17 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Circle Bidik 40 Pasar Berkembang Lewat Stablecoin
Forex & Crypto

Circle Bidik 40 Pasar Berkembang Lewat Stablecoin

Tim Redaksi Feedberry ·17 Oktober 2026 pukul 17.00 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.3 Skor

Ekspansi Circle ke 40 pasar berkembang memperluas stablecoin dari aset kripto menjadi rel pembayaran lintas batas — relevan bagi industri remitansi, dompet digital, dan stabilitas simpanan dolar di Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Circle, penerbit stablecoin USDC, membidik sekitar 40 pasar berkembang di Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah. CEO Jeremy Allaire menyatakan perusahaan berada di titik infleksi peralihan blockchain dari fase pengadopsi awal menuju penskalaan arus utama. Pernyataan itu disampaikan di sela pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok. Fokus Circle bukan lagi sekadar perdagangan aset kripto, melainkan membuka akses ke sistem ekonomi berbasis internet bagi bisnis dan individu di pasar yang selama ini terkendala layanan dolar dan pembayaran lintas batas. Dua angka memperlihatkan arah strategi ini. Meski USDC masih berada di bawah Tether (USDt) dari sisi kapitalisasi pasar, pangsa USDC dalam volume transaksi stablecoin yang disesuaikan naik dari sekitar 40% pada 2025 menjadi lebih dari 60% sepanjang 2026.

Artinya, USDC semakin banyak dipakai sebagai alat transaksi, bukan hanya tempat menyimpan dana. Circle juga sepakat mengakuisisi Tazapay, platform pembayaran lintas batas asal Singapura, dalam transaksi all-stock senilai US$400 juta yang diperkirakan tuntas pada 2027. Akuisisi ini menjadi sinyal bahwa ekspansi ke pasar berkembang membutuhkan rel pembayaran lokal, bukan hanya token di blockchain. Bagi pasar berkembang, daya tarik stablecoin terletak pada fungsi yang sangat praktis: transfer dana lintas negara, pembayaran bisnis, dan akses terhadap instrumen berdenominasi dolar. Di kawasan dengan biaya remitansi tinggi dan akses dolar terbatas, stablecoin dapat memangkas waktu penyelesaian dan memperluas jangkauan pembayaran. Namun ekspansi Circle juga membawa efek samping.

Semakin mudah dolar digital dipegang, semakin besar insentif bagi simpanan domestik untuk berpindah ke instrumen dolar, terutama ketika mata uang lokal sedang tertekan. Persaingan juga bergeser ke penyedia dompet digital, bursa kripto lokal, dan jaringan pembayaran yang mampu mengonversi stablecoin ke mata uang lokal dengan cepat. Konteks pasar saat ini memperkuat urgensi untuk mencermati langkah Circle. IHSG berada di 5.185, USD/IDR di 18.000, dan Brent di US$109,86. Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan volatilitas pasar global membuat instrumen berdenominasi dolar semakin menarik bagi investor maupun pelaku usaha. Di Indonesia, jalur dampaknya berjalan melalui koridor remitansi, integrasi pembayaran lintas batas, dan persaingan di industri jasa pengiriman uang.

Operator remitansi konvensional dan bank koresponden akan menghadapi tekanan margin jika stablecoin makin lazim dipakai. Sebaliknya, dompet digital dan bursa kripto lokal berpotensi menambah volume.

Mengapa Ini Penting

Langkah Circle menandai pergeseran stablecoin dari instrumen trading menjadi rel pembayaran yang menyentuh remitansi dan transaksi bisnis. Dampaknya bukan pada harga token, melainkan pada margin operator pengiriman uang, bank koresponden, dan model bisnis pembayaran lintas batas. Jika adopsi meluas, pemenangnya adalah pemilik jaringan konversi lokal dan dompet digital; yang tertekan adalah perantara yang hidup dari selisih kurs dan biaya transfer.

Dampak ke Bisnis

  • Operator remitansi dan bank koresponden menghadapi tekanan margin karena stablecoin menawarkan penyelesaian lintas batas yang lebih cepat dan murah; sumber pendapatan dari selisih kurs dan biaya layanan berpotensi menyusut jika stablecoin makin dipakai untuk pengiriman dana.
  • Dompet digital, bursa kripto lokal, dan penyedia pembayaran yang mampu mengonversi USDC ke rupiah berpeluang menambah volume; akuisisi Tazapay menunjukkan bahwa jaringan pembayaran lokal menjadi aset strategis dalam ekspansi Circle.
  • Kemudahan memegang dolar digital dapat memperbesar risiko perpindahan simpanan domestik ke instrumen dolar, terutama saat USD/IDR berada di 18.000; bank dan pengelola likuiditas perlu mencermati dampaknya pada basis dana dan stabilitas rupiah dalam 3–6 bulan ke depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: daftar pasar Asia Tenggara yang akan dimasuki Circle dalam 1–4 minggu ke depan — jika Indonesia disebut, dampak ke industri remitansi dan pembayaran domestik menjadi lebih konkret.
  • Risiko yang perlu dicermati: arah kebijakan OJK dan Bappebti terhadap stablecoin, kustodi aset digital, dan pembayaran lintas batas — kerangka lisensi yang ketat dapat memperlambat penetrasi, sebaliknya rel yang longgar mempercepat perpindahan simpanan ke dolar digital.
  • Sinyal penting: perkembangan akuisisi Tazapay senilai US$400 juta dan pangsa volume transaksi USDC — keduanya menjadi penanda apakah strategi Circle berjalan dari rencana ekspansi menjadi infrastruktur pembayaran yang benar-benar dipakai di pasar berkembang.

Konteks Indonesia

Jalur dampak ke Indonesia berjalan melalui koridor remitansi dan pembayaran lintas batas. Ekspansi Circle ke Asia Tenggara dapat mempercepat masuknya stablecoin berdenominasi dolar ke layanan pengiriman uang, menekan biaya transfer, tetapi memperketat persaingan bagi operator remitansi dan bank koresponden. Kemudahan memegang dolar digital juga berpotensi menjadi saluran perpindahan simpanan domestik ke instrumen dolar, terutama dengan USD/IDR di 18.000. Di sisi lain, dompet digital dan bursa kripto lokal berpeluang menambah volume jika stablecoin makin lazim dipakai menerima pembayaran. Otoritas aset digital domestik perlu menimbang kerangka lisensi, kustodi, dan anti pencucian uang seiring pergeseran pengawasan dari Bappebti ke OJK.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.