14 JUN 2026
Ethereum Uji Quantum-Proof Biaya 7 Sen, 10% Suplai Bitcoin Berisiko

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Ethereum Uji Quantum-Proof Biaya 7 Sen, 10% Suplai Bitcoin Berisiko
Forex & Crypto

Ethereum Uji Quantum-Proof Biaya 7 Sen, 10% Suplai Bitcoin Berisiko

Tim Redaksi Feedberry ·14 Juni 2026 pukul 13.49 · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Ancaman quantum computing belum segera, tapi langkah Ethereum menunjukkan kesenjangan kesiapan aset kripto utama; berdampak pada sentimen investor global dan risiko jangka panjang bagi pemegang Bitcoin termasuk di Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Proposal SPHINCS- dari tim Kohaku Ethereum bertujuan menekan biaya verifikasi tanda tangan pasca-kuantum hingga hanya 7 sen per transaksi.

Langkah ini merupakan bagian dari persiapan Ethereum menghadapi era komputasi kuantum yang diprediksi dapat memecahkan kriptografi kurva eliptik yang saat ini diamankan Bitcoin dan Ethereum. Dalam laporan terpisah, Glassnode mengidentifikasi bahwa sekitar 1,92 juta Bitcoin (hampir 10% dari total suplai) tergolong 'structurally unsafe' dalam skenario serangan kuantum, karena kunci publiknya telah terekspos. Tambahan 4,12 juta BTC (20,6%) masuk kategori 'operationally unsafe' akibat praktik manajemen kunci. Sementara itu, 69,8% suplai Bitcoin (13,99 juta BTC) dinilai masih aman, sejalan dengan perkiraan Ark Invest pada Maret lalu.

Selain itu, bulan April lalu startup Project Eleven berhasil memecahkan kunci kurva eliptik 15-bit menggunakan komputer kuantum varian algoritma Shor — meski masih jauh dari 256-bit milik Bitcoin, kemajuan ini menegaskan bahwa ancaman quantum tidak lagi sekadar teori. Dari sisi domestik, Indonesia memiliki basis investor kripto ritel yang cukup aktif, terutama di aset Bitcoin dan Ethereum. Berita ini berpotensi memicu kekhawatiran di kalangan pemegang jangka panjang yang mungkin mulai mempertanyakan keamanan aset mereka di masa depan. Meski dampak langsung ke ekonomi riil masih minimal, sentimen negatif bisa menekan volume perdagangan di bursa kripto lokal dan memengaruhi minat terhadap aset digital secara umum. Regulator seperti Bappebti dan OJK juga mulai memberi perhatian pada risiko teknologi, termasuk potensi gangguan dari quantum computing.

Mengapa Ini Penting

Berita ini mengungkap kesenjangan kesiapan antara dua aset kripto terbesar menghadapi ancaman eksistensial. Ethereum mengambil langkah konkret dengan proposal biaya rendah, sementara Bitcoin masih bergantung pada asumsi bahwa teknologi quantum belum matang. Jika persepsi pasar berubah, Bitcoin bisa kehilangan statusnya sebagai penyimpan nilai paling aman, memicu pergeseran aliran modal ke aset yang lebih siap quantum — termasuk Ethereum, solusi layer-2, atau bahkan aset tradisional. Bagi investor Indonesia yang mayoritas memegang Bitcoin, risiko ini memerlukan kesadaran jangka panjang meski belum mendesak.

Dampak ke Bisnis

  • Sentimen investor kripto global: Ethereum dipersepsikan lebih adaptif dan aman jangka panjang, berpotensi menarik aliran modal dari Bitcoin terutama dari investor institusi yang sensitif terhadap risiko teknologi.
  • Risiko bagi pemegang Bitcoin: sekitar 30% suplai Bitcoin dianggap tidak aman secara struktural atau operasional. Jika ancaman quantum semakin nyata, pemegang besar (whale) bisa melakukan aksi jual preventif, menekan harga.
  • Implikasi untuk ekosistem kripto Indonesia: exchange lokal perlu mulai mengedukasi pengguna tentang keamanan kunci pasca-kuantum dan berkoordinasi dengan regulator untuk standar alamat baru. Startup blockchain berbasis Ethereum di Indonesia bisa mendapat angin segar dari sentimen positif terhadap protokol ini.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons komunitas Ethereum — apakah proposal SPHINCS- diadopsi di mainnet dan dijadwalkan untuk upgrade jaringan; jika ya, Ethereum akan menjadi blockchain besar pertama yang memiliki fitur quantum-proof.
  • Risiko yang perlu dicermati: terobosan quantum computing — jika ada riset yang berhasil memecahkan kunci 256-bit, ETF Bitcoin global (termasuk yang mungkin masuk ke Indonesia) bisa mengalami outflow besar.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Bitcoin Core atau pengembang utama tentang peta jalan post-quantum — jika tidak ada tanggapan dalam 6 bulan ke depan, pasar bisa mulai mendiskon risiko Bitcoin.

Konteks Indonesia

Meskipun dampak langsung ke ekonomi Indonesia masih terbatas, berita ini penting bagi investor kripto ritel yang diperkirakan mencapai lebih dari 15 juta orang. Exchange lokal seperti Indodax dan Tokocrypto perlu mengantisipasi potensi kekhawatiran dengan menyediakan informasi tentang keamanan post-quantum. Regulator Bappebti dan OJK dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kerangka regulasi aset digital, terutama yang menyangkut perlindungan konsumen dari risiko teknologi masa depan. Dalam jangka panjang, jika quantum computing mengancam keamanan aset digital secara fundamental, Indonesia sebagai negara dengan adopsi kripto ritel yang tinggi harus bersiap untuk transisi ke standar kriptografi baru yang lebih aman.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.