12 JUL 2026
Danantara Gandeng AS untuk DME Batu Bara — Uji Kredibilitas Hilirisasi

Foto: Tempo Bisnis — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Danantara Gandeng AS untuk DME Batu Bara — Uji Kredibilitas Hilirisasi
Korporasi

Danantara Gandeng AS untuk DME Batu Bara — Uji Kredibilitas Hilirisasi

Tim Redaksi Feedberry ·12 Juli 2026 pukul 04.49 · Sinyal menengah · Sumber: Tempo Bisnis ↗
8 Skor

Proyek DME batu bara merupakan upaya strategis mengurangi impor LPG, namun sebelumnya gagal karena biaya tinggi. Keterlibatan Danantara sebagai BPI dan mitra AS baru menghadirkan peluang sekaligus risiko kredibilitas — dampak luas ke sektor energi, fiskal, dan perdagangan.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Alasan Strategis
Mengurangi impor LPG, meningkatkan ketahanan energi dalam negeri, dan mengoptimalkan batu bara kalori rendah melalui teknologi gasifikasi.
Pihak Terlibat
BPI DanantaraLatitude Energy Holdings Inc.

Ringkasan Eksekutif

BPI Danantara menggandeng Latitude Energy Holdings Inc., perusahaan energi asal Amerika Serikat, untuk mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Indonesia. Kerja sama ini ditandai dengan nota kesepahaman yang memanfaatkan teknologi Transport Integrated Gasification (TRIG) untuk mengubah batu bara kalori rendah menjadi gas sintetis, yang selanjutnya dapat diolah menjadi DME sebagai substitusi liquefied petroleum gas (LPG).

Langkah ini merupakan upaya terbaru pemerintah menghidupkan kembali proyek hilirisasi batu bara yang sempat terhenti setelah Air Products and Chemicals Inc. mengundurkan diri pada 2023 dari proyek serupa yang digagas sejak 2018 bersama PT Bukit Asam Tbk dan PT Pertamina (Persero). Proyek awal tersebut bernilai sekitar US$ 15 miliar dengan target produksi 1,4 juta ton DME per tahun untuk mengurangi impor LPG. Kini, dengan Danantara sebagai badan pengelola investasi yang baru terbentuk dan sedang membangun kredibilitas global — sebagaimana terlihat dari rangkaian diplomasi dengan mantan PM Thailand Thaksin Shinawatta dan mantan PM Inggris Tony Blair dalam sepekan terakhir — pemerintah kembali mendorong proyek DME di tiga lokasi: Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Namun, Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa sebelumnya menilai biaya produksi DME berbahan baku batu bara masih terlalu tinggi untuk bersaing dengan LPG, yang menjadi tantangan utama selain risiko teknis dan pendanaan.

Di sisi lain, tekanan eksternal seperti defisit APBN yang mencapai Rp240,1 triliun per Maret 2026 dan pelemahan rupiah ke level 18.064 per dolar AS membuat ruang fiskal untuk mensubsidi proyek ini semakin sempit. Bagi perusahaan batu bara berkalori rendah yang selama ini sulit dipasarkan, proyek DME membuka potensi permintaan baru dan dapat meningkatkan nilai tambah batu bara domestik. Namun, bagi importir LPG dan konsumen energi, keberhasilan proyek ini berpotensi menekan harga energi di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Proyek DME batu bara bukan sekadar proyek energi — ia menjadi ujian kredibilitas Danantara sebagai fund manager yang baru terbentuk. Jika berhasil, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor LPG hingga miliaran dolar per tahun dan menciptakan pasar baru untuk batu bara kalori rendah. Namun, kegagalan akan memperkuat skeptisisme investor terhadap hilirisasi batu bara dan menambah beban fiskal di tengah defisit APBN yang sudah besar. Dampaknya terasa di sektor energi, perusahaan tambang, serta konsumen rumah tangga dan industri yang selama ini bergantung pada LPG impor.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan batu bara berkalori rendah seperti PT Bukit Asam Tbk dan PTBA lainnya berpotensi mendapat permintaan baru sebagai bahan baku gasifikasi, meningkatkan nilai jual batu bara yang sebelumnya kurang ekonomis. Namun, jika proyek gagal, harga batu bara kalori rendah bisa tetap tertekan.
  • Importir LPG dan distributor energi seperti Pertamina akan terdampak langsung — pengurangan impor LPG bisa menekan biaya subsidi energi pemerintah, namun juga mengubah rantai pasok yang sudah mapan.
  • Kontraktor dan penyedia teknologi gasifikasi dalam negeri berpeluang mendapat proyek baru, tapi persaingan dengan teknologi asing (TRIG) bisa membatasi partisipasi lokal jika tidak ada persyaratan TKDN yang ketat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi komitmen investasi dan pendanaan dari Latitude Energy — apakah hanya MoU seremonial atau ada kesepakatan binding yang ditandatangani dalam 3 bulan ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: pernyataan resmi IESR atau lembaga riset lain tentang perbandingan biaya produksi DME vs LPG — jika biaya produksi masih >20% lebih mahal, proyek sulit sustain tanpa subsidi besar.
  • Sinyal penting: respons pasar terhadap kredibilitas Danantara — perhatikan aliran dana asing ke saham-saham BUMN energi dan perubahan yield SUN 10 tahun sebagai indikator kepercayaan investor.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.