26 JUN 2026
Efisiensi Sel Surya Tembus 34,82% — Perovskit-Silikon Makin Dekat ke Produksi Massal

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Efisiensi Sel Surya Tembus 34,82% — Perovskit-Silikon Makin Dekat ke Produksi Massal
Teknologi

Efisiensi Sel Surya Tembus 34,82% — Perovskit-Silikon Makin Dekat ke Produksi Massal

Tim Redaksi Feedberry ·25 Juni 2026 pukul 14.20 · Sumber: Katadata ↗
6 Skor

Teknologi ini masih dalam tahap pengembangan, bukan komersial — urgensi sedang; dampak luas ke industri energi global; potensi signifikan untuk menekan biaya PLTS di Indonesia jika produksi massal berhasil.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

JinkoSolar mengumumkan capaian efisiensi konversi 34,82% pada sel surya tandem perovskit-silikon, memecahkan rekor internal mereka sebelumnya sebesar 34,76%. Hasil ini telah diverifikasi oleh Institut Mikrosistem dan Teknologi Informasi Shanghai di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Cina. Rekor dunia saat ini masih dipegang oleh Longi yang mencapai 34,85% pada April 2025 melalui riset bersama Soochow University yang dipublikasikan di jurnal Nature. Kedua pencapaian ini menandai persaingan sengit di antara produsen panel surya Cina untuk menguasai teknologi generasi berikutnya. Teknologi tandem perovskit-silikon menggabungkan dua material aktif: silikon yang mendominasi pasar saat ini dengan perovskit, semikonduktor yang mampu menyerap cahaya pada spektrum lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan efisiensi melampaui batas teoritis sel silikon tunggal (sekitar 29%), yang sudah mendekati titik jenuh.

Capaian di atas 34% menunjukkan bahwa jalan menuju komersialisasi sel tandem semakin realistis, meskipun masih banyak tantangan yang harus diatasi. Tantangan utama adalah membawa teknologi ini dari skala laboratorium ke produksi massal. Produsen harus membuktikan bahwa kinerja tinggi dapat dipertahankan pada produk komersial yang diproduksi dalam volume besar, dengan biaya kompetitif, dan mampu beroperasi dalam jangka panjang (durabilitas). Stabilitas perovskit terhadap kelembaban, suhu, dan sinar UV masih menjadi isu teknis yang perlu dipecahkan. Jika berhasil, biaya per watt panel surya bisa turun signifikan karena lahan yang dibutuhkan lebih kecil untuk menghasilkan listrik yang sama. Implikasinya bagi Indonesia cukup relevan. Negara ini memiliki target ambisius dalam pengembangan energi surya, namun sebagian besar panel masih diimpor dari Cina.

Jika teknologi tandem memasuki tahap produksi massal dan harganya kompetitif, biaya pembangunan PLTS di Indonesia bisa turun drastis — mempercepat pencapaian bauran energi terbarukan. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan: belum ada jaminan bahwa produk komersial akan mencapai efisiensi yang sama dengan prototipe laboratorium, dan adopsi massal masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Mengapa Ini Penting

Terobosan efisiensi sel surya tandem perovskit-silikon bukan sekadar rekor laboratorium — ia mewakili perubahan fundamental dalam struktur biaya energi surya. Jika teknologi ini mencapai produksi massal dengan harga kompetitif, PLTS dapat dibangun di lahan yang lebih kecil untuk output yang sama, sehingga menekan biaya investasi per megawatt. Bagi Indonesia yang tengah menggenjot energi baru terbarukan dan masih sangat bergantung pada impor panel surya, akses ke teknologi yang lebih efisien bisa menjadi pengganda dampak fiskal dan mempercepat dekarbonisasi tanpa perlu perluasan lahan yang masif.

Dampak ke Bisnis

  • Efisiensi yang lebih tinggi berarti untuk kapasitas PLTS yang sama, jumlah panel dan lahan yang dibutuhkan lebih sedikit — berpotensi memangkas biaya investasi proyek surya di Indonesia hingga puluhan persen, terutama di lahan mahal seperti Jawa.
  • Produsen panel surya dalam negeri (seperti PT Surya Utama atau PT Barito Pacific melalui anak usaha) harus bersiap menghadapi disrupsi teknologi — jika tidak segera mengadopsi teknologi tandem, mereka bisa kehilangan daya saing saat impor panel efisiensi tinggi membanjiri pasar dalam 2-3 tahun ke depan.
  • Dampak ke rantai pasok komponen seperti inverter, kabel, dan struktur mounting: efisiensi lebih tinggi mengurangi jumlah unit yang dibutuhkan, sehingga volume permintaan komponen bisa turun — produsen lokal komponen pendukung perlu diversifikasi produk.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman produksi massal oleh JinkoSolar atau Longi — biasanya ditandai dengan komersialisasi modul tandem di pameran industri (SNEC, RE+).
  • Risiko yang perlu dicermati: jika teknologi ini gagal mencapai durabilitas komersial (misalnya degradasi >20% dalam 10 tahun), seluruh trajektori adopsi bisa tertunda 3-5 tahun.
  • Sinyal penting: investasi pabrik tandem skala GW oleh produsen Cina — ini indikator paling kuat bahwa produksi massal dianggap layak secara ekonomi.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah importir panel surya terbesar di Asia Tenggara, dengan mayoritas pasokan dari Cina. Jika efisiensi panel naik signifikan sementara harga per watt tetap atau turun, maka levelized cost of electricity (LCOE) PLTS di Indonesia bisa turun di bawah US$0,04/kWh — lebih murah dari batubara baru. Ini memperkuat argumentasi investasi energi surya di tengah target bauran EBT 23% pada 2025 (yang saat ini masih terhambat biaya awal tinggi). Namun, ketergantungan pada impor juga berarti Indonesia harus mempersiapkan skema insentif atau kewajiban TKDN agar tidak sekadar menjadi pasar bagi teknologi baru tanpa membangun kapasitas produksi dalam negeri.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.