27 JUN 2026
Eks Terapis Jadi Penjual Jamu – UMKM Naik Kelas via BUMN BRI

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / UMKM / Eks Terapis Jadi Penjual Jamu – UMKM Naik Kelas via BUMN BRI
UMKM

Eks Terapis Jadi Penjual Jamu – UMKM Naik Kelas via BUMN BRI

Tim Redaksi Feedberry ·26 Juni 2026 pukul 16.20 · Sinyal rendah · Sumber: Detik Finance ↗
4.3 Skor

Kisah individu UMKM ini mencerminkan pola keberhasilan pendampingan korporasi yang bisa direplikasi secara luas, meski dampak langsungnya terbatas pada sektor tertentu.

Urgensi
3
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Nurhaeda (51), mantan terapis spa di Ciracas, Jakarta Timur, sukses banting setir menjadi produsen jamu rempah setelah bisnis home spa-nya terpukul pandemi COVID-19. Pada 2020, saat wilayahnya menjadi zona merah, ia mulai menerima tantangan dari tetangga untuk membuat jamu imun. Modal awal Rp100 ribu digunakan membeli rempah dan botol kemasan, kemudian berkembang menjadi Rp300 ribu. Produksi awal 50 botol ukuran 250 ml dengan harga Rp15 ribu per botol, dijajakan door to door karena pembatasan sosial. Kini, usahanya yang diberi nama Jamu Haeda memiliki beragam varian — kunyit asam, kunyit temulawak, empon-empon, beras kencur, bir pletok, wedang jahe — dengan varian kunyit asam, bir pletok, dan empon-empon sebagai paling laris.

Perkembangan signifikan terjadi setelah ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI, sebuah program pembinaan UMKM milik BRI. Melalui pelatihan digital marketing yang difasilitasi program tersebut, Haeda mampu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan omzet secara bertahap. Kisah ini bukan sekadar inspirasi individu. Ia menunjukkan pola yang konsisten dengan temuan dari artikel terkait — seperti kisah I Wayan Sutama yang membangkitkan bengkelnya melalui binaan Yayasan Astra, atau program PNM Mekaar yang memberdayakan perempuan ultra mikro di Lampung. Semua contoh ini menegaskan bahwa intervensi non-finansial — pelatihan, pendampingan, akses jejaring — seringkali menjadi katalis pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dibandingkan sekadar suntikan modal. Dari sisi konteks makro, kisah Haeda berlangsung di tengah tekanan ekonomi yang nyata.

Inflasi yang masih di atas target, daya beli kelas menengah bawah yang tergerus, serta defisit APBN yang melebar menjadi latar belakang yang menekan sektor UMKM secara umum. Namun, Haeda justru mampu bertahan dan tumbuh, menunjukkan bahwa UMKM dengan fondasi manajerial yang kuat dan akses ke program pembinaan lebih tangguh menghadapi guncangan eksternal.

Mengapa Ini Penting

Kisah Haeda menyoroti satu titik buta dalam diskursus UMKM nasional: bahwa akses ke modal bukanlah satu-satunya — bahkan bukan yang utama — penentu keberhasilan. Pelatihan sistematis dan pendampingan berkelanjutan, seperti yang disediakan Rumah BUMN BRI, ternyata mampu mengubah usaha mikro yang bertahan hidup menjadi usaha yang tumbuh. Ini menggeser fokus kebijakan dari sekadar penyaluran KUR ke pembangunan kapasitas — sebuah pergeseran yang jika diadopsi secara luas bisa mengubah struktur ekonomi akar rumput Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi BRI dan BUMN lain: program Rumah BUMN menjadi model bisnis sosial yang dapat diperluas — berpotensi meningkatkan loyalitas nasabah UMKM sekaligus menurunkan risiko kredit karena nasabah lebih terdidik secara bisnis.
  • Bagi pelaku UMKM sejenis: kisah ini membuktikan bahwa pandemi dapat menjadi titik balik positif jika diikuti dengan adaptasi produk dan pemanfaatan program pembinaan korporasi — tantangannya adalah akses ke informasi tentang program tersebut masih terbatas di daerah.
  • Bagi perusahaan yang menggantungkan rantai pasok pada UMKM: stabilitas dan pertumbuhan UMKM binaan seperti Haeda berarti pasokan bahan baku atau distribusi yang lebih andal di tengah tekanan makro, karena UMKM tersebut memiliki manajemen yang lebih solid.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perluasan jangkauan Rumah BUMN BRI ke daerah tertinggal — jika program ini menjangkau lebih banyak kecamatan, potensi replikasi model Haeda akan semakin besar.
  • Risiko yang perlu dicermati: kualitas pendampingan di tengah tekanan efisiensi BRI — jika program dipangkas atau dialihkan fokus, ekosistem UMKM binaan bisa kehilangan momentum.
  • Sinyal penting: rasio NPL segmen mikro BRI pada kuartal II-2026 — jika NPL tetap terjaga di bawah 3%, model pendampingan seperti Rumah BUMN terbukti efektif mengurangi risiko kredit dan layak direplikasi oleh bank lain.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.