4 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Teknologi / BRIN Uji Dumakron via Drone, Singkong untuk Api Gambut
Teknologi

BRIN Uji Dumakron via Drone, Singkong untuk Api Gambut

Tim Redaksi Feedberry ·4 November 2026 pukul 01.00 WIB · Sinyal menengah · Sumber: IDXChannel ↗
4.7 Skor

Uji coba masih skala terbatas dan belum mengubah kebijakan, tetapi menyentuh akar persoalan karhutla yang setiap tahun membebani fiskal, rantai pasok sawit, dan biaya kesehatan.

Urgensi
3
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria menyatakan uji coba Dumakron akan digelar di Kalimantan pada 5 November, disemai menggunakan pesawat nirawak. Dumakron adalah bahan semai awan hujan berbentuk garam berukuran 2 hingga 5 mikron yang dikembangkan BRIN sendiri. Ukuran partikelnya yang sangat kecil memungkinkan penyemaian lewat drone, bukan pesawat bermesin besar. Pernyataan itu disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/11/2026). Secara paralel, BRIN menguji bahan berbasis singkong dan Ammonium Polyphosphate (APP) untuk memadamkan titik api di bawah permukaan tanah. Dua inovasi itu menyasar dua problem yang berbeda, dan pembedaannya justru bagian terpenting dari berita ini. Modifikasi cuaca hanya bekerja pada awan: ia mempercepat hujan turun, bukan menciptakan hujan dari langit kosong.

Karena itu, penyemaian lewat drone mengubah ekonomi operasi lebih banyak daripada mengubah kapasitas fisiknya. Drone menghapus kebutuhan landasan pacu, menekan biaya per jam terbang, dan memungkinkan penyemprotan pada jendela cuaca yang sempit di lokasi terpencil. Namun api karhutla Indonesia sebagian besar bersarang di lapisan gambut, tempat air hujan sulit menembus dan bara dapat bertahan di bawah permukaan. Di titik itulah uji singkong dan APP masuk akal: BRIN secara implisit mengakui bahwa hujan buatan tidak menyelesaikan akar masalah, sehingga penanganan harus turun ke tanah. Dampak ekonominya tidak terletak pada satu uji coba, melainkan pada apa yang bisa ditekan biayanya.

CELIOS memperkirakan kerugian ekonomi dan kesehatan karhutla Januari–Agustus 2026 berada di rentang Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun, sementara SIPONGI Kementerian Kehutanan mencatat 202.010,96 hektare terbakar pada periode yang sama. Angka itu tidak hilang, melainkan berpindah menjadi beban fiskal daerah, klaim jaminan kesehatan, dan belanja penanganan tahun berikutnya. Bagi industri sawit, kesiapan karhutla telah bergeser menjadi syarat dagang: pembeli dan kreditur global membacanya sebagai bagian uji tuntas lingkungan dan tata kelola, seperti terlihat pada kasus FAP Agri yang harus menyiapkan data konsesi terverifikasi meski tidak menerima sanksi domestik. Kecepatan respons karena itu bernilai komersial langsung, bukan sekadar prestasi teknis. Ada dua friksi yang perlu dicatat.

Pertama, komponen drone, sensor, dan bahan semai sebagian besar bergerak di ruang impor, sementara rupiah berada di 18.148 per dolar AS — setiap penguatan program berbasis perangkat asing menjadi lebih mahal, dan itu membatasi seberapa cepat metode ini bisa diperluas. Kedua, riset butuh anggaran berkelanjutan tepat ketika ruang fiskal sedang sempit. Di pasar, IHSG berada di 4.904 setelah turun 3,78% dan AALI sebagai proksi CPO di 9.450 setelah turun 1,56%, menandakan premi risiko lingkungan belum masuk ke harga aset perkebunan.

Mengapa Ini Penting

Selama ini respons karhutla dinilai dari berapa pesawat yang diterbangkan dan berapa bom air yang dijatuhkan — ukuran yang mahal dan lambat. Dengan bahan semai mikro yang bisa dibawa drone, satuan biaya respons per hektare berpotensi turun, dan yang lebih penting, waktu reaksi bisa dipersingkat. Bagi industri yang selama ini menanggung risiko reputasi lintas batas, kecepatan respons adalah bentuk lindung nilai komersial, bukan sekadar kepatuhan.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen sawit dan hutan tanaman menghadapi standar verifikasi yang makin ketat dari pembeli ekspor; kemampuan mendokumentasikan patroli, respons awal, dan kondisi konsesi akan menentukan posisi dalam negosiasi kontrak, terlepas dari ada atau tidaknya sanksi domestik.
  • Permintaan turunan berpotensi bergeser ke penyedia jasa drone pertanian, sensor cuaca, bahan semai, serta pemasok Ammonium Polyphosphate dan bahan agro berbasis singkong — sektor yang tidak disebut artikel tetapi menjadi tulang punggung jika metode ini diskalakan.
  • Dalam 3–6 bulan ke depan, yang paling mungkin terasa adalah beban belanja penanganan dan kesehatan daerah di provinsi rawan karhutla; tekanan ini datang bersamaan dengan ruang anggaran yang sedang ketat, sehingga program pencegahan berbasis teknologi berkompetisi langsung dengan pos belanja lain.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pelaksanaan uji Dumakron di Kalimantan pada 5 November — indikator yang menentukan adalah ada tidaknya pengukuran curah hujan atau luas area tersemai, bukan pernyataan efektivitas.
  • Risiko yang perlu dicermati: penguatan rupiah ke arah pelemahan lebih lanjut dari level 18.148 — komponen drone, sensor, dan bahan kimia impor menjadi lebih mahal dan memperlambat perluasan program.
  • Sinyal penting: pembaruan luas terbakar SIPONGI pasca-Agustus serta arah harga AALI di 9.450 — jika premi risiko lingkungan mulai masuk ke harga aset perkebunan, artinya pasar menilai kesiapan karhutla sebagai faktor valuasi, bukan isu musiman.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.