6 SEP 2026
Eks Pegawai NCS Hapus 180 Server, Rugi Rp16 Miliar

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Eks Pegawai NCS Hapus 180 Server, Rugi Rp16 Miliar
Teknologi

Eks Pegawai NCS Hapus 180 Server, Rugi Rp16 Miliar

Tim Redaksi Feedberry ·6 September 2026 pukul 14.00 · Sinyal rendah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6 Skor

Ancaman insider threat akibat PHK menjadi peringatan nyata bagi perusahaan digital di Indonesia yang kerap abai terhadap pencabutan akses mantan karyawan.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Seorang mantan karyawan NCS, Kandula Nagaraju, dijatuhi hukuman dua tahun delapan bulan penjara setelah menghapus 180 server virtual milik perusahaan teknologi asal Singapura tersebut. Aksi yang dipicu sakit hati karena pemutusan kontrak pada Oktober 2022 ini menimbulkan kerugian sekitar S$918 ribu atau setara Rp16,19 miliar menggunakan kurs Rp17.630. Nagaraju mengaku tidak terima karena merasa telah bekerja dengan baik, padahal perusahaan menilai kinerjanya buruk. Setelah kontrak berakhir, ia justru memanfaatkan kredensial administrator yang masih aktif untuk masuk ke sistem QA NCS dari India. Celah yang dieksploitasi bukanlah kelemahan sistem keamanan yang canggih, melainkan kelalaian tata kelola akses.

Sepanjang Januari hingga Maret 2023, Nagaraju tercatat mengakses sistem secara ilegal puluhan kali — enam kali pada Januari, satu kali pada 23 Februari, dan 13 kali pada Maret. Ia bahkan sempat menulis skrip untuk menguji apakah perintah penghapusan server bisa dieksekusi. NCS menyatakan server yang dihapus adalah lingkungan pengujian mandiri yang tidak menyimpan informasi sensitif, namun kerugian finansial tetap terjadi karena infrastruktur virtual harus dipulihkan dan proses pengujian perangkat lunak perusahaan ikut terganggu. Kasus ini juga menyeret reputasi NCS sebagai penyedia layanan teknologi yang seharusnya menjadi garda depan keamanan siber. Dimensi yang luput dari headline: ancaman siber tidak selalu datang dari peretas eksternal, melainkan dari orang dalam yang kecewa.

Karyawan yang dipecat, terutama yang merasa diperlakukan tidak adil, memiliki motivasi dan pengetahuan internal untuk melakukan sabotase. Dalam lingkungan bisnis Indonesia yang sedang menghadapi tekanan efisiensi, gelombang PHK di sektor teknologi, perbankan, dan startup dapat meninggalkan banyak akun karyawan yang belum dicabut aksesnya. Risiko ini tidak hanya menimpa korporasi besar — UMKM yang mengandalkan platform digital atau penyimpanan cloud juga bisa dirugikan jika mantan karyawan masih memiliki kredensial login. Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya teknologi, tetapi proses dan budaya perusahaan. Pencabutan akses sistem harus dilakukan bersamaan dengan hari terakhir kerja, bukan menunggu administrasi selesai. Kredensial yang pernah digunakan karyawan yang keluar sebaiknya dirotasi secara berkala, dan aktivitas anomali dari akun nonaktif harus dipantau setidaknya beberapa bulan ke depan.

Bagi perusahaan yang sedang melakukan PHK massal atau restrukturisasi, kasus Nagaraju adalah pengingat bahwa biaya keamanan yang tampak 'tidak perlu' jauh lebih murah dibandingkan kerugian operasional yang muncul dari satu orang yang sakit hati.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini mengubah cara pandang tentang risiko keamanan digital: bukan soal firewall atau enkripsi, tetapi soal manajemen akses dan hubungan industrial yang gagal. Setiap PHK yang tidak diikuti pencabutan akses menyisakan potensi sabotase senilai miliaran rupiah. Isu ini menjadi lebih relevan karena banyak perusahaan Indonesia tengah menjalankan efisiensi dan perampingan — semakin besar jumlah karyawan yang keluar, semakin besar pula permukaan serangan yang terbuka.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan teknologi dan perbankan di Indonesia harus mengevaluasi ulang prosedur offboarding — keterlambatan mencabut akses admin dapat membuat server produksi atau data pelanggan terhapus, tidak hanya server pengujian seperti di kasus NCS.
  • Emiten yang sedang melakukan PHK atau restrukturisasi menghadapi risiko internal yang jarang masuk kalkulasi biaya: sabotase oleh mantan karyawan. Dampak psikologis dan operasionalnya bisa mengganggu layanan ke pelanggan dan berujung pada tuntutan hukum.
  • Layanan cloud dan pusat data lokal berpotensi menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan akses tingkat administrator kepada klien korporasi — kebijakan ini bisa menambah biaya kepatuhan bagi pengguna, tetapi akan mengurangi risiko kehilangan data.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kebijakan pencabutan akses di perusahaan Anda sendiri — pastikan setiap karyawan yang keluar, termasuk karena PHK, akses sistemnya dinonaktifkan di hari yang sama.
  • Risiko yang perlu dicermati: keberadaan akun-akun lama yang masih aktif di lingkungan server atau cloud — lakukan audit kredensial secara berkala untuk menutup celah yang bisa dieksploitasi mantan karyawan.
  • Sinyal penting: respons regulator dan asosiasi industri terhadap keamanan siber di sektor jasa keuangan dan infrastruktur kritis — jika muncul aturan baru, kepatuhan akan menjadi perhatian utama bagi emiten teknologi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.