24 SEP 2026
Bybit: Era Bursa Kripto Murni Berakhir, Konsolidasi Dimulai

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bybit: Era Bursa Kripto Murni Berakhir, Konsolidasi Dimulai
Forex & Crypto

Bybit: Era Bursa Kripto Murni Berakhir, Konsolidasi Dimulai

Tim Redaksi Feedberry ·24 September 2026 pukul 11.24 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5 Skor

Pergeseran model bisnis bursa kripto global menandai fase konsolidasi industri, relevan bagi bursa aset digital domestik yang sedang menghadapi transisi pengawasan, namun dampak langsungnya ke pasar keuangan Indonesia masih tidak langsung.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

CEO sekaligus co-founder Bybit, Ben Zhou, menyatakan era bursa kripto murni akan segera berakhir. Alasannya sederhana: nasabah tidak lagi puas hanya bertransaksi aset digital. "Orang yang memperdagangkan kripto juga menginginkan saham, emas, forex, indeks, dan derivatif," ujarnya kepada Cointelegraph pada Kamis. "Mereka ingin membayar, menabung, dan menumbuhkan kekayaan di tempat yang sama." Pernyataan itu menyertai peluncuran kampanye global "Make Your Move" yang memosisikan Bybit sebagai platform keuangan yang lebih luas, bukan sekadar bursa kripto. Pergeseran ini bukan gerakan tunggal. Bybit sebenarnya sudah menawarkan derivatif yang terikat pada saham, emas, dan indeks, plus forex — produk yang memberi eksposur harga tanpa kepemilikan aset dasarnya. Sejumlah bursa mapan justru sedang menutup pintu. BitMEX menghentikan perdagangan pada Rabu setelah 11 tahun beroperasi.

CoinEx mengumumkan penutupan bulan ini dengan alasan volume perdagangan menyusut dan biaya kepatuhan meningkat. BitMart semula berencana tutup pada Juli, tetapi kini menjajaki restrukturisasi agar sebagian operasi bisa berlanjut.

Di sisi lain, Coinbase memperluas layanan lewat strategi "Everything Exchange" dengan menambah saham dan prediction market di samping kripto. Pola ini menunjukkan tekanan struktural yang jarang dibahas: basis pendapatan bursa kripto menyempit. Biaya kepatuhan naik, volume transaksi turun, dan margin dari aktivitas perdagangan spot tergerus. Bursa yang bertahan adalah mereka yang punya skala, lisensi lintas yurisdiksi, dan kemampuan menawarkan produk non-kripto. Artinya, kompetisi tidak lagi antar-bursa kripto, melainkan antara bursa kripto yang berevolusi dan broker serta bank tradional. Produk derivatif berbasis eksposur harga tanpa kepemilikan aset juga membuka pertanyaan regulasi tersendiri, karena mendekati karakteristik kontrak berjangka. Dampaknya menjalar ke ekosistem Indonesia.

Bursa aset digital domestik menghadapi pola tekanan yang sama — volume yang bergantung pada sentimen risk-on/risk-off global, biaya kepatuhan yang naik seiring transisi pengawasan dari Bappebti ke OJK, dan kebutuhan memperluas produk. Jika bursa global memilih jalan konsolidasi atau menutup operasi, pelaku lokal yang tidak punya skala berpotensi tersingkir lebih cepat.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan ini menandai titik balik model bisnis industri kripto: pendapatan dari perdagangan aset digital saja tidak lagi cukup menopang bursa. Konsekuensinya, bursa kripto yang bertahan akan berubah menjadi platform multi-aset yang bersaing langsung dengan broker saham, bank, dan platform pembayaran. Yang kalah bukan hanya bursa kecil, tetapi juga model bisnis yang mengandalkan volume spekulatif semata. Bagi Indonesia, ini preseden soal bagaimana industri aset digital kemungkinan besar terstruktur ketika pengawasan berpindah ke OJK.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa aset digital domestik menghadapi tekanan yang mirip dengan bursa global: volume bergantung pada sentimen global, biaya kepatuhan naik, dan diversifikasi produk menjadi kebutuhan bertahan. Pelaku tanpa skala berisiko tergerus lebih dulu.
  • Perluasan Bybit dan Coinbase ke saham serta derivatif indeks menciptakan kompetisi baru bagi broker sekuritas dan platform investasi ritel — batas antara kanal investasi konvensional dan platform aset digital makin tipis.
  • Produk derivatif berbasis eksposur harga tanpa kepemilikan aset dasar mendekati karakteristik kontrak berjangka, sehingga berpotensi memicu perdebatan regulasi lintas yurisdiksi dalam 3–6 bulan ke depan, termasuk di Indonesia saat kerangka pengawasan aset digital disusun.
  • Penyusutan jumlah bursa global dapat menurunkan likuiditas agregat pasar kripto, yang pada gilirannya memperbesar volatilitas harga dan memperlebar spread — berdampak pada biaya transaksi investor ritel termasuk di Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kelanjutan restrukturisasi BitMart — apakah operasional sebagian benar-benar berlanjut atau berujung penutupan, karena ini menjadi indikator apakah gelombang konsolidasi menyasar bursa menengah atau hanya yang berskala kecil.
  • Risiko yang perlu dicermati: transisi pengawasan aset digital dari Bappebti ke OJK — jika kerangka baru menerapkan syarat modal dan kepatuhan yang ketat, bursa lokal dengan kapasitas terbatas berpotensi kesulitan memenuhi standar.
  • Sinyal penting: eksekusi strategi Coinbase menambah saham dan prediction market di platformnya — bila berhasil, ini akan mengukuhkan pola bahwa platform multi-aset menjadi standar baru industri, memaksa pemain lain menyesuaikan model bisnis.
  • Yang perlu dipantau: volume perdagangan kripto domestik dalam 2 minggu ke depan — penurunan berkelanjutan akan mengonfirmasi apakah sentimen risk-off global menular ke investor ritel Indonesia.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki pasar aset digital ritel yang aktif, sehingga fase konsolidasi bursa kripto global berpotensi memengaruhi jumlah dan skala pemain domestik. Perpindahan pengawasan aset digital dari Bappebti ke OJK sedang berlangsung, dan tren global ini dapat menjadi rujukan maupun peringatan dalam penyusunan kerangka kepatuhan. Selain itu, berkurangnya jumlah bursa global dapat menurunkan likuiditas agregat pasar kripto, yang berdampak pada volatilitas dan biaya transaksi bagi investor ritel Indonesia. Dari sisi pasar, IHSG di 6.299 dan USD/IDR di 17.893 menunjukkan kondisi domestik yang masih sensitif terhadap sentimen global; kripto dan saham teknologi di IHSG sama-sama bergerak mengikuti selera risiko investor.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.