Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Pernyataan ini menandai pergeseran narasi dari sekadar Treasury ke ekuitas sebagai pilar utama tokenisasi. Dampak ke Indonesia langsung: risiko capital outflow ke platform global dan regulasi yang belum siap.
Ringkasan Eksekutif
Carlos Domingo, CEO Securitize, menyatakan bahwa tokenisasi saham dan ETF, bukan sekadar Treasury, akan menjadi katalis yang mengerek pasar aset real dunia (RWA) dari sekitar US$30 miliar saat ini menjadi hingga US$5 triliun. Dalam panel ETHConf di New York, ia berargumen bahwa pasar ekuitas global senilai US$150 triliun — jika hanya 2-3% pindah ke rantai blok — sudah cukup untuk mencapai angka tersebut. Domingo mengkritik banyak produk saham tokenisasi yang ada saat ini sebagai produk sintetis, bukan ekuitas tokenisasi sejati yang memberikan kepemilikan langsung, hak suara, dan dividen. Ia menegaskan bahwa rantai blok publik, khususnya Ethereum, adalah fondasi terbaik untuk tokenisasi institusional.
Pernyataan ini muncul saat Securitize bersiap go public melalui merger SPAC dengan Cantor Equity Partners II (CEPT), dengan persetujuan SEC atas formulir S-4 pada awal Juni 2026. Perusahaan yang didukung BlackRock ini juga telah mengumumkan kemitraan dengan New York Stock Exchange dan transfer agent Computershare untuk memungkinkan perdagangan dan penyelesaian saham on-chain. Data terkini menunjukkan total nilai aset RWA yang ditokenisasi telah mencapai rekor US$32 miliar pada Mei 2026, naik sekitar 220% dalam 12 bulan terakhir. Dari jumlah itu, Treasury AS mendominasi sekitar setengahnya, sementara saham tokenisasi baru sekitar 4,8% atau US$1,5 miliar. Namun, sektor inilah yang mencatat pertumbuhan tercepat: naik 422% dalam periode yang sama.
Faktor pendorong utama meliputi adopsi institusional yang cepat — platform xStocks milik Payward mencatat volume perdagangan kumulatif lebih dari US$25 miliar dalam delapan bulan, dengan tokenized shares SpaceX menjadi sorotan. IPO tokenisasi SpaceX yang dibuka Bybit pada 7 Juni 2026 memungkinkan investor ritel di Indonesia membeli saham tokenisasi tanpa rekening broker tradisional, dengan harga IPO dan perdagangan spot mulai 12 Juni.
Langkah ini menempatkan Indonesia — yang memiliki salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia Tenggara — di persimpangan antara peluang akses global dan risiko regulasi yang belum matang. Regulator domestik, OJK dan Bappebti, belum memiliki kerangka khusus untuk tokenized securities. Tanpa regulasi yang jelas, investor Indonesia terekspos pada produk asing tanpa perlindungan hukum domestik, dan potensi capital outflow ke platform global yang menawarkan yield lebih tinggi akan meningkat.
Di sisi lain, perkembangan ini bisa mendorong percepatan penyusunan aturan tokenisasi aset keuangan di Indonesia.
Mengapa Ini Penting
Pernyataan Domingo menandai pergeseran fundamental: dari Treasury sebagai primadona tokenisasi menjadi ekuitas sebagai mesin pertumbuhan berikutnya. Ini berarti pasar modal tradisional — termasuk yang ada di Indonesia — mulai menghadapi disrupsi nyata dari teknologi blockchain. Bagi investor Indonesia, peluang akses langsung ke IPO kelas dunia seperti SpaceX menjadi lebih nyata, namun juga membawa risiko perlindungan konsumen yang belum siap dan potensi arus keluar modal ke instrumen global yang lebih likuid dan berimbal hasil kompetitif.
Dampak ke Bisnis
- Bagi exchange kripto Indonesia (seperti Tokocrypto, Indodax, Pintu): Tekanan untuk menyediakan produk tokenized shares semakin besar, namun regulasi Bappebti/OJK belum mengakomodasi. Ini menciptakan celah hukum yang berisiko jika platform lokal menawarkan produk serupa tanpa izin yang jelas.
- Bagi investor ritel kripto Indonesia: Akses ke IPO global seperti SpaceX kini terbuka melalui Bybit. Namun, perlindungan konsumen minim — jika platform bangkrut atau terjadi sengketa kepemilikan aset, hukum Indonesia belum menjangkau. Risiko fraud dan kerugian modal menjadi lebih tinggi.
- Bagi regulator (OJK dan Bappebti): Tekanan untuk menyusun kerangka regulasi tokenized securities semakin mendesak. Tanpa aturan yang jelas, Indonesia berpotensi kehilangan potensi pendapatan pajak dan pengawasan, sementara investornya terekspos risiko tanpa jaring pengaman. Di sisi lain, regulasi yang terlalu ketat bisa mendorong pelaku usaha ke yurisdiksi lain.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: Hasil pemungutan suara pemegang saham Securitize pada 29 Juni 2026 — jika merger SPAC disetujui, saham SECZ akan tercatat di NYSE. Ini bisa menjadi katalis sentimen positif bagi saham kripto global dan memperkuat adopsi tokenisasi institusional.
- Risiko yang perlu dicermati: Respons OJK dan Bappebti terhadap booming tokenized IPO global — jika ada pernyataan resmi melarang atau membatasi akses melalui VPN, permintaan di platform global bisa turun drastis namun risiko hukum bagi pengguna Indonesia meningkat.
- Sinyal penting: Volume perdagangan tokenized shares SpaceX di Bybit setelah listing 12 Juni — jika permintaan melonjak maka ini menjadi bukti pasar yang valid dan bisa memicu keputusan regulator lebih cepat. Jika sepi, momentum bisa mereda.
Konteks Indonesia
Indonesia memiliki salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia Tenggara. Dengan hadirnya tokenized IPO seperti SpaceX melalui Bybit, investor Indonesia kini bisa membeli saham perusahaan global tanpa perantara broker tradisional. Namun, OJK dan Bappebti belum memiliki kerangka regulasi khusus untuk tokenized securities. Hal ini menimbulkan dua risiko: pertama, potensi capital outflow ke platform global yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi di tengah tekanan rupiah (USD/IDR di 18.136 per data pasar terkini). Kedua, investor Indonesia terekspos pada produk tanpa perlindungan hukum domestik jika terjadi sengketa atau kebangkrutan platform. Tekanan ini bisa mendorong regulator mempercepat penyusunan aturan — atau sebaliknya, memperketat akses dengan alasan perlindungan konsumen. Data dari artikel terkait juga mencatat bahwa nilai aset RWA yang ditokenisasi telah mencapai US$32 miliar, dengan saham tokenisasi tumbuh 422% — menunjukkan bahwa tren ini tidak bisa diabaikan oleh regulator domestik.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.