1 JUN 2026
Coinbase Gandeng IMPS di India — Sinyal Adopsi Kripto Asia Makin Serius

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Coinbase Gandeng IMPS di India — Sinyal Adopsi Kripto Asia Makin Serius
Forex & Crypto

Coinbase Gandeng IMPS di India — Sinyal Adopsi Kripto Asia Makin Serius

Tim Redaksi Feedberry ·31 Mei 2026 pukul 23.30 · Sumber: CoinDesk ↗
6.7 Skor

Coinbase membuka akses langsung INR di India — pasar kripto terbesar Asia berdasarkan adopsi. Langkah ini memperkuat tren regulasi dan infrastruktur yang bisa menular ke Indonesia, baik dari sisi persaingan bursa maupun tekanan terhadap Rupiah Digital.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Coinbase, bursa kripto terdaftar di Nasdaq, mengumumkan peluncuran akses langsung deposit dan penarikan rupee India (INR) melalui sistem IMPS mulai 1 Juni 2026.

Langkah ini memotong jalur P2P yang selama ini rentan terhadap penipuan dan pembekuan rekening, serta memberikan akses langsung dari rekening bank ke platform crypto tanpa perantara. Coinbase juga menghadirkan perdagangan spot dan perpetual futures dengan buku order INR lokal, menyasar baik ritel maupun institusi. Keputusan ini menandai komitmen jangka panjang Coinbase di India, negara yang menurut data Chainalysis menempati peringkat pertama dalam Global Crypto Adoption Index 2025. Pasar kripto India sendiri bernilai USD3,04 miliar pada 2025 dan diproyeksikan mencapai USD14,21 miliar pada 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan 18,66%. Bagi Coinbase, ini adalah langkah berani di tengah tekanan finansial: perusahaan melaporkan rugi USD1,49 per saham, jauh di bawah ekspektasi, dan pada awal Mei memangkas 14% tenaga kerja.

Namun kehadiran langsung di India memperkuat posisinya melawan bursa lokal dan global yang sudah lebih dulu mapan. Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa langkah ini terjadi di saat tekanan jual institusional di AS meningkat — Coinbase Premium Index menurun, ETF spot Bitcoin mencatat outflow USD1,3 miliar dalam empat hari, dan open interest futures turun USD1,5 miliar. Ini berarti Coinbase mengambil risiko ekspansi di tengah siklus risk-off global. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki dampak langsung dan tidak langsung. Pertama, pasar kripto Indonesia yang juga didominasi ritel dan bergantung pada jalur P2P serupa berpotensi melihat tekanan kompetitif — jika Coinbase berhasil di India, bukan tidak mungkin ekspansi serupa ke Indonesia.

Kedua, adopsi stablecoin dan infrastruktur pembayaran kripto yang semakin matang memperkuat posisi dolar AS di ekosistem on-chain, yang bisa menjadi pertimbangan bagi Bank Indonesia dalam pengembangan Rupiah Digital. Ketiga, sentimen risk appetite global yang tercermin dari pergerakan Bitcoin dan bursa kripto besar akan memengaruhi arus modal ke emerging market, termasuk IHSG dan rupiah. Saat ini USD/IDR di 17.878 dan IHSG di 6.127 menunjukkan tekanan yang sudah ada. Investor Indonesia perlu mencermati apakah langkah Coinbase ini akan memicu kenaikan volume perdagangan kripto domestik atau justru menjadi katalis outflow jika sentimen global memburuk. Dalam 1-4 minggu ke depan, sinyal kunci adalah respons harga Bitcoin dan arus ETF AS pasca peluncuran produk perpetual futures di AS yang disetujui CFTC.

Jika Bitcoin mampu bertahan di atas dukungan USD76.000-77.000, sentimen risk-on bisa menyebar dan mendorong inflow ke aset berisiko Indonesia. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut, Coinbase Premium Index yang negatif bisa menjadi indikator awal pelemahan lebih lanjut di pasar kripto global, yang berpotensi menular ke pasar saham dan valas Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Coinbase masuk langsung ke India bukan sekadar ekspansi bisnis — ini adalah uji coba model regulasi onshore untuk kripto di pasar berkembang. Jika sukses, pola ini bisa direplikasi ke negara lain termasuk Indonesia, mengubah lanskap persaingan bursa lokal dan tekanan terhadap kebijakan Rupiah Digital BI. Yang lebih penting, langkah ini terjadi di tengah tekanan jual institusional di AS, sehingga risiko kegagalan bisa memberikan sinyal negatif ke seluruh ekosistem kripto global — dan Indonesia sebagai salah satu pasar ritel terbesar akan merasakan dampak sentimennya.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa kripto lokal Indonesia (seperti Indodax, Tokocrypto, Pintu) akan menghadapi tekanan kompetitif jika Coinbase memutuskan ekspansi serupa ke Indonesia. Akses langsung bank-to-crypto yang diatur dengan baik bisa mengurangi pangsa pasar P2P dan menekan margin spread perdagangan.
  • Perusahaan fintech dan startup blockchain yang mengandalkan volume perdagangan kripto akan terpengaruh oleh pergeseran arus likuiditas global. Jika Coinbase Premium Index terus melemah, sentimen risk-off bisa menekan valuasi startup kripto Indonesia yang masih bergantung pada pendanaan luar negeri.
  • Bank Indonesia dan OJK dalam menyusun regulasi aset digital akan mendapatkan referensi konkret dari model India — apakah mengadopsi pendekatan terbuka seperti Coinbase atau justru memperketat pembatasan. Keputusan ini bisa memengaruhi biaya kepatuhan dan model bisnis exchange lokal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons regulator Indonesia (Bappebti/OJK) terhadap langkah Coinbase di India — apakah ada sinyal pembukaan akses serupa atau justru peringatan bagi investor ritel.
  • Risiko yang perlu dicermati: tekanan jual berkelanjutan di pasar kripto AS — jika outflow ETF Bitcoin melebihi USD2 miliar dan Coinbase Premium tetap negatif selama dua minggu, sentimen risk-off bisa memperlemah rupiah dan memicu aksi jual asing di SBN dan IHSG.
  • Sinyal penting: volume perdagangan kripto Indonesia bulan Juni — jika melonjak signifikan seiring berita Coinbase, itu menandakan minat ritel masih tinggi; jika stagnan atau menurun, indikasi bahwa pasar lokal lebih terpengaruh faktor domestik (seperti tekanan rupiah dan suku bunga tinggi).

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki pasar kripto ritel yang aktif dengan volume perdagangan yang fluktuatif, namun masih bergantung pada platform lokal dan jalur P2P. Meski Coinbase belum resmi beroperasi di Indonesia, kesuksesan model onshore di India — termasuk integrasi perbankan langsung dan produk derivatif teregulasi — bisa menjadi preseden bagi regulator Indonesia untuk mempercepat penyusunan kerangka hukum aset digital yang lebih komprehensif. Di sisi lain, apabila Coinbase Premium Index terus menurun dan tekanan jual institusional global berlanjut, sentimen risk-off akan berdampak langsung pada IHSG dan nilai tukar rupiah, karena investor asing cenderung menarik dana dari emerging market saat ketidakpastian tinggi. Oleh karena itu, perkembangan di pasar kripto global merupakan indikator risiko yang perlu dicermati pelaku bisnis dan investor Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.