7 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / Como 1907 Tembus Liga Champions, Jejak Investasi Hartono
Korporasi

Como 1907 Tembus Liga Champions, Jejak Investasi Hartono

Tim Redaksi Feedberry ·7 November 2026 pukul 15.00 WIB · Sumber: CNBC Indonesia ↗
4.3 Skor

Bukan berita pasar, tetapi kasus langka konglomerasi Indonesia mengubah klub kasta keempat Italia menjadi peserta Liga Champions — template alokasi modal yang layak dicermati, bukan sinyal yang harus direspons minggu ini.

Urgensi
3
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Calvin Verdonk menjadi pemain Indonesia pertama yang menyabet gelar Man of the Match di Liga Champions UEFA. Penghargaan itu diraihnya saat LOSC Lille bermain imbang 0-0 melawan Bodo/Glimt di Aspmyra Stadion, Norwegia, pada matchday keempat musim 2026/2027. Verdonk tampil sebagai starter selama 90 menit dengan empat tekel, satu intersepsi, tiga sapuan, dan akurasi operan 83%. Di kompetisi yang sama, nama Indonesia lain muncul bukan dari lapangan melainkan dari ruang manajemen: Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907. Como 1907 bukan kisah semalam. Klub tepi Danau Como itu diakuisisi pada 2019 oleh Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono melalui SENT Entertainment, ketika masih berkompetisi di Serie D — kasta keempat sepak bola Italia. Pembangunan sejak itu dijalankan bertahap: organisasi, infrastruktur, lalu skuad.

Hasilnya, klub tersebut kini bersaing di kompetisi elite Eropa. Perjalanan menembus empat kasta dalam beberapa tahun itu menjelaskan satu hal yang jarang dibahas dalam pemberitaan sepak bola: nilai sebuah klub tidak dibangun dari trofi, melainkan dari status kompetisi, hak siar, dan kapasitas komersial yang menyertainya. Di sinilah relevansi bisnisnya bagi pembaca Feedberry. Kepemilikan klub Eropa berfungsi sebagai aset pemasaran sekaligus diversifikasi yang pergerakannya tidak berkorelasi dengan siklus kredit domestik atau harga komoditas — dua faktor yang selama ini mendominasi portofolio konglomerasi Indonesia. Namun struktur biaya klub Eropa kejam. Gaji pemain dan staf menyerap porsi terbesar pendapatan, sementara kompetisi Eropa menuntut kedalaman skuad yang mahal. Klub yang naik kasta cepat hampir selalu menghadapi lonjakan belanja yang lebih cepat daripada lonjakan pendapatan.

Di titik itu, komitmen modal pemilik menjadi penentu, bukan strategi jangka pendek. Bagi grup dengan arus kas rupiah, penguatan valuta asing menambah beban: dengan USD/IDR di 18.103, setiap belanja operasional klub berbasis valuta asing menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah. Efek bergulirnya tidak berhenti di Danau Como. Prestasi Verdonk menaikkan profil pemain Indonesia di pasar transfer Eropa, yang secara tidak langsung memperbaiki daya tawar klub-klub liga domestik saat melepas pemain ke luar negeri. Sementara di sisi kepemilikan, keberhasilan Como menjadi rujukan bahwa aset olahraga Eropa dapat dikelola sebagaiproyek jangka panjang, bukan sekadar pembelian trofi.

Mengapa Ini Penting

Kepemilikan Como 1907 memberi contoh konkret bagaimana konglomerasi Indonesia mengalokasikan modal ke aset yang nilainya ditentukan status kompetisi, bukan arus kas harian — model yang berbeda total dari ekspansi pabrik atau akuisisi bank. Bagi pemilik usaha, ini adalah studi kasus tentang modal sabar: empat tahun bertahan di kasta bawah sebelum hasilnya terlihat. Bagi pasar, pertanyaannya bergeser — apakah grup lain akan mengikuti, dan dari mana dana itu diambil.

Dampak ke Bisnis

  • Eksposur Como 1907 di Liga Champions membuka kanal visibilitas Eropa bagi merek konsumen milik grup Hartono dan sponsor Indonesia yang ingin masuk pasar sepak bola — nilai pemasaran yang tidak muncul di laporan laba rugi klub, tetapi tercatat di sisi grup.
  • Biaya operasional klub berbasis valuta asing menjadi lebih berat dalam rupiah: dengan USD/IDR di 18.103, kebutuhan pendanaan tahunan ke entitas Eropa memakan ruang kas yang lebih besar dibanding periode kurs yang lebih kuat.
  • Dampak yang baru terasa dalam 3–6 bulan: kenaikan kasta memicu lonjakan belanja gaji dan infrastruktur yang biasanya mendahului kenaikan pendapatan hak siar. Jika pemilik tidak menambah modal, klub berisiko menjual aset pemain untuk menyeimbangkan neraca.
  • Pemain dan klub liga domestik ikut terdampak secara tidak langsung — reputasi Verdonk sebagai pemain Indonesia pertama peraih MOTM Liga Champions memperbaiki pembanding harga dalam negosiasi transfer, meski manfaatnya terkonsentrasi pada segelintir pemain yang sudah menembus Eropa.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: posisi Como 1907 di fase liga Champions — lolos ke babak gugur membawa tambahan pendapatan kompetisi yang material bagi struktur biaya klub, sementara tersingkir lebih awal memaksa pemilik menutup selisih dari kantong sendiri.
  • Risiko yang perlu dicermati: ketergantungan pada suntikan modal pemilik — klub yang naik kasta cepat umumnya mencatat pertumbuhan belanja gaji lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan, dan pola ini biasanya baru terlihat satu hingga dua musim setelah promosi.
  • Sinyal penting: arah alokasi modal SENT Entertainment di luar sepak bola — jika kendaraan investasi ini mulai mengakuisisi aset lain, itu penanda bahwa grup memandang olahraga sebagai platform ekspansi, bukan proyek pemasaran terbatas.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.