8 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Kebijakan / DHE SDA Dilonggarkan: 30% Selama 3 Bulan, dari 100% Setahun
Kebijakan

DHE SDA Dilonggarkan: 30% Selama 3 Bulan, dari 100% Setahun

Tim Redaksi Feedberry ·8 November 2026 pukul 16.50 WIB · Sumber: Kontan ↗
7 Skor

Relaksasi ini memangkas kewajiban penempatan devisa dari 100% selama 12 bulan menjadi 30% selama tiga bulan — memindahkan beban likuiditas valas dari eksportir ke perbankan dan rupiah pada saat keduanya sedang tertekan.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah melonggarkan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam melalui PP Nomor 21 Tahun 2026. Eksportir pertambangan tertentu kini dapat memilih menempatkan devisa paling sedikit 30% selama minimal tiga bulan — jauh lebih ringan daripada skema umum yang mewajibkan 100% selama 12 bulan. Ketua Umum Aspebindo Anggawira menyebut kebijakan ini sebagai penyesuaian yang pragmatis, dengan catatan penerapannya harus memperhitungkan kebutuhan modal kerja, struktur pembiayaan, serta komitmen perdagangan dan investasi para eksportir. Tujuan lama kebijakan tetap dipertahankan: memperkuat likuiditas valuta asing dan mendorong pendalaman pasar keuangan domestik. Yang tidak terlihat dari headline adalah besarnya perubahan itu bila dihitung sebagai beban penempatan.

Skema lama menuntut 100% devisa selama 12 bulan; skema baru cukup 30% selama tiga bulan, dan sifatnya opsional — eksportir memilih, bukan otomatis dialihkan. Dalam satuan persen-bulan, eksposur devisa yang harus ditahan di dalam negeri turun dari setara 12 bulan penuh menjadi kurang dari satu bulan penuh, atau sekitar 92% lebih ringan. Ini bukan penyesuaian teknis biasa. Kebijakan bergeser dari memaksa devisa bermukim di dalam negeri menjadi sekadar menyentuhnya sejenak. Bagi eksportir batu bara, nikel, dan mineral yang arus kasnya padat modal kerja, perubahan ini mengubah profil likuiditas valas secara berarti. Relaksasi ini datang pada momen yang tidak netral.

Dalam data pasar terkini, USD/IDR berada di 18.103, imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,84%, dan VIX di 28,18 — kombinasi yang mencerminkan biaya modal global tinggi dan sentimen penghindaran risiko. Secara mekanis, memangkas porsi dan durasi devisa yang wajib ditempatkan di dalam negeri berarti mengurangi pasokan valas struktural di pasar domestik, justru ketika rupiah masih menghadapi tekanan. Pihak yang paling langsung menanggung konsekuensinya tidak disebut artikel: perbankan nasional. Penempatan DHE selama ini menjadi sumber dana valas yang relatif stabil di neraca bank, dan menyusutnya kolam itu berpotensi menaikkan biaya pendanaan valas serta harga kredit berdemonimasi dolar. Ada pula lapisan biaya baru yang belum terlihat.

Aspebindo menyatakan besaran biaya layanan ekspor satu pintu oleh Danantara Sumber Daya Indonesia masih dalam tahap finalisasi dan belum diumumkan resmi. Artinya eksportir menghadapi dua perubahan sekaligus: kewajiban penempatan yang mengendur, tetapi potensi pungutan baru yang angkanya belum diketahui. Manfaat bersih relaksasi ini karenanya bergantung pada besar biaya tersebut. Aspebindo juga meminta pemerintah mengawasi secara transparan kriteria kepemilikan perusahaan serta mencatat nilai DHE yang masuk, lama penempatan, dan pemanfaatannya, agar kebijakan dinilai berdasarkan hasil dan bukan asumsi.

Mengapa Ini Penting

Inti kebijakan ini bukan angka 30%, melainkan perpindahan beban likuiditas valas negara. Eksportir mendapat keleluasaan modal kerja, sementara konsekuensi terhadap pasokan valas domestik berpindah ke perbankan dan ke rupiah — pada saat keduanya sedang tidak punya ruang. Secara implisit, pemerintah mengakui bahwa menahan devisa di dalam negeri lebih membebani eksportir daripada membantu stabilitas kurs.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir sumber daya alam — batu bara seperti ADRO, PTBA, ITMG, INDY, BYAN, serta produsen nikel dan emas — memperoleh keleluasaan modal kerja valas yang jauh lebih besar. Dana yang sebelumnya tertahan di dalam negeri hingga 12 bulan kini bisa dipakai membiayai operasional, melunasi utang valas, atau ditempatkan pada instrumen dengan imbal hasil lebih kompetitif.
  • Perbankan nasional adalah pihak yang paling terpukul namun tidak disebut artikel. Penempatan DHE berfungsi sebagai sumber deposito valas yang stabil; memangkas porsi wajib dari 100% ke 30% dan durasi dari 12 bulan ke tiga bulan akan menyusutkan kolam tersebut, dengan risiko kenaikan biaya pendanaan valas dan penyesuaian harga kredit berdemonimasi dolar ke segmen korporasi.
  • Dampak yang baru terasa dalam 3–6 bulan: pengurangan pasokan valas struktural terjadi bersamaan dengan lingkungan global yang tidak mendukung, tercermin pada imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,84% dan VIX di 28,18. Bila cadangan devisa dan imbal hasil SBN bergerak tidak menguntungkan, ruang pelonggaran suku bunga menyempit dan itu menular ke sektor yang bergantung pada kredit, terutama properti dan otomotif.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman resmi besaran biaya layanan ekspor satu pintu Danantara Sumber Daya Indonesia — angka itu menentukan apakah manfaat relaksasi DHE benar-benar neto positif bagi eksportir atau tergerus pungutan baru.
  • Risiko yang perlu dicermati: definisi eksportir pertambangan tertentu dan kriteria kepemilikan perusahaan sebagai syarat fasilitas. Jika cakupannya luas, penyusutan pasokan valas domestik akan lebih besar dari perkiraan; jika sempit, manfaatnya hanya menyentuh sebagian kecil eksportir dan tidak banyak mengubah gambaran likuiditas.
  • Sinyal penting: pergerakan USD/IDR dari level 18.103 dan laporan nilai DHE yang ditempatkan. Pelemahan lanjutan tanpa kenaikan cadangan devisa akan menandakan bahwa relaksasi ini melebarkan defisit likuiditas valas domestik, bukan sekadar menyesuaikan beban administratif eksportir.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.