4 JUL 2026
EUR/USD Diproyeksi 1,18 di 2026 — Pelemahan Dolar Terbatas, Rupiah Masih Tertekan

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / EUR/USD Diproyeksi 1,18 di 2026 — Pelemahan Dolar Terbatas, Rupiah Masih Tertekan
Forex & Crypto

EUR/USD Diproyeksi 1,18 di 2026 — Pelemahan Dolar Terbatas, Rupiah Masih Tertekan

Tim Redaksi Feedberry ·3 Juli 2026 pukul 18.14 · Sinyal menengah · Sumber: FXStreet ↗
6 Skor

Proyeksi EUR/USD dari bank global ini memperkuat ekspektasi pelemahan dolar jangka menengah, tetapi revisi ke bawah dan risiko politik membatasi potensi kenaikan — artinya tekanan pada rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Data Pasar
Instrumen
EUR/USD
Harga Terkini
1.18 (proyeksi 2026)
Katalis
  • ·Revisi outlook ECB — hanya satu kenaikan suku bunga lagi
  • ·Risiko politik pemilu Prancis dan AS
  • ·Ekspektasi Fed lebih dovish dari pasar

Ringkasan Eksekutif

ABN AMRO merevisi proyeksi EUR/USD dengan menurunkan ekspektasi kenaikan, meskipun masih memperkirakan dolar AS akan melemah secara luas. Bank asal Belanda ini kini memproyeksikan EUR/USD di 1,18 pada akhir 2026 dan 1,23 pada 2027. Revisi ini didorong oleh dua faktor utama: pertama, perubahan outlook kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang kini diperkirakan hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi; kedua, risiko politik dari pemilu di Prancis dan AS yang dapat memicu volatilitas dan menghambat apresiasi euro lebih lanjut. Meski begitu, ABN AMRO tetap yakin dolar AS akan melemah karena Federal Reserve diperkirakan akan lebih dovish dibandingkan pasar saat ini. Dengan kata lain, pasar mungkin telah terlalu agresif dalam memperkirakan sikap hawkish The Fed.

Jika benar terjadi, dolar akan kehilangan sebagian daya tariknya. Namun, revisi ke bawah proyeksi EUR/USD menunjukkan bahwa ruang pelemahan dolar tidak selebar yang diperkirakan sebelumnya. Bagi Indonesia, pergerakan EUR/USD memiliki implikasi melalui dua jalur. Pertama, melalui indeks dolar: jika euro tidak sekuat yang diharapkan, dolar bisa tetap stabil atau bahkan menguat kembali, yang berarti tekanan pada rupiah masih akan berlanjut. Saat ini USD/IDR berada di Rp17.955 — level terlemah dalam satu tahun terakhir. Kedua, melalui sentimen risiko global: ketidakpastian politik di Eropa dan AS dapat memicu risk-off yang mendorong investor keluar dari emerging market, termasuk Indonesia. Data terkini menunjukkan IHSG masih di 5.876 dan yield US 10 tahun di 4,48%, kondisi yang membuat aset emerging market kurang menarik.

Mengapa Ini Penting

Proyeksi dari ABN AMRO ini penting karena memberikan sinyal bahwa pelemahan dolar yang diharapkan banyak pihak mungkin tidak akan sekuat perkiraan awal. Artinya, tekanan terhadap rupiah dan aset emerging market Indonesia bisa bertahan lebih lama dari yang diantisipasi. Bagi importir dan perusahaan dengan utang dolar, situasi ini berarti biaya masih tinggi dan belum ada kelegaan dalam waktu dekat.

Dampak ke Bisnis

  • Importir dan perusahaan dengan utang dalam denominasi dolar AS akan terus menghadapi tekanan biaya yang tinggi selama USD/IDR masih berada di atas Rp17.900.
  • Bank sentral Indonesia (BI) memiliki ruang terbatas untuk melonggarkan kebijakan moneter jika dolar tetap kuat, yang berarti suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan menekan sektor properti serta konsumsi.
  • Investor portofolio asing kemungkinan akan tetap wait-and-see terhadap pasar Indonesia selama ketidakpastian global masih tinggi, sehingga arus modal masuk ke SBN dan IHSG diperkirakan masih terbatas.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil pemilu legislatif Prancis (akhir pekan ini) — jika koalisi ekstrem kanan menang, volatilitas euro bisa meningkat dan menambah ketidakpastian.
  • Risiko yang perlu dicermati: pernyataan pejabat The Fed minggu depan — sinyal hawkish bisa memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih lanjut.
  • Sinyal penting: level EUR/USD 1,18 — jika tembus lebih rendah, dolar bisa kembali perkasa dan memperburuk tekanan di emerging market termasuk Indonesia.

Konteks Indonesia

Pergerakan EUR/USD memengaruhi indeks dolar AS secara langsung. Ketika euro melemah, indeks dolar cenderung naik, yang kemudian menekan mata uang emerging market seperti rupiah. Saat ini rupiah berada di level Rp17.955 per dolar AS, yang merupakan salah satu yang terlemah dalam setahun terakhir. Pelemahan dolar yang terbatas berarti tekanan pada rupiah belum akan reda, sehingga BI harus tetap waspada dan menjaga stabilitas nilai tukar. Selain itu, ketidakpastian politik di Eropa dan AS dapat mendorong investor global beralih ke aset safe haven, mengurangi minat terhadap aset berisiko termasuk obligasi dan saham Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.