28 JUL 2026
ESG Bank Mandiri: Livin' Planet Tanam 2.309 Mangrove, Serap 40 Ton CO2

Foto: IDXChannel — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / ESG Bank Mandiri: Livin' Planet Tanam 2.309 Mangrove, Serap 40 Ton CO2
Korporasi

ESG Bank Mandiri: Livin' Planet Tanam 2.309 Mangrove, Serap 40 Ton CO2

Tim Redaksi Feedberry ·28 Juli 2026 pukul 08.00 · Sinyal menengah · Sumber: IDXChannel ↗
5.7 Skor

Urgensi rendah karena bukan krisis, namun dampak jangka panjang tinggi terhadap daya saing perbankan dan kredibilitas ESG Indonesia di mata investor global.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Bank Mandiri memperkuat komitmen ESG melalui fitur Livin' Planet pada aplikasi Livin' by Mandiri. Hingga 22 Juli 2026, program ini berhasil mengumpulkan kontribusi nasabah ritel untuk penanaman 2.697 batang pohon dengan serapan emisi tercatat 64,29 ton CO2e. Mangrove menjadi komponen dominan: sebanyak 2.309 batang, setara 40,26 ton CO2e, atau sekitar 63 persen dari total serapan program. Setiap bibit ditanam dan dipantau bersama mitra konservasi, dengan serapan emisi dihitung mengacu pada standar Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Senior Vice President ESG Group Bank Mandiri Monica Yoanita Octavia menegaskan bahwa akuntabilitas merupakan bagian dari cara Bank Mandiri menjalankan komitmen keberlanjutan.

Program ini berlangsung di tengah fakta bahwa Indonesia memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia: 3,45 juta hektar berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025, mencakup sekitar 20 persen ekosistem mangrove global. Namun sepanjang 1980 hingga 2025, Indonesia kehilangan sekitar 1,3 juta hektar mangrove (31 persen) akibat alih fungsi lahan, abrasi, dan degradasi. Pemerintah telah menetapkan rehabilitasi mangrove sebagai agenda strategis nasional untuk mendukung pencapaian Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Bank Mandiri, melalui Livin' Planet, mengambil peran dalam agenda tersebut. Yang tidak terlihat dari pengumuman ini adalah dimensi strategis di balik aktivitas CSR.

Program mangrove yang terukur secara ilmiah berpotensi menjadi aset karbon alami yang suatu saat dapat dimonetisasi melalui perdagangan karbon sukarela atau dijadikan jaminan untuk green financing. Di tengah tekanan rupiah yang masih tinggi (USD/IDR 18.075 berdasarkan data pasar terkini) dan suku bunga acuan yang masih elevated, perbankan BUMN mulai berusaha menurunkan biaya pendanaan melalui peningkatan ESG rating. Bank dengan skor ESG tinggi cenderung memperoleh bunga lebih rendah saat menerbitkan obligasi hijau atau memperoleh pinjaman sindikasi berkelanjutan. Program Livin' Planet, meskipun saat ini masih berskala kecil (2.697 batang), merupakan batu loncatan untuk membangun kredibilitas di mata investor institusi asing yang semakin mementingkan jejak lingkungan. Dampak langsung terhadap laba Bank Mandiri belum terlihat dalam jangka pendek.

Namun, dalam jangka panjang, inisiatif ini dapat memperkuat posisi bank di tengah persaingan perbankan nasional yang juga aktif di ESG, seperti BNI yang telah menanam 258.000 mangrove selama delapan tahun.

Mengapa Ini Penting

Program ini mengirimkan sinyal penting: Bank Mandiri secara serius membangun diferensiasi ESG di tengah tekanan margin perbankan dan persaingan ketat. Jika dijalankan secara konsisten dan terukur, Livin' Planet berpotensi menurunkan biaya pendanaan bank melalui penerbitan obligasi hijau atau pinjaman berbasis keberlanjutan. Ini juga menunjukkan bahwa perbankan BUMN mulai mengintegrasikan aset karbon alami ke dalam strategi jangka panjang, yang bisa menjadi model bagi sektor keuangan lain di Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Bank Mandiri memperkuat daya saing di mata investor internasional yang semakin mementingkan ESG. Skor ESG yang lebih baik dapat menekan biaya pendanaan, baik melalui green bond maupun pinjaman sindikasi, di tengah suku bunga acuan yang masih tinggi.
  • Program mangrove yang terukur berpotensi menjadi aset karbon yang dapat dimonetisasi di masa depan. Jika Indonesia mengembangkan bursa karbon yang kredibel, bank dengan inventarisasi karbon yang jelas akan diuntungkan.
  • Dampak tidak langsung terhadap sektor riil: rehabilitasi mangrove dapat mengurangi risiko bencana pesisir yang mengancam bisnis pariwisata dan perikanan, sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau di komunitas sekitar lokasi penanaman.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: apakah Bank Mandiri akan mengintegrasikan program Livin' Planet dengan bursa karbon sukarela atau menjalin kemitraan dengan BPDLH dalam 1-2 bulan ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: validitas serapan karbon jangka panjang. Jika mangrove tidak tumbuh optimal atau perhitungan emisi dipertanyakan, program bisa kehilangan kredibilitas dan berpotensi ditinggalkan investor.
  • Sinyal penting: publikasi laporan ESG tahunan Bank Mandiri—peningkatan skor dari lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI atau Sustainalytics akan menjadi konfirmasi bahwa inisiatif ini diakui secara global.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.