30 JUL 2026
CLARITY Act: Jaksa AS Usulkan Revisi, Tarik Ulur dengan Gedung Putih

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / CLARITY Act: Jaksa AS Usulkan Revisi, Tarik Ulur dengan Gedung Putih
Forex & Crypto

CLARITY Act: Jaksa AS Usulkan Revisi, Tarik Ulur dengan Gedung Putih

Tim Redaksi Feedberry ·29 Juli 2026 pukul 19.43 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.3 Skor

Voting window sempit sebelum reses Senat, tetapi dampak langsung ke Indonesia terbatas pada sentimen risk-off yang bisa menekan pasar kripto ritel domestik.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
CLARITY Act (Digital Asset Market Clarity Act)
Penerbit
Kongres Amerika Serikat (Senat)
Perubahan Kunci
  • ·Usulan perubahan pada BRCA dalam CLARITY agar pedoman pengembang tidak menciptakan, memperluas, atau mengubah kewajiban pidana federal
Pihak Terdampak
Pengembang dan platform aset digitalSEC dan CFTC sebagai regulatorInvestor kripto global, termasuk IndonesiaWhite House dan anggota Senat

Ringkasan Eksekutif

Ketidakpastian regulasi kripto di Amerika Serikat kembali memanas menjelang reses Senat. Sebuah laporan Politico mengungkapkan bahwa dua organisasi jaksa penuntut federal — National Association of Assistant US Attorneys dan National District Attorneys Association — telah mengirim surat kepada Gedung Putih yang mengusulkan perubahan pada CLARITY Act. Fokus perubahan adalah pada klausul BRCA di dalamnya, agar pedoman untuk pengembang aset digital tidak memperluas kewajiban pidana federal. Respons Gedung Putih keras: penasihat kripto Patrick Witt menyatakan posisi perubahan itu 'tidak mendekati sama sekali' dengan sikap pemerintahan Trump dan mengisyaratkan tidak akan ada negosiasi produktif dalam waktu dekat. CLARITY Act adalah rancangan undang-undang struktur pasar kripto yang komprehensif.

Salah satu poin krusialnya adalah mengalihkan sebagian besar wewenang pengawasan aset digital dari Securities and Exchange Commission (SEC) ke Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Peralihan ini didukung oleh banyak pelaku industri karena dianggap lebih ramah terhadap inovasi. Namun, penentangan dari Demokrat cukup kuat, terutama terkait klausul etika yang menyangkut investasi kripto Presiden Trump yang pada 2025 disebut menghasilkan keuntungan USD 1,4 miliar. Hal ini menambah dimensi politis pada RUU tersebut. Waktu menjadi faktor kritis. Senat AS akan memasuki reses state work period mulai 7 Agustus hingga 14 September 2026. Setelah itu, fokus akan beralih ke pemilu paruh waktu November 2026, yang biasanya memperkecil peluang lolosnya RUU kontroversial.

Anne Kelley dari Mercury Strategies mencatat bahwa bahkan jika RUU segera dibawa ke lantai Senat, tahapan prosedural mulai dari cloture, amandemen, hingga debat 30 jam sulit diselesaikan tanpa kesepakatan unanimous consent. Apalagi Ketua Mayoritas Senat John Thune sendiri mengindikasikan kemungkinan kecil adanya voting sebelum reses. Dampak terhadap Indonesia perlu dibaca secara hati-hati. Pasar kripto domestik, yang hingga saat ini masih diwarnai investor ritel aktif, sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Ketidakpastian regulasi di AS dapat memicu aksi jual aset kripto secara global, yang kemudian menekan volume perdagangan exchange lokal dan nilai portofolio investor kripto Indonesia.

Di sisi lain, terhambatnya CLARITY juga berarti peralihan wewenang dari SEC ke CFTC tertunda — sebuah kerangka regulasi yang selama ini dinanti pelaku pasar sebagai acuan.

Dalam jangka pendek,

Mengapa Ini Penting

Regulasi kripto AS sering menjadi tolok ukur bagi regulator negara lain, termasuk Indonesia. Jika CLARITY gagal disahkan, kepastian hukum bagi pelaku industri kripto global tertunda, yang dapat memperpanjang masa ketidakpastian bagi exchange lokal seperti yang terdaftar di Bappebti. Selain itu, penundaan ini berpotensi mempersempit ruang bagi OJK dan Bappebti untuk menyusun kerangka aturan yang selaras dengan standar global, sehingga risiko regulatory mismatch semakin besar.

Dampak ke Bisnis

  • Investor ritel kripto Indonesia: Ketidakpastian global memicu aksi jual aset digital, menekan nilai portofolio dan volume perdagangan exchange lokal. Sentimen risk-off juga dapat merembet ke saham teknologi di IHSG yang dikaitkan dengan ekosistem digital.
  • Emiten dan startup blockchain: Perusahaan blockchain Indonesia yang berencana ekspansi atau listing di AS akan menghadapi ketidakjelasan regulasi lebih lama. Ini bisa menghambat pendanaan dan kemitraan strategis dengan institusi global.
  • Regulator domestik (OJK/Bappebti): Otoritas aset digital Indonesia harus menunggu kejelasan kerangka AS untuk menghindari ketidakselarasan aturan. Jika CLARITY gagal, Bappebti mungkin perlu mempertahankan status quo sambil menyiapkan skenario adaptasi mandiri.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan voting di Senat AS sebelum reses 7 Agustus — jika tidak ada kemajuan, ketidakpastian akan berlanjut hingga September 2026.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi aksi jual besar di pasar kripto global akibat frustrasi pelaku pasar — dapat memicu tekanan lebih dalam ke IHSG sektor teknologi dan volume kripto domestik.
  • Sinyal penting: reaksi resmi Bappebti dan OJK terhadap dinamika CLARITY — apakah akan mengeluarkan pernyataan kebijakan sementara atau menunda rencana regulasi baru.

Konteks Indonesia

Pasar kripto Indonesia yang didominasi investor ritel sangat terpengaruh oleh sentimen global. Ketidakpastian regulasi di AS dapat mempercepat aksi ambil untung investor lokal dan menekan volume perdagangan. Selain itu, penundaan CLARITY menghilangkan acuan regulasi yang dinanti oleh Bappebti dan OJK dalam merancang kerangka aturan aset digital yang komprehensif — membuat pengembangan ekosistem kripto Indonesia berjalan di tempat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.