8 JUL 2026
Ekspor Listrik RI-Singapura: Biaya Rp14,8-31,3 T, Harga Belum Sepakat

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Ekspor Listrik RI-Singapura: Biaya Rp14,8-31,3 T, Harga Belum Sepakat
Korporasi

Ekspor Listrik RI-Singapura: Biaya Rp14,8-31,3 T, Harga Belum Sepakat

Tim Redaksi Feedberry ·8 Juli 2026 pukul 07.52 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
7.3 Skor

Proyek strategis dengan estimasi investasi besar, negosiasi harga masih berlangsung, berpotensi menjadi sumber devisa baru dan memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi ASEAN.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Indonesia memiliki jalur terpendek untuk ekspor listrik ke Singapura dibandingkan proyek dari Kamboja (sekitar 1.000 km) dan Australia (4.300 km). Kabel bawah laut dari Kepulauan Riau hanya membentang sekitar 50 kilometer. Berdasarkan data Neo Market Data, biaya pembangunan kabel bawah laut berteknologi HVDC diperkirakan sekitar €100–250 juta atau Rp2–5,1 triliun untuk kabel saja, tergantung pada kedalaman laut, kondisi dasar laut, dan harga tembaga. Komponen termahal adalah dua stasiun konverter di kedua ujung jaringan, dengan estimasi €600 juta–1,2 miliar atau sekitar Rp12,3–24,6 triliun. Biaya pemasangan dan logistik diperkirakan 20–30% dari biaya kabel, atau sekitar €20–75 juta. Total investasi proyek ini diperkirakan mencapai €720 juta–1,53 miliar, setara Rp14,8–31,3 triliun.

Singapura telah memberikan izin bersyarat kepada enam proyek dari Indonesia, satu langkah lagi menuju izin impor. Namun, negosiasi harga jual listrik masih berlangsung. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan harga yang diajukan belum saling menguntungkan. Presiden Prabowo telah menunjuk BPI Danantara sebagai koordinator proyek, bekerja sama dengan perusahaan energi Singapura seperti Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections. Kapasitas pembangkitan ditargetkan mencapai 3,4 GW secara bertahap, dimulai dengan 600–1.200 MW pada fase awal. Proyek ini tidak berdiri sendiri. Dalam pertemuan Leaders' Retreat, juga ditandatangani nota kesepahaman kredit karbon yang membuka jalur devisa baru di tengah defisit APBN yang mencapai Rp240 triliun hingga Maret 2026.

Rupiah yang berada di level Rp18.005 per dolar AS menunjukkan tekanan eksternal masih tinggi, sehingga ekspor listrik dapat menjadi sumber devisa stabil yang membantu mengimbangi defisit transaksi berjalan. Dampak langsung akan terasa di sektor energi terbarukan di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun. Perusahaan konstruksi transmisi bawah laut dan penyedia komponen konverter berpotensi mendapatkan kontrak besar. Perluasan Kendal Industrial Park seluas 1.000 hektare juga akan menambah permintaan kawasan industri, menguntungkan emiten properti industri.

Di sisi lain, kebuntuan negosiasi harga dapat menghambat realisasi investasi dan menurunkan kredibilitas Indonesia sebagai mitra energi regional.

Mengapa Ini Penting

Proyek ini bukan sekadar infrastruktur energi, melainkan uji kredibilitas Indonesia sebagai mitra transisi energi ASEAN di tengah tekanan fiskal dan eksternal. Keberhasilannya akan membuka sumber devisa baru yang stabil, membantu menopang rupiah yang terdepresiasi, dan menciptakan rantai pasok hijau yang terintegrasi dengan Singapura. Kegagalan justru akan memperkuat persepsi risiko investasi Indonesia di sektor energi dan memperlambat arus modal asing.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan energi terbarukan dan pengelola kawasan industri di Batam, Bintan, Karimun akan menjadi pemain utama. Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections sudah terlibat, membuka peluang joint venture atau kontrak jangka panjang bagi mitra lokal.
  • Sektor konstruksi transmisi bawah laut dan penyedia komponen HVDC (kabel, konverter) berpotensi mendapatkan kontrak bernilai triliunan rupiah. Emiten seperti yang bergerak di infrastruktur kelistrikan dan logistik maritim bisa terdampak langsung.
  • Perluasan Kendal Industrial Park seluas 1.000 hektare meningkatkan permintaan lahan industri, menguntungkan emiten properti industri seperti Jababeka. Dampak ini akan terasa dalam 1-2 tahun setelah kesepakatan harga tercapai.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan negosiasi harga jual listrik antara Danantara dan perusahaan Singapura. Jika tercapai dalam 1-2 bulan, proyek bisa memasuki tahap pengadaan kontraktor dan konstruksi.
  • Risiko yang perlu dicermati: kebuntuan negosiasi yang berkepanjangan dapat menurunkan minat investasi asing di sektor energi Indonesia dan memperkuat tekanan pada neraca pembayaran.
  • Sinyal penting: pengumuman proyek percontohan pembangkit di BBK oleh Danantara. Jika ada detail teknis dan jadwal pengerjaan, itu menjadi indikator komitmen nyata pemerintah.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.