29 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Terkunci di US$85.000, Dinding Breakeven LTH
Forex & Crypto

Bitcoin Terkunci di US$85.000, Dinding Breakeven LTH

Tim Redaksi Feedberry ·29 Oktober 2026 pukul 17.46 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5 Skor

Level US$85.000 bukan sekadar resistance teknikal, melainkan zona cost-basis 4,3% total pasokan BTC dan lebih dari separuh koin pemegang jangka panjang yang dibeli di atas harga kini — setiap rally berpotensi memicu penjualan breakeven.

Urgensi
6
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
3
Analisis Data Pasar
Instrumen
Bitcoin (BTC/USD)
Harga Terkini
US$80.129 pada 29 Oktober 2026 (Kontan/FLOQ); sebelumnya sempat menyentuh sekitar US$79.700
Perubahan %
-1,54% harian; -2% dalam sepekan
Level Teknikal
Band US$84.000–US$85.000 sebagai batas bawah zona cost-basis pemegang jangka panjang; puncak US$87.400
Katalis
  • ·Rangkaian penutupan harian di atas US$85.000 yang akan mengubah band menjadi support
  • ·Penjualan breakeven pemegang jangka panjang yang lebih dari separuh koinnya dibeli di atas harga kini
  • ·Rasio LTH SOPR di 0,99 yang menandakan distribusi pada posisi agregat merugi
  • ·Imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,99% dan indeks dolar broad di 121,32 yang menjaga biaya peluang tetap tinggi

Ringkasan Eksekutif

Glassnode menandai level US$85.000 sebagai batas bawah zona cost-basis pemegang jangka panjang Bitcoin, dan level itu kini berfungsi sebagai penentu arah harga. Pada 22 November 2025, sebagian besar pasokan BTC berpindah onchain tepat ketika harga berada di kisaran US$84.000–US$85.000. Koin yang terakhir bergerak pada harga tersebut mencakup 4,3% dari total pasokan Bitcoin, atau 864.520 BTC. Analisis Glassnode mengaitkan mayoritas koin itu dengan satu pemegang besar yang memindahkan dana antar sejumlah wallet. Konsentrasi itu menjelaskan mengapa level tersebut bertahan lama. Meski transfer antardompet umumnya tidak menggerakkan harga, Glassnode mencatat Bitcoin menghormati rentang US$84.000–US$85.000 sebagai support sekaligus resistance selama 11 bulan terakhir. Level itu bertahan sebagai support pada Desember, dengan pantulan pada 1 dan 18 Desember.

Rezim berubah pada 31 Januari, ketika dorongan balik ke US$84.000 gagal dan Bitcoin turun sekitar 20% dalam beberapa hari setelahnya. Pada Mei, September, dan Oktober, momentum kenaikan melemah di level yang sama dengan puncak US$87.400. Sepanjang periode itu hanya tercatat lima penutupan harian di atas band, tak pernah lebih dari tiga hari beruntun. Beban yang lebih berat berada di tangan pemegang jangka panjang. Glassnode memperkirakan kelompok ini — entitas yang menahan koin minimal 155 hari tanpa menjual — menguasai sekitar 4 juta koin yang terakhir bergerak antara US$85.000 dan US$118.000, mayoritas pada 2025. Lebih dari separuh koin mereka dibeli di atas harga saat ini. Konsekuensinya, setiap kenaikan menuju US$85.000 berpotensi memicu penjualan untuk mengembalikan modal.

Rasio LTH SOPR kini di 0,99; nilai di bawah 1 menandakan pasokan pemegang jangka panjang bergerak pada posisi agregat merugi. Ini bukan pola distribusi untung yang lazim, melainkan tanda kelelahan pemegang lama. Kombinasi itu mengubah cara membaca setiap reli. Resistance di US$85.000 bukan tembok psikologis, melainkan tumpukan pasokan yang menunggu titik balik modal — artinya kenaikan ke level itu justru mengaktifkan penjual, bukan mengonfirmasi tren. Konteks makro memperberat: imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,99%, tenor 2 tahun 4,7%, dengan spread 0,29 poin persentase; indeks dolar broad tertimbang-dagang di 121,32 dan VIX di 17,52. Biaya peluang memegang aset tanpa arus kas tetap mahal.

Di sisi lain, arus masuk ETF Bitcoin spot sempat berbalik positif — sekitar US$424 juta dalam tiga hari hingga 28 Oktober, dengan Oktober kembali positif ke US$111 juta — sementara ETF Ether justru mencatat penarikan. Divergensi itu menandakan aliran masuk terkonsentrasi di wahana teregulasi, bukan selera risiko yang menyeluruh.

Mengapa Ini Penting

Resistance US$85.000 bukan soal psikologi angka bulat, melainkan soal kepemilikan: sekitar 4 juta koin pemegang jangka panjang terakhir berpindah tangan di atas level itu, dan lebih dari separuhnya dibeli lebih mahal dari harga sekarang. Artinya, reli yang mendekati US$85.000 secara mekanis menciptakan penjual baru, bukan pembeli baru — struktur yang membuat setiap terobosan harus menyerap pasokan besar sebelum bisa disebut valid. Bagi pasar, ini menggeser definisi 'breakout' dari peristiwa teknikal menjadi ujian penyerapan likuiditas.

Dampak ke Bisnis

  • Investor ritel kripto Indonesia menghadapi dua lapis tekanan: harga aset yang tertahan di bawah zona breakeven pemegang lama, plus kurs USD/IDR di 18.125 yang membuat biaya masuk aset berdenominasi dolar semakin mahal. Koreksi harga dalam dolar tidak otomatis setara kerugian rupiah, tetapi biaya penambahan posisi naik.
  • Exchange kripto lokal dan saham teknologi di BEI berpotensi menanggung efek sentimen. Selera risiko yang melemah pada aset digital umumnya menekan volume perdagangan platform domestik, sementara IHSG di 5.098 yang terkoreksi 3,19% menunjukkan tekanan risk-off sudah merambat ke pasar saham.
  • Yang baru terasa dalam tiga sampai enam bulan: perpindahan kepemilikan koin dari pemegang onchain ke wahana kustodi teregulasi. Jika pola arus masuk ETF berlanjut sementara pemegang lama keluar pada posisi merugi, likuiditas spot menipis dan pembentukan harga bergeser ke tangan institusi — mengubah karakter volatilitas Bitcoin, bukan sekadar arahnya.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rangkaian penutupan harian Bitcoin di atas US$85.000 — Glassnode menyebut rentetan penutupan, bukan sentuhan intraday, sebagai syarat band berubah menjadi support; kegagalan berulang mempertahankan skenario resistance.
  • Risiko yang perlu dicermati: penjualan breakeven pemegang jangka panjang — lebih dari separuh dari sekitar 4 juta koin mereka dibeli di atas harga kini, sehingga setiap kenaikan menuju US$85.000 menambah tekanan jual dan menekan exchange lokal serta saham teknologi domestik lewat jalur sentimen.
  • Sinyal penting: imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,99% dan indeks dolar broad di 121,32 — selama bertahan di area itu, biaya peluang memegang aset tanpa arus kas tetap tinggi dan ruang penguatan aset berisiko, termasuk kripto dan rupiah, tetap sempit.

Konteks Indonesia

Dampak langsung pergerakan Bitcoin ke ekonomi riil domestik tipis; jalurnya melalui sentimen selera risiko dan kurs. Pasar kripto ritel Indonesia beroperasi di bawah pengawasan Bappebti dan OJK, sehingga tekanan pada aset digital umumnya menekan volume exchange lokal dan saham teknologi di BEI. Dengan USD/IDR di 18.125, eksposur aset berdenominasi dolar menjadi lebih berat bagi investor ritel: koreksi harga tidak otomatis setara kerugian rupiah, tetapi biaya masuknya naik. Bagi pengusaha, kanal yang lebih relevan adalah kurs dan biaya impor, bukan level Bitcoin itu sendiri.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.