Agenda ini bersifat struktural jangka panjang tanpa dampak langsung ke pasar domestik, tetapi menyentuh arsitektur pembayaran, aliran modal, dan komposisi cadangan devisa yang menjadi fondasi transaksi ekspor-impor Indonesia.
Ringkasan Eksekutif
Lembaga kajian BRICS+ Thinking dalam laporan yang terbit Jumat (30/10/2026) mendesak negara-negara BRICS+ mempercepat pembangunan mekanisme pembayaran lintas negara bersama guna menekan ketergantungan pada dolar AS. Penulis laporan — di antaranya Jim O'Neill, mantan ekonom Goldman Sachs yang mencetuskan istilah BRICS — menilai dukungan bank sentral masing-masing anggota menjadi prasyarat, bukan sekadar deklarasi politik. Arahnya sudah tergambar dalam deklarasi usai pertemuan puncak September di India: menghubungkan sistem pembayaran antarnegara dan memperbesar porsi mata uang lokal dalam transaksi. Yang perlu ditegaskan lebih dulu: ini dua agenda berbeda dengan tingkat kesulitan yang sangat tidak seimbang. Menghubungkan infrastruktur pembayaran dan memakai mata uang lokal dalam perdagangan bilateral adalah pekerjaan teknis yang bisa berjalan bertahap.
Sedangkan mata uang bersama BRICS+ menuntut reformasi besar — independensi bank sentral yang lebih tinggi, pembentukan otoritas moneter tunggal, pengurangan pembatasan arus modal, hingga syarat konvertibilitas bebas di dalam negeri maupun pasar internasional. Laporan itu sendiri menyebut prospeknya belum menjanjikan. Hambatannya bukan hanya teknis, tetapi politis: negara anggota tersebar di beberapa kawasan dan tidak satu pun tampak bersedia menyerahkan kewenangan kebijakan moneter ke satu bank sentral bersama. Rusia dan India sudah menyatakan peluangnya terbatas. Dimensi yang luput dari headline adalah siapa yang sebenarnya menahan proyek ini. Ekonomi terbesar dalam kelompok ini menjalankan kontrol modal yang ketat, dan justru kontrol itulah yang selama ini menjadi instrumen kedaulatan ekonominya.
Mata uang bersama yang konvertibel bebas mensyaratkan kontrol tersebut dibongkar — biaya politik yang jauh lebih besar daripada manfaat simboliknya. Karena itu jalur yang realistis bukan mata uang tunggal, melainkan perluasan penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal dan konektivitas sistem pesan pembayaran. Efeknya terhadap posisi dolar bersifat graduall: pangsa dolar dalam penagihan perdagangan menyusut perlahan tanpa perlu perjanjian mata uang.
Di sisi lain, dorongan ini berhadapan dengan biaya geopolitik yang nyata — ancaman tarif 100% bagi anggota yang membentuk mata uang bersama atau mendukung alternatif dolar menjadi pengaman yang menahan laju proyek politik semacam itu. Bagi Indonesia, jalurnya bukan melalui keanggotaan blok, melainkan melalui biaya transaksi. Eksportir dan importir yang bertransaksi dengan mitra di kawasan tersebut punya insentif memakai penyelesaian mata uang lokal untuk memangkas dua kali konversi dan biaya lindung nilai. Namun konteks pasar saat ini tidak memberi ruang: IHSG berada di 5.057 setelah terkoreksi 4,26%, USD/IDR di 18.138, dan Brent di US$113,47 atau naik 2,41%. Indeks dolar broad tertimbang-dagang yang berada di 121,32 menegaskan bahwa tekanan eksternal masih didominasi kekuatan dolar, bukan pelemahannya.
Mengapa Ini Penting
Relevansi sesungguhnya bukan pada kemungkinan mata uang bersama terbit, melainkan pada pergeseran bertahap cara dunia menagih dan membayar — dan itu menentukan biaya transaksi, kebutuhan lindung nilai, serta komposisi cadangan devisa negara emerging termasuk Indonesia. Pemenangnya adalah penyedia infrastruktur pembayaran dan bank dengan jaringan koresponden luas; yang tertekan adalah perantara kliring dolar untuk perdagangan intra-blok. Perubahan ini tidak akan mengguncang pasar besok, tetapi ia mengikis satu lapis permintaan dolar setiap kali transaksi dialihkan ke mata uang lokal.
Dampak ke Bisnis
- Eksportir dan importir yang bertransaksi dengan mitra di kawasan BRICS+ memperoleh opsi memangkas biaya konversi berganda lewat penyelesaian mata uang lokal — namun manfaatnya baru terasa bila likuiditas pasangan mata uang tersebut cukup dalam, dan itu belum terbukti dari laporan ini.
- Bank dan penyedia jasa pembayaran domestik menghadapi dua arah sekaligus: peluang menjadi simpul konektivitas pembayaran regional, sekaligus risiko kehilangan pendapatan valas bila volume transaksi bergeser dari kliring dolar ke jalur bilateral.
- Emiten berbasis komoditas — batu bara, CPO, nikel — paling awal terpapar karena pembeli utama mereka berada di kawasan yang paling agresif mendorong penagihan non-dolar; kepastian volume bisa datang bersama ruang negosiasi harga yang menyempit, terutama saat permintaan melemah.
- Dalam horizon lebih panjang, diversifikasi cadangan devisa bank sentral menjauh dari dolar akan mengubah komposisi permintaan surat berharga global, yang pada akhirnya memengaruhi imbal hasil dan biaya pendanaan korporasi di pasar berkembang.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: keluaran teknis dari bank sentral anggota BRICS+ dalam dua sampai empat minggu ke depan — uji coba pembayaran yang konkret akan membedakan laporan kajian dari kebijakan yang benar-benar berjalan.
- Risiko yang perlu dicermati: retorika tarif Washington pasca-pemilu sela AS — ancaman tarif 100% yang sudah disuarakan menjadi biaya langsung bagi negara anggota dan dapat memperlambat seluruh agenda pembayaran non-dolar.
- Sinyal penting: volume penyelesaian transaksi mata uang lokal Indonesia dengan mitra dagang utama — di situlah pergeseran nyata terukur, sementara pernyataan soal mata uang bersama tetap berstatus wacana.
Konteks Indonesia
Indonesia tidak berada di dalam blok, tetapi terkena melalui tiga jalur. Pertama, biaya transaksi: perluasan penyelesaian mata uang lokal dapat memangkas konversi berganda bagi eksportir dan importir, dengan manfaat sebanding kedalaman likuiditas pasangan mata uangnya. Kedua, komposisi pembeli: China adalah pasar utama batu bara, CPO, dan nikel nasional, sehingga setiap pergeseran cara penagihan di kawasan itu langsung menyentuh cara emiten komoditas mengelola risiko kurs. Ketiga, tekanan eksternal masih dominan — IHSG di 5.057 setelah terkoreksi 4,26%, USD/IDR di 18.138, dan Brent di US$113,47 memberi konteks bahwa kekuatan dolar, bukan de-dolarisasi, yang menentukan kondisi pasar saat ini. Efek jangka pendek agenda BRICS+ terhadap rupiah dan pasar domestik karena itu terbatas.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.