Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Perubahan sikap tokoh global ini menandakan adopsi institusional yang semakin mainstream, namun dampak langsung ke Indonesia bersifat tidak langsung — lebih ke sentimen dan persepsi risiko jangka panjang.
Ringkasan Eksekutif
Artikel Cointelegraph menyoroti lima tokoh terkenal yang dulunya vokal mengkritik Bitcoin dan aset digital, kini justru meluncurkan produk atau inisiatif berbasis blockchain. Peter Schiff, promotor emas paling keras di Wall Street, meluncurkan T-Gold.com pada Desember 2025 — platform tokenisasi emas yang memungkinkan kepemilikan logam mulia direpresentasikan sebagai token digital di blockchain. Meski Schiff menegaskan ini bukan perubahan pendirian, langkahnya secara implisit mengakui bahwa infrastruktur blockchain berguna untuk aset tradisional. Nouriel Roubini — 'Dr. Doom' bagi kripto — justru menerbitkan whitepaper bersama Atlas Capital dan mengumumkan USAFi, instrumen tokenisasi yang ia sebut 'Technodollar'. Roubini bersikeras bahwa ini bukan pembalikan sikap; ia tetap skeptis terhadap aset kripto tanpa underlying value, tetapi mendukung inovasi yang diatur dan berbasis aset riil.
Donald Trump, yang pernah menyebut Bitcoin 'scam', kini memposisikan diri sebagai 'crypto president' — meluncurkan NFT, meme coin pribadi, dan memanfaatkan isu kripto sebagai basis konstituen politik. Dua tokoh lainnya (tidak disebutkan dalam ringkasan) melengkapi daftar ini. Artikel ini menandakan bahwa pergeseran dari skeptisisme menuju adopsi institusional semakin nyata, meskipun dengan motivasi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Bagi Indonesia, perubahan ini relevan karena memperkuat legitimasi blockchain dan aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern. Namun, tekanan jangka pendek di pasar kripto global — seperti outflow ETF Bitcoin US$4,6 miliar YTD dan tekanan likuiditas Strategy (MicroStrategy) — mengingatkan bahwa adopsi institusional belum menjamin stabilitas harga.
Investor dan pelaku bisnis Indonesia perlu mencermati apakah langkah tokoh-tokoh ini akan mendorong regulasi yang lebih jelas di dalam negeri, terutama dari OJK dan Bappebti, atau justru hanya menjadi katalis sesaat bagi pasar kripto lokal. Ke depan, sinyal utama
Mengapa Ini Penting
Perubahan sikap tokoh seperti Schiff, Roubini, dan Trump bukan sekadar berita sensasional — ini menandakan bahwa infrastruktur blockchain mulai diterima oleh kalangan yang dulunya paling vokal menentang. Implikasinya, adopsi institusional aset digital semakin legitimate, yang berpotensi mempercepat regulasi dan produk keuangan berbasis blockchain di Indonesia. Namun, motivasi mereka berbeda: Schiff dan Roubini menekankan tokenisasi aset riil, sementara Trump lebih ke arah spekulatif dan politik. Bagi investor Indonesia, perbedaan ini penting untuk membedakan antara tren adopsi berkelanjutan dengan siklus hype jangka pendek.
Dampak ke Bisnis
- Pergeseran sentimen global ini dapat memperkuat kepercayaan institusi keuangan Indonesia untuk mulai mengeksplorasi produk berbasis blockchain, seperti tokenisasi aset riil (emas, properti) yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko atau ilegal.
- Exchange kripto lokal (Tokocrypto, Indodax, Pintu) berpotensi mendapat angin segar jika narasi positif ini mendorong peningkatan volume perdagangan dan minat investor ritel. Namun, tekanan makro dan outflow ETF Bitcoin justru bisa menahan momentum tersebut.
- Bagi regulator Indonesia (OJK, Bappebti), langkah Roubini yang menekankan regulated permissionless security bisa menjadi referensi dalam merancang kerangka hukum untuk aset digital yang lebih terpercaya — membuka peluang bagi produk keuangan inovatif namun tetap dalam koridor pengawasan.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: kelanjutan adopsi produk tokenisasi aset tradisional seperti T-Gold dan USAFi — jika berhasil menarik investor institusi, model serupa bisa diadaptasi di Indonesia, terutama untuk komoditas emas dan properti.
- Risiko yang perlu dicermati: tekanan jual Bitcoin yang masih berlanjut — outflow ETF dan kesulitan likuiditas Strategy berpotensi memicu risk-off global yang menjalar ke emerging market termasuk Indonesia, menekan IHSG dan rupiah.
- Sinyal penting: respons OJK dan Bappebti terhadap perkembangan ini — apakah mereka akan mempercepat penerbitan regulasi baru untuk aset digital yang lebih terstruktur, atau justru bersikap wait-and-see karena volatilitas pasar masih tinggi.
Konteks Indonesia
Meski artikel tidak menyebut Indonesia secara langsung, perubahan sikap tokoh global ini relevan karena memperkuat narasi bahwa blockchain dan aset digital adalah masa depan sistem keuangan. Indonesia sebagai negara dengan pasar kripto ritel yang aktif (berdasarkan baseline memori) sangat sensitif terhadap sentimen global. Tokenisasi aset tradisional seperti emas dan properti — yang didorong oleh Schiff dan Roubini — bisa menjadi model bagi inovasi keuangan di Indonesia, terutama jika regulasi mendukung. Namun, tekanan jangka pendek pada Bitcoin (outflow ETF, likuiditas Strategy) tetap menjadi risiko bagi investor lokal yang eksposurnya besar terhadap kripto. Investor Indonesia perlu membedakan antara tren adopsi jangka panjang dengan siklus volatilitas jangka pendek.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.