Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
ETH Terancam ke $1.000 — Open Interest Turun 25%, Sentimen Kripto Meredup
Ancaman breakdown ETH ke $1.000 memperkuat sinyal risk-off kripto global, yang berpotensi menular ke saham teknologi IHSG dan menekan rupiah — namun dampak langsung ke ekonomi riil masih terbatas.
Ringkasan Eksekutif
Ether (ETH) menghadapi tekanan jual signifikan setelah open interest futures turun 25% secara agregat. Data dari CryptoQuant menunjukkan open interest di Gate.io anjlok 45% dari $4,84 miliar pada 7 Mei menjadi $2,68 miliar pada 9 Juni. Bybit mencatat penurunan serupa, dengan OI mendekati $805 juta, tidak jauh dari level $795 juta pada awal April 2025. Namun, Binance menunjukkan gambaran berbeda: open interest bertahan di $2,76 miliar, tetapi funding rate berbalik negatif ke -0,0047, menunjukkan trader short membayar premium untuk mempertahankan posisi. Divergensi antar bursa mengindikasikan bahwa meski leverage di beberapa platform sudah terkoreksi, sentimen bearish masih dominan. Dari sisi pasokan, cadangan ETH di bursa utama (Binance, OKX, Gemini, Bitfinex) turun 480.000 ETH dalam beberapa hari pertama Juni.
Penurunan ini dapat mengurangi pasokan yang tersedia untuk dijual jika permintaan pulih, namun dalam konteks tekanan saat ini, arus keluar lebih mencerminkan kepindahan ke cold storage atau aksi jual. Sementara itu, data onchain menunjukkan hanya 11% pasokan ETH yang berada dalam posisi untung 3x atau lebih — level terendah sejak Februari 2017, menurut analis Gonza Goth. Ini menandakan mayoritas holder ETH saat ini berada dalam posisi rugi atau minim profit, yang secara historis sering menjadi zona akumulasi pada siklus sebelumnya. Secara teknikal, level $1.500 menjadi support kunci yang diawasi. Analis Ash Crypto mengingatkan pola 2022 ketika ETH kehilangan semua support dan akhirnya bottom di dekat $880. Jika support $1.500 jebol, target berikutnya berada di area $1.000.
Pasar derivatif akan menjadi penentu: apakah likuidasi panjang lebih lanjut akan mempercepat penurunan, atau akumulasi dari trader kontrarian akan menahan laju koreksi. Bagi Indonesia, pelemahan ETH dan kripto secara umum merupakan barometer risk appetite global. Investor ritel Indonesia yang aktif di bursa lokal seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu berpotensi mengalami kerugian nilai portofolio dan penurunan volume transaksi. Tekanan jual di aset kripto juga kerap diikuti pelemahan saham teknologi di IHSG, mengingat korelasi sentimen risk-on/risk-off. Namun, dampak ke ekonomi riil masih terbatas karena pasar kripto Indonesia belum terintegrasi secara sistemik. Regulator OJK dan Bappebti perlu mencermati potensi lonjakan aktivitas trading saat volatilitas tinggi, sekaligus menjaga kepastian hukum bagi exchange yang patuh.
Dalam 2–4 minggu ke depan, level $1.500 ETH menjadi sinyal kunci. Jika bertahan, potensi relief rally bisa memicu pemulihan sentimen. Jika jebol, koreksi menuju $1.000 dapat memperkuat gelombang risk-off global yang juga menekan IHSG dan rupiah. Perkembangan regulasi kripto AS — terutama tindak lanjut persetujuan CFTC terhadap perpetual futures — serta respons Bappebti terhadap platform derivatif terdesentralisasi seperti Hyperliquid akan menjadi faktor tambahan yang memengaruhi arah pasar.
Mengapa Ini Penting
Penurunan open interest ETH dan ancaman breakdown ke $1.000 merupakan sinyal risk-off yang nyata di pasar kripto global. Bagi Indonesia, ini bisa memicu aksi jual di saham teknologi IHSG dan menekan rupiah melalui capital outflow. Lebih penting lagi, koreksi ETH menguji ketahanan investor ritel Indonesia yang mendominasi pasar kripto lokal, sekaligus memberikan tekanan pada regulator untuk mempercepat penyusunan kerangka perlindungan investor.
Dampak ke Bisnis
- Bursa kripto lokal (Pintu, Tokocrypto, Indodax) berpotensi mengalami penurunan volume perdagangan dan nilai aset yang dikelola, yang berdampak pada pendapatan dari biaya transaksi. Jika koreksi berlangsung lama, minat investor ritel bisa surut.
- Emiten yang terkait dengan ekosistem kripto atau blockchain, seperti GOTO (lewat GoPay) atau perusahaan yang mengadopsi aset digital, akan terpengaruh sentimen negatif. Saham teknologi di IHSG yang sensitif terhadap risk appetite bisa ikut terkoreksi.
- Volatilitas kripto yang tinggi dapat mendorong regulator (Bappebti/OJK) untuk memperketat aturan perlindungan konsumen, termasuk batasan leverage atau kewajiban disclosure risiko. Hal ini bisa meningkatkan biaya kepatuhan bagi exchange lokal.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: level support ETH di $1.500 — jika ditutup mingguan di bawahnya, target $1.000 menjadi probabilitas tinggi dan gelombang likuidasi panjang dapat mempercepat koreksi.
- Risiko yang perlu dicermati: aksi jual simultan di Bitcoin dan altcoin lain — jika Bitcoin kehilangan support 50-month EMA di $66.628, sentimen risk-off global bisa meluas dan menekan IHSG serta rupiah lebih dalam.
- Sinyal penting: perubahan funding rate di Binance — jika tetap negatif meski harga menguat, itu menandakan tekanan short masih dominan. Sebaliknya, funding rate positif bisa menjadi indikasi awal pembalikan sentimen.
Konteks Indonesia
Sebagai pasar kripto ritel yang aktif, Indonesia akan merasakan dampak sentimen risk-off global melalui penurunan harga aset kripto di bursa lokal seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu. Aksi jual aset berisiko dapat menekan IHSG, terutama saham teknologi dan perbankan yang sensitif terhadap capital flow. Pelemahan kripto juga memperkuat tekanan pada rupiah, mengingat korelasi antara risk appetite dan nilai tukar. Perkembangan ini menjadi perhatian bagi OJK dan Bappebti yang tengah menyusun regulasi aset digital yang lebih komprehensif, termasuk kemungkinan pembatasan leverage atau produk derivatif kripto.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.