Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Proyek ini adalah uji coba institusional tahap awal, sehingga urgensi rendah. Namun dampak potensialnya luas (perbankan, remitansi, regulasi) dan relevan bagi Indonesia sebagai negara dengan pasar kripto aktif dan ketergantungan pada sistem pembayaran lintas batas.
- Jenis Aksi
- ekspansi
- Timeline
- Tidak ada jadwal implementasi produksi yang diumumkan; saat ini masih dalam tahap working group.
- Alasan Strategis
- Eksplorasi penggunaan stablecoin teregulasi untuk settlement valas real-time guna meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan mengurangi biaya infrastruktur perbankan tradisional.
- Pihak Terlibat
- ChainlinkFairSquareLabUnified Korea Alliance (UniKA)Qivalis
Ringkasan Eksekutif
Chainlink bergabung dengan konsorsium perbankan Eropa dan Korea Selatan dalam Project Pangea untuk mengeksplorasi penggunaan stablecoin berdenominasi euro dan won dalam penyelesaian transaksi valuta asing (FX) secara real-time. Proyek ini melibatkan UniKA, konsorsium yang mencakup lebih dari selusin bank komersial Korea, dan Qivalis, konsorsium stablecoin euro yang didukung oleh 37 bank Eropa. Tujuannya adalah mengevaluasi pertukaran atomik (atomic swap) stablecoin euro-won menggunakan infrastruktur data Chainlink dan teknologi penyelesaian onchain milik FairSquareLab. Inisiatif ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas di mana bank-bank global mulai menguji stablecoin dan tokenized deposits untuk infrastruktur keuangan grosir, bukan untuk pembayaran konsumen.
Bank for International Settlements (BIS) mencatat pasar valas global memproses sekitar USD 9,6 triliun per hari, sehingga potensi efisiensi dari settlement 24/7 sangat besar. Meskipun Project Pangea masih berstatus working group tanpa jadwal implementasi produksi, langkah ini menegaskan arah adopsi stablecoin di tingkat institusional yang semakin konkret. Dalam konteks yang lebih luas, beberapa inisiatif serupa juga bermunculan. Trace Finance baru saja mengumpulkan USD 32 juta untuk ekspansi settlement stablecoin lintas batas, sementara Mastercard telah membuka jaringan settlement 24/7 yang mendukung stablecoin teregulasi seperti USDC dan PYUSD. Bahkan, Inggris melalui Bank of England dan FCA sedang mendorong sistem settlement hampir 24/7 untuk mendukung tokenisasi pasar modal.
Semua ini menunjukkan bahwa stablecoin tidak lagi hanya aset spekulatif, melainkan mulai diadopsi sebagai infrastruktur pembayaran institusional yang sah. Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi bertahap namun penting. Pertama, ketika institusi keuangan global semakin percaya pada stablecoin, kepercayaan terhadap aset digital secara umum dapat meningkat di kalangan investor Indonesia yang sangat aktif di bursa kripto lokal. Kedua, potensi pengurangan biaya dan waktu settlement lintas batas sangat relevan bagi Indonesia sebagai salah satu negara penerima remitansi terbesar di Asia Tenggara. Biaya remitansi yang lebih murah bisa mendorong inklusi keuangan dan efisiensi bagi pekerja migran Indonesia.
Ketiga, Bank Indonesia yang tengah mengembangkan Rupiah Digital perlu mencermati arah regulasi global, termasuk keputusan Kongres AS yang melarang CBDC hingga 2030 dan lisensi stablecoin pertama di Hong Kong, untuk menentukan posisi Indonesia dalam memilih antara CBDC atau stablecoin swasta.
Mengapa Ini Penting
Ini bukan sekadar berita teknologi — ini sinyal bahwa perbankan arus utama global mulai menganggap stablecoin sebagai infrastruktur settlement yang sah. Jika proyek ini berhasil, model penyelesaian valas 24/7 dapat mengurangi biaya, mempercepat waktu settlement, dan menekan margin bank koresponden tradisional. Bagi Indonesia, adopsi ini berpotensi mengubah lanskap remitansi, pembayaran lintas batas, dan bahkan kebijakan moneter digital — terutama ketika regulator domestik masih dalam tahap konsultasi publik untuk kerangka aset digital.
Dampak ke Bisnis
- Bank-bank BUMN Indonesia (seperti BRI, Mandiri, BNI) yang saat ini menjadi bank koresponden internasional untuk remitansi dan settlement valas berpotensi kehilangan pangsa pasar jika infrastruktur stablecoin global efisien dan lebih murah. Namun, mereka juga bisa menjadi pengadopsi awal jika regulator mengizinkan.
- Perusahaan fintech dan penyedia layanan remitansi di Indonesia (seperti Flip, Wise, atau platform P2P lintas batas) akan diuntungkan oleh infrastruktur yang lebih murah dan cepat, memungkinkan mereka menawarkan tarif lebih kompetitif ke pengguna akhir.
- Exchange kripto lokal (Indodax, Tokocrypto, Pintu) dapat mengalami peningkatan volume perdagangan stablecoin karena meningkatnya kepercayaan institusional, terutama sebagai alat lindung nilai terhadap pelemahan rupiah — meskipun rupiah saat ini berada di area tekanan tinggi.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: hasil uji coba Project Pangea dalam 3-6 bulan ke depan — apakah bank-bank Korea dan Eropa akan mengumumkan pilot transaksi riil atau memperluas cakupan ke mata uang lain seperti dolar AS.
- Risiko yang perlu dicermati: fragmentasi regulasi antar yurisdiksi — jika UEA, Uni Eropa, dan AS mengambil pendekatan berbeda terhadap stablecoin, Indonesia harus hati-hati memilih standar agar tidak tertinggal atau terlalu restriktif.
- Sinyal penting: pernyataan resmi OJK dan Bank Indonesia mengenai status stablecoin dan CBDC — apakah akan ada harmonisasi dengan standar global seperti yang diinisiasi oleh BIS atau justru mengambil jalur independen.
Konteks Indonesia
Indonesia memiliki pasar kripto ritel yang sangat aktif di Asia Tenggara. Adopsi stablecoin oleh institusi keuangan global dapat meningkatkan kepercayaan terhadap aset digital secara umum, berpotensi mendorong volume perdagangan di exchange lokal. Selain itu, Indonesia sebagai penerima remitansi terbesar di kawasan akan diuntungkan jika infrastruktur settlement stablecoin lintas batas tersedia secara luas, mengurangi biaya dan waktu pengiriman uang dari pekerja migran. Bank Indonesia yang tengah mengembangkan Rupiah Digital perlu mencermati arah regulasi global untuk menentukan apakah akan mengadopsi pendekatan CBDC murni atau membuka ruang bagi stablecoin swasta yang teregulasi.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.