Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Coinbase Kantongi Lisensi UK untuk Derivatif-Ekuitas, Ekspansi 'Everything Exchange'
Lisensi UK merupakan terobosan regulasi besar bagi Coinbase di tengah tekanan saham 69%, berdampak pada sentimen global kripto, regulasi, dan aspirasi exchange Indonesia.
- Jenis Aksi
- ekspansi
- Timeline
- Lisensi diperoleh Juni 2026, produk akan diluncurkan bertahap sesuai izin FCA; rezim kripto UK baru mulai aplikasi September 2027 dan berlaku Oktober 2027.
- Alasan Strategis
- Mewujudkan visi 'everything exchange' yang menggabungkan kripto dan aset tradisional, serta mendiversifikasi pendapatan di tengah penurunan bisnis perdagangan spot.
- Pihak Terlibat
- CoinbaseFinancial Conduct Authority (FCA) UK
Ringkasan Eksekutif
Coinbase resmi mendapatkan izin investasi dari Otoritas Jasa Keuangan Inggris (FCA) untuk memperluas layanan di luar perdagangan spot kripto, mencakup derivatif dan ekuitas.
Langkah ini memungkinkan pengguna institusional dan trader mahir mengakses perpetual futures yang terkait dengan kripto, saham, dan komoditas, sementara pengguna ritel dapat mulai memperdagangkan saham tradisional. Perusahaan menyebut ini sebagai ekspansi produk terbesar sejak memasuki pasar Inggris dan bagian dari visi "everything exchange" yang menyatukan aset kripto dan keuangan tradisional dalam satu platform. Riset FCA yang dikutip Coinbase memperkirakan sekitar 7 juta orang dewasa Inggris memiliki aset kripto, dan seperempat dari mereka yang belum memiliki aset kripto menyatakan lebih mungkin berpartisipasi jika regulasi lebih jelas.
Lisensi ini diberikan menjelang rezim kripto Inggris yang baru, yang akan mulai menerima pendaftaran pada September 2027 dan berlaku penuh pada Oktober 2027, mewajibkan platform perdagangan, kustodian, penerbit stablecoin, penyedia staking, dan perantara lainnya untuk mendapatkan otorisasi FCA. Meski demikian, akses ritel ke derivatif kripto tetap dibatasi sesuai larangan FCA sejak 2021 — hanya ETN kripto tertentu yang telah dibuka kembali pada Oktober 2025 dan diperdagangkan di bursa yang disetujui FCA. Yang tidak terlihat dari headline adalah kontras antara ekspansi regulasi yang agresif dengan tekanan fundamental yang dihadapi Coinbase. Saham perusahaan telah anjlok sekitar 69% dari titik tertingginya — jauh lebih dalam dibandingkan koreksi Indeks S&P 500 yang hanya 3,5%.
Kerugian per saham kuartal I-2026 mencapai US$1,49, bertolak belakang dengan ekspektasi analis yang memperkirakan laba US$0,27. Pendapatan turun 21% secara kuartalan. Artinya, langkah ekspansi ini bisa dibaca sebagai upaya diversifikasi pendapatan di tengah penurunan bisnis inti perdagangan spot yang tertekan oleh siklus bearish kripto. Dari sisi regulasi global, langkah ini memperkuat sinyal bahwa kerangka hukum di negara maju mulai matang untuk aset digital. Inggris bergerak maju dengan rezim komprehensif, sementara Amerika Serikat telah mengesahkan GENIUS Act untuk stablecoin. Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan referensi konkret bagi Bappebti dan OJK yang tengah menyusun kerangka aset digital nasional — terutama soal derivatif kripto yang saat ini masih terbatas di pasar spot.
Mengapa Ini Penting
Lisensi ini membuktikan bahwa aset kripto mulai diakui sebagai kelas aset yang setara dengan sekuritas tradisional di mata regulator negara maju. Dampaknya tidak hanya pada Coinbase, tetapi juga pada peta persaingan exchange global — platform yang mampu mengintegrasikan kripto dan keuangan tradisional dalam satu ekosistem teregulasi akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi exchange murni kripto. Bagi Indonesia, perkembangan ini mendorong urgensi penyelesaian kerangka regulasi aset digital yang komprehensif, termasuk soal derivatif dan tokenisasi saham, agar pasar domestik tidak tertinggal dan terlindungi.
Dampak ke Bisnis
- Ekspansi Coinbase ke ekuitas dan derivatif menekan exchange tradisional dan broker di Inggris, serta memberi tekanan kompetitif pada platform kripto murni yang belum memiliki lisensi serupa. Di Indonesia, exchange lokal seperti Tokocrypto, Pintu, dan Reku perlu mengantisipasi potensi migrasi pengguna ke platform global yang menawarkan produk lebih lengkap dan teregulasi.
- Regulasi Inggris yang mewajibkan otorisasi FCA untuk segala jenis platform kripto (termasuk stablecoin issuer) menjadi tolok ukur yang dapat diadopsi OJK dan Bappebti. Hal ini bisa mempercepat dan memperketat proses perizinan bagi exchange lokal yang ingin menambah produk seperti derivatif atau tokenized equities, sehingga biaya kepatuhan akan naik.
- Stablecoin Open USD yang diluncurkan konsorsium Visa-Mastercard-Coinbase (lihat artikel terkait) berpotensi menjadi standar baru stablecoin global. Jika adopsi meluas, Bank Indonesia dan OJK harus segera merumuskan kebijakan stablecoin — apakah akan diakui sebagai alat pembayaran, atau dibatasi untuk menjaga efektivitas kebijakan moneter dan mencegah dollarisasi tidak resmi.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: respons regulator Indonesia (Bappebti dan OJK) terhadap lisensi UK Coinbase — apakah akan ada pernyataan resmi atau percepatan penyusunan aturan derivatif kripto dan tokenisasi aset.
- Risiko yang perlu dicermati: jika tekanan saham Coinbase berlanjut dan sentimen risk-off meluas, volume transaksi kripto di Indonesia bisa terpukul — exchange lokal berpotensi mengalami penurunan pendapatan dan valuasi.
- Sinyal penting: volume stablecoin yang masuk ke Indonesia dari platform global berimbal hasil (seperti MetaMask Money Account 4% APY) — jika melonjak, itu indikasi pergeseran preferensi simpanan dari perbankan ke ekosistem DeFi yang perlu direspons regulator.
Konteks Indonesia
Indonesia memiliki pasar kripto ritel yang besar dan aktif, dengan exchange lokal seperti Tokocrypto, Pintu, dan Reku yang beroperasi di bawah regulasi Bappebti. Lisensi Coinbase di Inggris memberikan tekanan bagi regulator Indonesia untuk segera menyelesaikan kerangka aset digital yang komprehensif, termasuk mengatur derivatif kripto (saat ini hanya spot) dan stablecoin. Di sisi lain, investor ritel Indonesia yang melek global dapat mengakses langsung platform Coinbase UK, berpotensi mengurangi pangsa pasar exchange domestik. Rupiah di level 17.975 terhadap dolar AS juga memperkuat daya tarik stablecoin berbasis dolar sebagai alat lindung nilai, yang bisa mengalihkan dana dari perbankan jika tidak diatur secara ketat. Bank Indonesia dan OJK perlu mencermati tren ini untuk menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.