28 MEI 2026
Capgemini: AI Buka Akses Belanja Klien di Luar IT — Pendapatan Terdiversifikasi

Foto: CNA Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Capgemini: AI Buka Akses Belanja Klien di Luar IT — Pendapatan Terdiversifikasi
Teknologi

Capgemini: AI Buka Akses Belanja Klien di Luar IT — Pendapatan Terdiversifikasi

Tim Redaksi Feedberry ·27 Mei 2026 pukul 16.46 · Sumber: CNA Business ↗
6.7 Skor

Berita strategis tentang perubahan model bisnis global di bidang AI; dampak tidak langsung ke Indonesia melalui rantai pasok teknologi dan persaingan tenaga kerja, namun relevansi langsung terbatas pada korporasi multinasional dan startup lokal.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Capgemini, perusahaan jasa teknologi asal Prancis, mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) membuka akses ke pengeluaran klien di luar anggaran teknologi informasi (IT) tradisional. Pernyataan ini disampaikan CEO Aiman Ezzat dalam Capital Markets Day perusahaan, di mana ia menjelaskan bahwa klien kini memperlakukan AI sebagai perubahan operasional yang lebih luas, bukan sekadar peningkatan IT biasa. Akibatnya, Capgemini mampu menjangkau fungsi bisnis yang lebih beragam, memperkuat hubungan dengan klien dan mendiversifikasi sumber pendapatan. Ezzat menegaskan bahwa hasilnya adalah perusahaan yang lebih tangguh dan terdiversifikasi. Chief Technology Officer Franck Greverie menambahkan bahwa pipa peluang bisnis perusahaan telah melampaui 12 miliar dolar AS, mencerminkan lonjakan permintaan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, Nate Harbacek, Vice President Bisnis Global OpenAI, menyebut bahwa perusahaan sedang beralih dari 'penggunaan individual dan kekaguman ke penyebaran dan skala perusahaan yang nyata', di mana seluruh alur kerja akan diarsitektur ulang. Capgemini, yang merupakan anggota pendiri OpenAI Frontier Alliance, juga menyasar permintaan sistem AI 'berdaulat' yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan data, regulasi, dan hosting lokal. Ezzat mengonfirmasi kerja sama dengan Amazon Web Services, Google Cloud, dan Microsoft untuk menawarkan solusi AI dan cloud spesifik regional, seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan dan pemerintah akan kontrol atas lokasi sistem kritis. Bagi Indonesia, berita ini memiliki dampak tidak langsung namun strategis.

Pertama, perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia kemungkinan akan mengikuti tren global ini, meningkatkan investasi AI di cabang lokal mereka untuk efisiensi operasional. Kedua, permintaan akan infrastruktur cloud dan data center regional—termasuk kemungkinan Indonesia sebagai hub—semakin nyata, mengingat kebutuhan akan kedaulatan data dan latensi rendah. Ketiga, perusahaan jasa TI lokal akan menghadapi tekanan untuk meningkatkan kapabilitas AI agar tetap kompetitif. Namun, adopsi AI yang cepat juga berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja, terutama di sektor knowledge worker seperti akuntansi, keuangan, dan layanan pelanggan. Pemerintah dan pelaku bisnis Indonesia perlu mengantisipasi pergeseran ini melalui program peningkatan keterampilan dan kebijakan yang mendukung transformasi digital.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menandai pergeseran struktural dalam model bisnis jasa teknologi global, di mana AI menjadi pintu masuk ke pengeluaran klien di luar anggaran IT tradisional. Implikasinya bagi Indonesia adalah perubahan dalam persaingan tenaga kerja digital, kebutuhan investasi infrastruktur cloud, serta potensi disrupsi bagi perusahaan jasa TI lokal yang belum siap mengadopsi AI secara masif.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan jasa TI lokal (seperti Admedika, Mitrais, ataupun divisi IT BUMN) akan menghadapi tekanan untuk mengintegrasikan AI dalam layanan mereka agar tidak kehilangan kontrak dari klien multinasional yang mulai mengalihkan belanja ke AI.
  • Permintaan akan data center regional dan cloud sovereign meningkat, membuka peluang bagi pengembang infrastruktur digital Indonesia (seperti Telkom dengan Data Center NeutraDC) dan penyedia cloud global untuk berinvestasi lebih besar di Indonesia.
  • Startup AI lokal (misalnya di bidang agritech, fintech, atau healthtech) mendapat angin segar karena tren global menunjukkan perusahaan besar siap mengalokasikan dana lebih besar untuk solusi AI spesifik, namun mereka juga harus bersaing dengan raksasa global yang masuk melalui kemitraan lokal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rencana investasi cloud dan AI dari AWS, Google, dan Microsoft di Indonesia — bila ada pengumuman baru, ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub digital ASEAN.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika perusahaan multinasional mulai mengotomatisasi fungsi back-office (akuntansi, HR, supply chain) di Indonesia, hal ini dapat mengancam lapangan kerja white-collar dan memicu gelombang PHK di sektor BPO serta jasa keuangan.
  • Sinyal penting: kebijakan pemerintah Indonesia terkait kedaulatan data dan AI — apabila regulasi memperketat persyaratan penyimpanan data lokal, maka permintaan terhadap sistem AI berdaulat (sovereign AI) akan melonjak, menguntungkan penyedia infrastruktur lokal.

Konteks Indonesia

Meskipun Capgemini terutama melayani pasar Eropa dan Amerika, strategi AI-nya memberikan gambaran tentang arah belanja perusahaan global. Bagi Indonesia, hal ini berarti: (1) Perusahaan multinasional di Indonesia — seperti bank asing, perusahaan tambang, atau manufaktur — akan meningkatkan alokasi anggaran untuk AI di luar anggaran IT tradisional, yang dapat mengubah permintaan tenaga kerja lokal (lebih banyak kebutuhan data scientist, lebih sedikit staf administrasi). (2) Kebutuhan akan infrastruktur cloud yang mendukung kedaulatan data (sovereign cloud) semakin relevan, terutama seiring dengan implementasi UU Perlindungan Data Pribadi. Perusahaan seperti Telkom, Indosat, atau penyedia data center lokal berpotensi menjadi mitra bagi Capgemini atau penyedia cloud global. (3) Ekosistem startup AI Indonesia perlu bersiap bersaing dengan solusi global yang masuk melalui kemitraan lokal, namun juga dapat memanfaatkan pendanaan dan akses pasar yang lebih luas. (4) Perubahan model bisnis ini tidak akan berdampak langsung pada IHSG atau rupiah dalam waktu dekat, namun akan membentuk narasi investasi di sektor teknologi dan digital dalam beberapa kuartal ke depan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.