29 MEI 2026
Bitwise Yakin Hyperliquid Jadi Tulang Punggung Keuangan Masa Depan — ETF HYPE Makin Diminati

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitwise Yakin Hyperliquid Jadi Tulang Punggung Keuangan Masa Depan — ETF HYPE Makin Diminati
Forex & Crypto

Bitwise Yakin Hyperliquid Jadi Tulang Punggung Keuangan Masa Depan — ETF HYPE Makin Diminati

Tim Redaksi Feedberry ·28 Mei 2026 pukul 18.34 · Sinyal menengah · Sumber: CoinDesk ↗
6.7 Skor

Klaim Bitwise memperkuat narasi adopsi institusional Hyperliquid, berpotensi mempengaruhi sentimen risk-on global dan kebijakan regulasi kripto Indonesia secara tidak langsung.

Urgensi
7
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Bitwise, manajer aset kripto institusional, secara terbuka memposisikan Hyperliquid sebagai infrastruktur masa depan untuk keuangan global. Dalam wawancara terbaru, Kepala Riset Bitwise Ryan Rasmussen menyatakan bahwa permintaan investor terhadap produk ETF HYPE sedang melonjak sejak peluncuran BHYP. Bitwise membedakan diri dengan melakukan staking HYPE secara internal untuk memaksimalkan imbal hasil bagi pemegang ETF. Mereka juga mengalokasikan 10% dari biaya manajemen untuk membeli token HYPE ke neraca sendiri guna menyelaraskan kepentingan dengan komunitas. Langkah transparan berupa publikasi alamat dompet cadangan ETF HYPE secara publik memungkinkan investor memverifikasi kepemilikan secara on-chain. Rasmussen berargumen bahwa Hyperliquid berpotensi menjadi salah satu sistem yang digunakan oleh sebagian besar keuangan tradisional di masa depan.

Ia menunjuk pertumbuhan kontrak perpetual, pasar prediksi, dan perdagangan spot sebagai bukti ekosistem yang meluas. Tokenized equities, stablecoins, dan perdagangan 24/7 disebut sebagai tren yang menguntungkan Hyperliquid dalam jangka panjang. Kemitraan baru antara Coinbase dan Hyperliquid terkait likuiditas USDC juga disebut sebagai tanda momentum institusional. Dari sisi fundamental, Rasmussen menyoroti tokenomics HYPE di mana 99% biaya yang dihasilkan platform digunakan untuk membeli dan membakar token HYPE. Mekanisme ini ia bandingkan dengan buyback saham tradisional, menciptakan narasi valuasi yang mudah dipahami investor. Bitwise melihat potensi jangka panjang terkait adopsi perpetual, tokenisasi, dan infrastruktur keuangan berbasis blockchain. Namun, Rasmussen juga mengakui risiko regulasi yang signifikan, terutama pengawasan AS terhadap pasar perpetual futures.

Kekhawatiran inflasi, kebijakan Federal Reserve, dan ketegangan geopolitik disebut sebagai risiko makro yang mempengaruhi pasar kripto. Bursa tradisional dilaporkan mendorong regulator untuk mengawasi Hyperliquid lebih ketat, sesuatu yang Rasmussen nilai sebagai resistensi khas incumbent terhadap teknologi disruptif. Lebih luas, Rasmussen mencatat bahwa penasihat keuangan kini mulai bergerak melampaui skeptisisme dasar tentang kripto. Para wealth manager semakin sering bertanya tentang alokasi portofolio, tokenisasi, dan stablecoins, alih-alih mempertanyakan apakah kripto akan 'menjadi nol'. Ini menandakan pergeseran sentimen institusional yang dapat mendorong adopsi lebih lanjut. Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan karena dapat mempengaruhi selera risiko global, arus modal ke emerging market, serta arah kebijakan Bappebti dan OJK terhadap produk derivatif kripto. Risiko utama

Mengapa Ini Penting

Klaim Bitwise menempatkan Hyperliquid bukan sekadar bursa kripto, melainkan infrastruktur pasar modal masa depan. Jika narasi ini terbukti benar, valuasi HYPE dan platform DeFi serupa bisa mengalami re-rating signifikan, menarik lebih banyak modal institusional global. Sebaliknya, jika regulasi AS bergerak agresif, seluruh sektor derivatif kripto bisa tertekan dan memicu risk-off yang berdampak ke emerging market termasuk Indonesia. Ini bukan sekadar berita kripto — ini sinyal perubahan lanskap keuangan global yang perlu dicermati pelaku bisnis dan investor domestik.

Dampak ke Bisnis

  • Potensi tekanan regulasi di AS akibat keluhan CME/ICE dapat memicu aksi jual aset berisiko global, termasuk saham teknologi Indonesia dan outflow asing dari SBN.
  • Exchange kripto Indonesia seperti Pintu, Tokocrypto, dan Indodax mungkin menghadapi ketidakpastian regulasi jika Bappebti/OJK mengikuti langkah AS dengan membatasi produk derivatif kripto serupa.
  • Di sisi lain, pertumbuhan ETF HYPE dan adopsi institusional kripto dapat memperkuat sentimen risk-on dalam jangka menengah, menguntungkan emiten teknologi dan blockchain di BEI yang terindeks aset digital.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi CFTC terhadap kekhawatiran CME/ICE soal Hyperliquid — jika regulator mengeluarkan pernyataan keras, harga kripto global berpotensi koreksi dalam.
  • Risiko yang perlu dicermati: perluasan pemblokiran Polymarket oleh Kemenkominfo ke platform derivatif lain — ini dapat mengubah peta kompetisi exchange kripto Indonesia dan menekan volume perdagangan ritel.
  • Sinyal penting: pergerakan Bitcoin dan ETF spot BTC minggu ini — outflow berkelanjutan dapat menjadi leading indicator risk-off yang menular ke pasar saham Indonesia.

Konteks Indonesia

Meskipun Hyperliquid berbasis di luar negeri, perkembangan ini relevan bagi Indonesia melalui dua jalur. Pertama, sentimen risk-on/risk-off global yang dipengaruhi kripto dapat mempengaruhi arus modal asing ke IHSG dan SBN. Kedua, regulator Indonesia (Bappebti, OJK) tengah memantau perkembangan platform derivatif kripto global. Indonesia baru saja memblokir Polymarket pada 25 Mei 2026, menunjukkan sikap waspada terhadap produk semacam ini. Jika tekanan regulasi AS meningkat, bukan tidak mungkin Indonesia memperluas pembatasan ke Hyperliquid atau platform serupa, berdampak pada exchange lokal dan investor ritel.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.