10 JUL 2026
DeFi Menurunkan Rating Dalam Diam? Bitwise Sorot Outperform vs Bitcoin

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / DeFi Menurunkan Rating Dalam Diam? Bitwise Sorot Outperform vs Bitcoin
Forex & Crypto

DeFi Menurunkan Rating Dalam Diam? Bitwise Sorot Outperform vs Bitcoin

Tim Redaksi Feedberry ·10 Juli 2026 pukul 02.30 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
4.7 Skor

DeFi mulai menunjukkan ketahanan relatif terhadap Bitcoin, namun penurunan TVL dan ketergantungan pada satu token (HYPE) membuat sinyal ini rapuh. Dampak ke Indonesia masih terbatas pada investor kripto ritel dan sentimen risiko global.

Urgensi
6
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Bitwise melaporkan bahwa indeks DeFi-nya mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan Bitcoin dalam periode terbaru, sebuah fenomena yang dianggap tidak biasa karena aset DeFi biasanya bergerak jauh lebih volatil. Indeks Bitwise, yang memboboti aset berdasarkan kapitalisasi pasar, saat ini 61% dialokasikan ke Hyperliquid (HYPE) — token asli bursa perpetual kripto dengan nama yang sama yang telah melonjak lebih dari 160% tahun ini. Sementara itu, token DeFi lainnya seperti Uniswap (UNI), Ondo (ONDO), dan Aave (AAVE) semuanya mencatat penurunan persentase dua digit secara year-to-date. Artinya, 'kinerja unggul' DeFi versus Bitcoin sebenarnya didorong oleh satu token — bukan kekuatan fundamental sektor secara luas.

Di sisi lain, total nilai terkunci (TVL) di DeFi global telah anjlok hampir 40% tahun ini hingga Juni, turun dari sekitar $115 miliar pada Januari menjadi hanya $70 miliar. CryptoRank mengaitkan penurunan ini dengan koreksi pasar setelah Bitcoin mencapai level tertinggi di atas $126.000. Namun, laporan Bitwise juga mencatat bahwa penarikan dana kali ini masih lebih kecil dibandingkan saat pasar bear 2022, yang menunjukkan pasar DeFi sedikit lebih tangguh. Yang tidak terlihat dari headline adalah bagaimana ketergantungan pada satu proyek (Hyperliquid) membuat indeks tersebut sangat rentan terhadap risiko konsentrasi. Jika HYPE terkoreksi tajam, seluruh indeks DeFi bisa merosot.

Bitwise juga menyoroti dua peristiwa regulasi kunci: GENIUS Act (regulasi stablecoin yang mulai berlaku Januari 2027) yang diperkirakan akan memicu gelombang proyek stablecoin dari perusahaan besar, dan CLARITY Act (RUU struktur pasar kripto) yang sedang dalam negosiasi di Senat AS. Bitwise menyebut tiga bulan ke depan sebagai 'make-or-break' bagi CLARITY Act; jika lolos, itu bisa menandai dasar pasar bear ini; jika gagal, volatilitas jangka pendek akan terjadi tetapi ketidakpastian akan berangsur hilang seiring industri terus berkembang di bawah SEC dan CFTC yang pro-kripto. Bagi Indonesia, berita ini relevan melalui dua jalur. Pertama, sentimen risk-on/risk-off di pasar kripto global memengaruhi volume perdagangan di exchange lokal seperti Tokocrypto dan Indodax, serta harga aset kripto yang diperdagangkan oleh investor ritel Indonesia.

Kedua, perkembangan regulasi di AS — khususnya stablecoin — dapat menjadi preseden bagi kebijakan Bappebti dan OJK terkait aset digital. Jika GENIUS Act mendorong adopsi stablecoin yang lebih luas, aliran dolar digital ke Indonesia bisa meningkat, tetapi juga membawa risiko pengawasan lebih ketat.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menyoroti bahwa narasi 'DeFi bangkit kembali' belum sepenuhnya terbukti secara fundamental — hanya satu token yang menopang indeks. Bagi investor institusi dan ritel di Indonesia, memahami struktur indeks dan risiko konsentrasi ini krusial agar tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan. Selain itu, arah regulasi stablecoin dan struktur pasar di AS akan menjadi cetak biru bagi kebijakan aset digital di Indonesia dalam 1-2 tahun ke depan. Jika CLARITY Act lolos, itu bisa menjadi katalis positif bagi sektor kripto global dan secara tidak langsung mendorong minat investor Indonesia terhadap aset digital sebagai kelas aset.

Dampak ke Bisnis

  • Investor kripto ritel Indonesia yang terpapar pada indeks atau dana yang mirip dengan Bitwise perlu waspada terhadap risiko konsentrasi pada satu token (HYPE). Jika HYPE terkoreksi, kerugian bisa lebih besar dari yang diantisipasi.
  • Exchange kripto lokal seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu akan merasakan dampak dari sentimen global: jika pasar kripto global tertekan, volume perdagangan lokal bisa menurun, mengurangi pendapatan dari biaya transaksi.
  • Perusahaan teknologi dan blockchain di Indonesia yang mengembangkan solusi berbasis Ethereum atau Solana akan terpengaruh oleh adopsi stablecoin pasca-GENIUS Act. Jika stablecoin AS legal dan meluas, infrastruktur blockchain di Indonesia bisa mendapat permintaan lebih tinggi untuk transaksi lintas batas dan remitansi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga HYPE — apakah kenaikan 160% YTD berlanjut atau mulai terkoreksi. Jika turun lebih dari 20% dalam sepekan, indeks DeFi Bitwise bisa tertekan signifikan.
  • Risiko yang perlu dicermati: kegagalan CLARITY Act di Senat AS — Bitwise sendiri menyebut peluangnya kecil sebelum November. Jika gagal, volatilitas jangka pendek di pasar kripto global dapat memicu aksi jual yang merembet ke aset berisiko lain termasuk IHSG.
  • Sinyal penting: pengumuman perusahaan besar tentang proyek stablecoin dalam 1-2 bulan ke depan — jika muncul nama seperti JPMorgan, Visa, atau PayPal, itu akan menjadi validasi besar bagi ekosistem stablecoin dan bisa mendorong reli Ethereum dan Solana, yang pada gilirannya meningkatkan sentimen kripto secara umum.

Konteks Indonesia

Berita ini relevan bagi Indonesia terutama melalui dua kanal: (1) investor ritel kripto Indonesia yang sangat aktif di platform lokal — sentimen global dari laporan Bitwise dapat memengaruhi volume perdagangan domestik; (2) perkembangan regulasi stablecoin di AS (GENIUS Act) menjadi acuan bagi OJK dan Bappebti dalam menyusun kerangka regulasi aset digital di Indonesia. Jika stablecoin AS diadopsi luas, aliran dolar digital ke Indonesia bisa meningkat, memengaruhi sistem pembayaran dan potensi munculnya produk kripto baru yang sesuai regulasi. Sebaliknya, jika regulasi AS gagal, ketidakpastian global akan membuat investor Indonesia wait-and-see, menekan volume perdagangan exchange lokal.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.