS menekan rupiah; USD/IDR saat ini berada di 17.784, mendekati level terlemahnya dalam satu tahun terakhir. Kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang bertahan di 4,57 persen membuat obligasi pemerintah Indonesia (SBN) kurang kompetitif, berpotensi memicu arus keluar modal asing.

Selain itu, meskipun harga minyak turun sementara, ketegangan di Selat Hormuz — jalur transit sepertiga minyak dunia — meningkatkan risiko lonjakan harga di masa depan. Indonesia sebagai importir minyak netto akan menanggung biaya impor energi yang lebih tinggi, memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan ruang fiskal, terutama melalui subsidi BBM.

Mengapa Ini Penting

Ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya menggerakkan euro dan dolar, tetapi menciptakan ulang tekanan sistemik pada ekonomi Indonesia yang bergantung pada stabilitas harga energi dan nilai tukar. Rupiah yang sudah lemah bisa semakin tertekan, sementara biaya impor energi dan inflasi impor mengancam daya beli serta margin perusahaan. Bagi investor, ini mengubah ekspektasi terhadap timing pelonggaran suku bunga BI dan prospek arus modal asing ke pasar Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Importir dan perusahaan manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya akibat rupiah yang melemah, sementara volatilitas harga minyak menambah ketidakpastian biaya energi dan logistik.
  • Sektor energi domestik seperti emiten hulu migas dan batu bara mungkin mendapat keuntungan jangka pendek dari potensi kenaikan harga minyak, namun penurunan sementara WTI ke 94 dolar per barel bisa menekan margin jika tren berlanjut.
  • Sektor keuangan, terutama perbankan dengan kepemilikan asing di SBN, akan menghadapi tekanan mark-to-market dari kenaikan yield dan potensi outflow. Asuransi dan dana pensiun yang memiliki portofolio obligasi juga terkena dampak.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan negosiasi AS-Iran — jika deadlock berlanjut, harga minyak bisa naik >100 dolar, memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih dalam. Threshold kunci: Brent di atas 100 dolar.
  • Risiko yang perlu dicermati: data inflasi AS (core PCE) minggu ini — jika di atas 2,8% tahunan, ekspektasi pemangkasan Fed semakin mundur, yield US Treasury naik, dan tekanan pada rupiah serta SBN berlanjut.
  • Sinyal penting: respons BI — jika USD/IDR menembus 17.850, BI kemungkinan melakukan intervensi lebih agresif atau memberikan sinyal hawkish. Pergerakan IHSG di bawah 6.000 dapat memicu aksi jual lebih luas.

Konteks Indonesia

Ketegangan di Selat Hormuz secara langsung mempengaruhi Indonesia melalui dua jalur: nilai tukar dan harga energi. Penguatan dolar AS yang dipicu oleh permintaan safe haven menekan rupiah yang sudah berada di level lemah (17.784). Selain itu, meskipun minyak mentah turun sementara, risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz — jalur transit sepertiga minyak dunia — dapat mendorong lonjakan harga impor energi Indonesia. Defisit transaksi berjalan berpotensi melebar dan ruang fiskal untuk subsidi BBM semakin terbatas. Di sisi moneter, BI harus menyeimbangkan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan, dengan inflasi yang masih perlu diwaspadai.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.