22 JUL 2026
Ekspor Listrik RI ke Singapura Digodok – Bahlil Tekankan Harga Adil
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Ekspor Listrik RI ke Singapura Digodok – Bahlil Tekankan Harga Adil
Kebijakan

Ekspor Listrik RI ke Singapura Digodok – Bahlil Tekankan Harga Adil

Tim Redaksi Feedberry ·11 Mei 2026 pukul 13.56 · Sinyal tinggi · Sumber: Kontan ↗
6 Skor

Wacana ekspor listrik masih dalam tahap negosiasi awal, namun berpotensi memperkuat posisi energi Indonesia di ASEAN dan memperbaiki neraca perdagangan jika terealisasi.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Wacana Ekspor Listrik ke Singapura
Penerbit
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Perubahan Kunci
  • ·Pemerintah membuka peluang ekspor listrik ke Singapura untuk memperkuat jaringan power grid ASEAN.
  • ·Menteri ESDM menekankan prinsip keadilan harga (“cengli”) dan perlunya kajian mendalam sebelum kesepakatan.
Pihak Terdampak
PLN (Persero) sebagai operator dan penjual listrikPemerintah Singapura dan perusahaan listrik setempat (SP Group)Investor energi terbarukan dan pembangkit listrik di IndonesiaKementerian Keuangan – terkait dampak terhadap APBN dan devisa

Ringkasan Eksekutif

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pemerintah Indonesia membuka peluang ekspor listrik ke Singapura sebagai bagian dari penguatan jaringan power grid ASEAN. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada Senin (11/5), menekankan bahwa kerja sama harus berlandaskan prinsip keadilan harga atau yang disebutnya “cengli”. Bahlil mencontohkan model impor listrik dari Malaysia melalui PLTA di Kalimantan yang dinilai saling menguntungkan sebagai acuan ideal. Indonesia selama ini mengimpor listrik dari Malaysia untuk wilayah Kalimantan, dan sekarang ingin membalikkan arah dengan menjadi pengekspor ke Singapura. Meski menyatakan kesiapan memenuhi permintaan, Bahlil menegaskan bahwa nilai ekonomi atau harga jual tidak boleh merugikan Indonesia dan perlu kajian mendalam.

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Di tengah tekanan fiskal yang makin nyata—defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun hingga Maret 2026—ekspor listrik dapat menjadi sumber devisa baru yang membantu memperbaiki keseimbangan primer yang saat ini negatif Rp95,8 triliun. Dengan rupiah yang tertekan di level Rp17.904 per dolar AS dan beban subsidi energi yang membengkak, tambahan pendapatan dari ekspor listrik bisa menjadi pelega kecil bagi APBN. Yang tidak terlihat dari headline adalah implikasi geopolitik dan industri. Permintaan listrik global diproyeksikan melonjak seiring pertumbuhan data center dan kecerdasan buatan. Jika Indonesia mampu menyediakan listrik berbasis energi terbarukan (seperti PLTA dari Kalimantan), posisi tawar dalam negosiasi dengan Singapura bisa lebih kuat. Namun, tantangan infrastruktur interkoneksi lintas batas masih menjadi hambatan teknis.

Indonesia juga harus memastikan bahwa ekspor tidak mengorbankan pasokan domestik, mengingat elektrifikasi di dalam negeri belum merata. Ke depan, kesepakatan harga menjadi titik kritis. Bahlil menyebut perlunya “kajian lebih mendalam” untuk mencapai win-win.

Mengapa Ini Penting

Jika terealisasi, ekspor listrik ke Singapura akan menjadi tonggak baru dalam integrasi energi ASEAN dan membuka aliran devisa baru bagi Indonesia. Ini juga bisa menjadi katalis bagi investasi di sektor energi terbarukan dan infrastruktur kelistrikan. Sebaliknya, jika harga tidak adil atau negosiasi gagal, Indonesia kehilangan peluang strategis untuk memperkuat posisi tawar energi di kawasan.

Dampak ke Bisnis

  • PLN dan IPP: Berpotensi mendapat tambahan pendapatan dari kontrak ekspor. Namun, jika pasokan listrik dalam negeri terbatas, ekspor bisa mengganggu keandalan sistem domestik dan memicu kenaikan biaya operasional.
  • Sektor konstruksi dan infrastruktur: Pembangunan interkoneksi listrik lintas batas (kabel laut, gardu) akan membuka peluang kontrak baru bagi kontraktor dan penyedia peralatan listrik.
  • Emiten energi terbarukan: Jika ekspor berasal dari PLTA atau PLTS, proyek pembangkit baru bisa dipercepat, menguntungkan perusahaan seperti Medco Power atau anak usaha BUMN yang bergerak di EBT.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil kajian Kementerian ESDM mengenai harga jual listrik – jika harga di bawah biaya pokok, maka ekspor justru membebani PLN dan keuangan negara.
  • Risiko yang perlu dicermati: ketersediaan pasokan listrik domestik – jika daya cadang tipis, ekspor dapat memicu pemadaman atau kenaikan tarif listrik bagi konsumen dalam negeri.
  • Sinyal penting: respons resmi dari pemerintah Singapura dan SP Group – apakah mereka bersedia membayar harga yang diminta Indonesia atau justru mencari alternatif lain seperti dari Malaysia atau Laos.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.