7 JUL 2026
Bursa Global Diminta Pakai Rupiah di Order Book – Dorong Kedaulatan Ekosistem Kripto Nasional

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bursa Global Diminta Pakai Rupiah di Order Book – Dorong Kedaulatan Ekosistem Kripto Nasional
Forex & Crypto

Bursa Global Diminta Pakai Rupiah di Order Book – Dorong Kedaulatan Ekosistem Kripto Nasional

Tim Redaksi Feedberry ·6 Juli 2026 pukul 14.30 · Sinyal tinggi · Sumber: Detik Finance ↗
7 Skor

Desakan penggunaan rupiah di order book bursa global memperkuat kedaulatan moneter dan berpotensi mengubah arus likuiditas kripto, meski masih berupa wacana industri.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Pedagang Aset Kripto (PAKD) dan CEO INDODAX menyerukan agar bursa kripto global yang melayani pengguna Indonesia diwajibkan menampilkan rupiah sebagai quote currency di order book. Seruan ini muncul menyusul pengesahan Undang-Undang P2SK 2026 yang menjadi momentum memperkuat daya saing dan kedaulatan ekosistem aset digital nasional. William Sutanto, CEO INDODAX, menekankan bahwa Indonesia telah memiliki pasar kripto yang besar dan ekosistem matang selama lebih dari satu dekade, sehingga regulasi tidak hanya soal kepatuhan tetapi juga bagaimana memastikan manfaat ekonomi tetap dinikmati di dalam negeri. Ia menilai seluruh pelaku yang melayani pengguna Indonesia harus berada dalam kerangka regulasi yang sama, menciptakan level playing field yang adil, tanpa menutup diri dari likuiditas global.

Dimensi yang tidak terlihat dari headline ini adalah pergeseran struktural di pasar kripto: saat ini mayoritas transaksi kripto di Indonesia masih menggunakan stablecoin berbasis dolar AS (seperti USDT) sebagai alat tukar, bukan rupiah langsung. Jika bursa global diwajibkan menampilkan order book dalam rupiah, maka likuiditas domestik akan semakin terpusat di platform lokal yang sudah memiliki akses langsung ke sistem pembayaran rupiah. Hal ini dapat memperkuat posisi rupiah sebagai alat tukar digital, sejalan dengan upaya Bank Indonesia dalam pengembangan Rupiah Digital. Namun, kebijakan ini juga membawa risiko fragmentasi likuiditas global; jika bursa global enggan mematuhi karena biaya kepatuhan tinggi, pengguna Indonesia bisa kehilangan akses ke harga terbaik dan spread yang ketat.

Dampak langsung akan dirasakan oleh exchange kripto lokal seperti INDODAX, yang akan diuntungkan oleh regulasi yang menyamakan beban kepatuhan antara platform domestik dan global. Sebaliknya, investor ritel mungkin menghadapi pilihan terbatas jika bursa global memilih keluar dari pasar Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Desakan penggunaan rupiah sebagai quote currency tidak hanya soal kepatuhan, tetapi menyentuh inti kedaulatan moneter di era aset digital. Jika terealisasi, rupiah akan menjadi salah satu dari sedikit mata uang negara berkembang yang digunakan sebagai alat transaksi utama di bursa kripto global, memperkuat permintaan domestik dan mengurangi dominasi dolar AS. Di sisi lain, langkah ini bisa memicu resistensi dari platform global yang sudah terbiasa dengan pasangan USDT-IDR, dan berujung pada pengurangan layanan bagi pengguna Indonesia – kerugian yang harus ditimbang antara stabilitas ekosistem dan akses pasar.

Dampak ke Bisnis

  • Exchange kripto lokal seperti INDODAX akan mendapatkan keunggulan kompetitif jika regulasi mewajibkan order book rupiah, karena mereka sudah memiliki infrastruktur pembayaran domestik dan kemitraan dengan bank lokal. Biaya kepatuhan bagi mereka relatif rendah dibandingkan platform global yang harus menyesuaikan sistem.
  • Investor ritel kripto berpotensi menghadapi likuiditas lebih tipis dan spread lebih lebar jika bursa global memilih meninggalkan pasar Indonesia karena tidak adanya insentif ekonomi untuk mematuhi aturan baru. Akses ke likuiditas internasional yang selama ini membuat harga kompetitif bisa terganggu.
  • Bank Indonesia dan OJK akan memiliki data transaksi kripto yang lebih transparan karena semua order book tercatat dalam rupiah, memperkuat pengawasan arus modal dan potensi penerimaan pajak dari transaksi aset digital. Namun, beban administratif baru bagi regulator juga akan meningkat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi dari Bappebti dan OJK mengenai timeline penerapan kewajiban order book rupiah – apakah bersifat segera atau bertahap.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi eksodus bursa global dari Indonesia jika biaya kepatuhan dianggap tidak sebanding dengan volume transaksi pengguna Indonesia – hal ini bisa menekan harga aset kripto di pasar domestik dalam jangka pendek.
  • Sinyal penting: komentar dari Asosiasi Blockchain Indonesia atau pelaku bursa global tentang kesediaan mereka beradaptasi – jika banyak yang menyatakan siap, sentimen positif akan mendorong akuisisi pengguna baru di platform lokal.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.