12 JUN 2026
Dorong Produksi Susu Lokal – Frisian Flag & BGN Target Peternak Muda

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Dorong Produksi Susu Lokal – Frisian Flag & BGN Target Peternak Muda
Kebijakan

Dorong Produksi Susu Lokal – Frisian Flag & BGN Target Peternak Muda

Tim Redaksi Feedberry ·12 Juni 2026 pukul 03.53 · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6 Skor

Dorongan substitusi impor susu di tengah tekanan rupiah dan defisit fiskal relevan, tetapi belum ada target angka atau kebijakan konkret; dampak jangka panjang bergantung pada eksekusi.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Tidak disebutkan secara spesifik; program Young Farmers Academy dan pendampingan peternak sudah berjalan.
Alasan Strategis
Meningkatkan produksi susu lokal melalui kemitraan dan regenerasi peternak guna mengurangi ketergantungan impor dan mendukung program Makan Bergizi Gratis.
Pihak Terlibat
Badan Gizi NasionalPT Frisian Flag Indonesia

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama PT Frisian Flag Indonesia menggandeng peternak sapi perah rakyat untuk meningkatkan produksi susu lokal. Dalam program yang diumumkan pada Jumat (12/6/2026), Tim Pakar Bidang Susu BGN Prof. Epi Taufik menekankan pentingnya edukasi dan perubahan gaya hidup, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk memacu konsumsi dan produksi susu dalam negeri. Sementara itu, Corporate Affair Director Frisian Flag, Andrew Saputro, memastikan pihaknya akan memperkuat kemitraan dengan peternak melalui identifikasi kendala, pendampingan teknis, dan akses permodalan. Frisian Flag juga meluncurkan Young Farmers Academy untuk menarik generasi muda terjun ke bisnis peternakan sapi perah. Dorongan ini muncul di tengah kondisi makro yang menekan. Rupiah berada di level Rp17.977 per dolar AS, membuat impor susu semakin mahal.

Harga minyak Brent yang masih di atas USD88 per barel juga membebani biaya logistik dan pakan ternak. Defisit APBN yang sudah mencapai Rp240 triliun hingga Maret 2026 mempersempit ruang fiskal untuk subsidi, sehingga substitusi impor menjadi strategi krusial. Arah kebijakan ini sejalan dengan pidato Presiden Prabowo di Munas Hipmi yang mendorong nasionalisme ekonomi dan pengurangan ketergantungan pada impor. Yang tidak terlihat dari headline adalah dimensi struktural industri susu Indonesia. Selama ini, Indonesia mengimpor sekitar 70% kebutuhan susu, terutama dari Selandia Baru dan Australia. Produksi lokal hanya dipasok oleh peternak skala kecil dengan produktivitas rendah. Program regenerasi peternak menjadi kunci jangka panjang, karena usia peternak sapi perah saat ini rata-rata di atas 50 tahun.

Tanpa peternak muda, target swasembada susu akan sulit tercapai. Frisian Flag sebagai pemain utama industri olahan susu juga memiliki kepentingan langsung untuk mengamankan pasokan bahan baku lokal guna mengurangi risiko fluktuasi kurs dan tarif impor. Dampak dari program ini akan terasa bertahap.

Dalam jangka pendek, peternak yang bermitra dengan Frisian Flag mendapat akses pendampingan dan permodalan, yang dapat meningkatkan produksi dan kualitas susu. Namun, tantangan besar tetap ada: biaya pakan impor yang tinggi, keterbatasan lahan, dan infrastruktur rantai dingin yang belum merata. Jika program MBG berjalan penuh, permintaan susu akan melonjak, sehingga daya serap terhadap produksi lokal menjadi ujian nyata.

Mengapa Ini Penting

Program ini bukan sekadar kampanye, melainkan bagian dari strategi substitusi impor yang didorong Presiden Prabowo di tengah tekanan fiskal dan pelemahan rupiah. Keberhasilannya akan menentukan apakah Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor susu yang mencapai 70%, sekaligus menciptakan lapangan kerja di sektor peternakan. Jika gagal, biaya impor akan terus membebani neraca perdagangan dan APBN.

Dampak ke Bisnis

  • Peternak sapi perah rakyat yang bermitra dengan Frisian Flag berpotensi mendapat peningkatan pendapatan melalui akses permodalan dan pendampingan teknis, namun risiko fluktuasi harga pakan impor tetap menjadi kendala struktural.
  • Industri pengolahan susu seperti Frisian Flag, Nestlé, dan Indofood akan diuntungkan jika pasokan lokal meningkat, karena dapat menekan biaya impor dan mengurangi eksposur terhadap volatilitas kurs rupiah.
  • Pemerintah dapat mengurangi beban subsidi dan defisit APBN jika impor susu berkurang, tetapi perlu menyiapkan insentif fiskal dan infrastruktur pendukung seperti cold chain dan pakan murah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi kontrak kemitraan Frisian Flag dengan peternak baru dalam 1–2 bulan ke depan — apakah ada peningkatan jumlah peternak yang terdaftar dan target volume produksi.
  • Risiko yang perlu dicermati: kenaikan harga pakan impor akibat pelemahan rupiah dan harga minyak tinggi — jika biaya produksi naik, margin peternak bisa tergerus dan minat generasi muda justru menurun.
  • Sinyal penting: respons pemerintah melalui insentif fiskal (subsidi pakan, kredit program) atau relaksasi TKDN — jika ada kebijakan konkret, sektor peternakan sapi perah bisa menjadi fokus investasi baru.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.