28 MEI 2026
Bitcoin Terancam Koreksi Lagi — Operasi Treasury AS Kuras Likuiditas $150 M

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Terancam Koreksi Lagi — Operasi Treasury AS Kuras Likuiditas $150 M
Forex & Crypto

Bitcoin Terancam Koreksi Lagi — Operasi Treasury AS Kuras Likuiditas $150 M

Tim Redaksi Feedberry ·28 Mei 2026 pukul 04.55 · Sinyal menengah · Sumber: CoinDesk ↗
6 Skor

Peringatan dari fund manager tentang tekanan likuiditas yang akan datang bisa memicu aksi jual aset berisiko global, termasuk kripto — berdampak tidak langsung ke sentimen pasar Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Fund manager Michael Kramer dari Mott Capital Management memperingatkan bahwa operasi penerbitan surat utang Treasury AS pada periode 28 Mei hingga 5 Juni mendatang bisa menguras likuiditas sekitar $150 miliar dari sistem perbankan. Menurut Kramer, langkah ini berpotensi memperdalam koreksi harga Bitcoin yang sudah turun 11% dari level tertinggi di atas $82.500 menjadi sekitar $73.000 saat ini. Support kunci di $75.000 telah ditembus, yang oleh Kramer dianggap sebagai sinyal awal bahwa kondisi likuiditas global mulai menyempit. Dalam analisisnya, Kramer menyebut Bitcoin sebagai indikator likuiditas yang lebih sensitif dibanding instrumen keuangan lainnya — ketika likuiditas mengering, aset spekulatif seperti kripto biasanya menjadi yang pertama tertekan.

Mekanisme operasi Treasury adalah ketika pemerintah AS menerbitkan obligasi dan surat utang baru, investor membayar dengan uang tunai yang kemudian disimpan di rekening Treasury di Federal Reserve. Proses ini secara efektif menarik uang dari sistem perbankan komersial, mengurangi cadangan yang tersedia untuk investasi lain. Periode heavy issuance seperti yang dijadwalkan pekan depan bisa menciptakan tekanan likuiditas signifikan dalam jangka pendek. Dampak dari potensi koreksi Bitcoin tidak hanya terbatas pada pasar kripto. Secara historis, penurunan aset berisiko global sering diikuti oleh aksi risk-off yang meluas ke pasar saham dan obligasi emerging market, termasuk Indonesia. Investor institusi yang memiliki eksposur lintas aset cenderung mengurangi posisi di negara berkembang saat likuiditas global mengetat.

Bagi pasar kripto Indonesia, sentimen negatif ini dapat memicu aksi jual oleh investor ritel yang masih dominan di bursa lokal. Volume perdagangan kripto domestik, yang sempat melonjak saat reli awal tahun, berisiko kembali menyusut jika Bitcoin gagal bertahan di atas support psikologis $70.000. Namun demikian, perlu dicatat bahwa siklus ini bersifat sementara — tekanan likuiditas akibat penerbitan Treasury biasanya mereda setelah settlement selesai. Yang harus dipantau dalam sepekan ke depan adalah respons harga Bitcoin terhadap dimulainya operasi Treasury pada 28 Mei. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas $70.000 dan tidak terjadi penembusan tajam ke bawah, tekanan bisa terbatas. Sebaliknya, jika harga terus turun menembus level tersebut, ekspektasi koreksi lebih dalam akan menguat.

Sinyal lain yang perlu diperhatikan adalah pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) dan imbal hasil Treasury 10 tahun — kombinasi dolar kuat dan yield tinggi biasanya memperburuk arus modal keluar dari aset berisiko global.

Mengapa Ini Penting

Peringatan ini menyoroti bahwa pergerakan Bitcoin tidak sepenuhnya terlepas dari dinamika makro ekonomi AS. Investor kripto di Indonesia seringkali fokus pada berita spesifik aset digital dan mengabaikan faktor likuiditas global, yang justru menjadi pemicu utama koreksi besar seperti yang terjadi pada 2022. Ketika likuiditas Treasury mengering, efeknya bisa merembet ke selera risiko secara keseluruhan, termasuk ke saham teknologi dan startup digital yang menjadi pilar investasi Indonesia. Pemahaman akan hubungan ini penting bagi investor ritel dan institusi untuk mengantisipasi volatilitas di luar kendali regulator lokal.

Dampak ke Bisnis

  • Investor kripto ritel Indonesia — yang sangat aktif di platform seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu — berpotensi mengalami kerugian unrealized jika Bitcoin terus terkoreksi. Volume perdagangan kripto lokal bisa turun signifikan jika sentimen risk-off berlanjut, mengurangi pendapatan dari biaya transaksi bagi exchange kripto.
  • Emiten teknologi dan startup yang terdaftar di BEI, terutama yang memiliki valuasi tinggi atau belum profit, mungkin ikut tertekan oleh sentimen risk-off global. Investor asing cenderung mengurangi posisi di sektor berisiko tinggi saat likuiditas global menyempit.
  • Perusahaan fintech dan penyedia jasa pembayaran kripto di Indonesia menghadapi risiko penurunan aktivitas transaksi, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi pertumbuhan pendapatan dan rencana ekspansi. Namun, dampak ini bersifat sementara sepanjang tekanan likuiditas global mereda dalam beberapa pekan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: dimulainya settlement Treasury AS pada 28 Mei hingga 5 Juni — cermati respons harga Bitcoin terhadap aliran likuiditas keluar secara real-time. Jika Bitcoin turun di bawah $70.000 dan bertahan, risiko koreksi lebih dalam meningkat.
  • Risiko yang perlu dicermati: efek contagion dari pasar kripto ke pasar saham Indonesia — khususnya saham teknologi dan sektor siklikal yang sensitif terhadap risk appetite global. Indeks VIX yang naik di atas 20 bisa menjadi sinyal risk-off menyebar.
  • Sinyal penting: pernyataan dari Federal Reserve atau data ketenagakerjaan AS minggu depan — jika The Fed memberikan sinyal hawkish, tekanan pada aset berisiko akan bertambah. Sebaliknya, jika data ekonomi melemah dan harapan pemangkasan suku bunga naik, likuiditas bisa kembali mengalir.

Konteks Indonesia

Tekanan pada Bitcoin dan aset kripto global biasanya diikuti oleh sentimen risk-off di pasar emerging market, termasuk Indonesia. Investor kripto ritel Indonesia yang sangat aktif dapat bereaksi cepat dengan menjual aset mereka, yang bisa memperburuk tekanan di bursa kripto lokal. Selain itu, saham teknologi dan startup Indonesia yang terdaftar di BEI — seperti GOTO, BUKA, atau emiten IT lain — rentan terhadap aksi jual asing saat risk appetite global menyusut. Meskipun tidak ada transmisi langsung ke ekonomi riil, penurunan signifikan di pasar kripto bisa menekan kepercayaan investor dan memperlambat arus modal masuk ke Indonesia dalam jangka pendek.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.