29 MEI 2026
Bitcoin Tertekan di Bawah $74K Jelang Opsi Expiry $9 Miliar — Sinyal Risk-Off Global Menguat

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Tertekan di Bawah $74K Jelang Opsi Expiry $9 Miliar — Sinyal Risk-Off Global Menguat
Forex & Crypto

Bitcoin Tertekan di Bawah $74K Jelang Opsi Expiry $9 Miliar — Sinyal Risk-Off Global Menguat

Tim Redaksi Feedberry ·29 Mei 2026 pukul 03.44 · Sumber: Cointelegraph ↗
7.7 Skor

Tekanan Bitcoin diperkuat outflow ETF $1,07 miliar dan inflasi PCE AS 3,8%, menekan risk appetite global dan berpotensi memicu outflow dari pasar Indonesia yang sudah tertekan (IHSG 6.214, rupiah 17.870).

Urgensi
8
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Bitcoin berada di bawah tekanan bearish menjelang opsi expiry bulanan senilai $9 miliar pada Jumat. Harga turun ke $72.500 untuk pertama kalinya dalam enam pekan, memicu likuidasi $342 juta di posisi long. Jika Bitcoin bertahan di bawah $74.000 saat expiry, hanya $306 juta call options yang akan dalam posisi profit, sementara put options bernilai $1,05 miliar — memberi keunggulan besar bagi posisi bearish. Sentimen ini diperkuat oleh arus keluar bersih $1,07 miliar dari spot Bitcoin ETF AS hanya dalam dua hari, dengan BlackRock iShares Bitcoin Trust mencatat outflow $528 juta — rekor harian kedua terbesar. Korporasi seperti Sequans Communications juga mengumumkan likuidasi seluruh kepemilikan Bitcoin, menambah tekanan jual.

Di sisi makro, inflasi PCE AS naik ke 3,8% YoY — tertinggi sejak 2023 — menekan ekspektasi pelonggaran The Fed dan memperkuat dolar AS. Probabilitas Bitcoin mencapai $80.000 pada 26 Juni hanya 18% menurut data opsi Deribit. Namun, put-to-call volume ratio di 0,8 menunjukkan tidak ada panic buying untuk perlindungan downside, yang berarti tekanan mungkin belum mencapai titik ekstrem. Kombinasi ini menciptakan lingkungan risk-off yang kuat di pasar global, dengan efek rambatan ke emerging market seperti Indonesia. IHSG sudah di level 6.214 (tertekan) dan USD/IDR di 17.870 — level yang mencerminkan tekanan keluar modal asing.

Mengapa Ini Penting

Bitcoin telah menjadi barometer risk appetite global. Tekanan di kripto sering mendahului outflow dari emerging market, termasuk Indonesia. Saat ini IHSG dan rupiah sudah dalam zona tertekan — berita ini memperkuat sinyal bahwa tekanan tersebut belum akan mereda dalam jangka pendek. Inflasi AS yang tinggi dan suku bunga global yang tetap ketat membuat biaya pendanaan Indonesia lebih mahal dan memperlebar defisit fiskal yang sudah mengkhawatirkan.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan pada Bitcoin dan aset berisiko global berpotensi memperkuat outflow asing dari SBN dan saham blue-chip Indonesia, memperlemah rupiah lebih lanjut dan meningkatkan biaya impor bagi perusahaan manufaktur serta ritel yang bergantung pada bahan baku impor.
  • Kenaikan harga minyak akibat konflik Iran-AS (Brent di $92+) memperlebar beban subsidi energi dalam APBN, yang sudah defisit Rp240 triliun per Maret 2026. Perusahaan di sektor transportasi, logistik, dan industri padat energi akan merasakan kenaikan biaya operasional.
  • Sektor energi Indonesia (batu bara, sawit) mungkin mendapat windfall terbatas dari kenaikan harga komoditas, tetapi sektor properti, konsumsi, dan manufaktur justru tertekan oleh suku bunga tinggi lebih lama dan pelemahan daya beli akibat inflasi impor.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: level support Bitcoin di $70.000 — jika tembus ke bawah, gelombang risk-off global bisa semakin dalam dan memicu outflow lebih besar dari pasar Indonesia dalam 1–2 minggu ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: rilis data inflasi PCE AS pekan depan — jika masih di atas 3,5%, dolar AS akan tetap kuat dan menekan rupiah, memperberat beban APBN dari subsidi energi dan bunga utang.
  • Sinyal penting: respons IHSG dan rupiah terhadap konflik Iran-AS — jika minyak Brent menembus $100, defisit APBN bisa melebar lebih dari proyeksi, mendorong potensi revisi anggaran atau pemotongan belanja.

Konteks Indonesia

Tekanan Bitcoin dan risk-off global berdampak ke Indonesia melalui jalur capital outflow. Saat ini IHSG di 6.214 dan rupiah di 17.870 sudah dalam posisi tertekan. Inflasi AS yang tinggi (PCE 3,8%) memperkecil ruang The Fed untuk memangkas suku bunga, sehingga dolar tetap kuat dan emerging market seperti Indonesia terus mengalami tekanan. Selain itu, kenaikan harga minyak akibat konflik Iran-AS memperlebar defisit APBN karena Indonesia adalah importir minyak netto. Sektor riil seperti manufaktur dan properti akan tertekan oleh biaya impor yang lebih tinggi dan suku bunga yang masih tinggi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.