24 JUL 2026
Bitcoin Sentuh $64.799 di Tengah Konflik Iran, Minyak Brent Tembus $100

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Sentuh $64.799 di Tengah Konflik Iran, Minyak Brent Tembus $100
Forex & Crypto

Bitcoin Sentuh $64.799 di Tengah Konflik Iran, Minyak Brent Tembus $100

Tim Redaksi Feedberry ·23 Juli 2026 pukul 20.32 · Sinyal tinggi · Sumber: Cointelegraph ↗
7.7 Skor

Tekanan simultan dari eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak ke $100, dan probabilitas kenaikan suku bunga Fed yang mendekati 40% menciptakan risiko ganda bagi Indonesia: beban fiskal subsidi energi membengkak dan tekanan pada rupiah di level Rp17.910.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Data Pasar
Instrumen
Bitcoin (BTC/USD)
Harga Terkini
$64.799
Level Teknikal
Support pada moving average 21-hari di sekitar $65.000, resistance psikologis $67.000 dan area $70.000.
Katalis
  • ·Eskalasi konflik AS-Iran dan pernyataan Trump yang menyalahkan Iran atas serangan Houthi
  • ·Lonjakan harga minyak Brent ke atas $100 per barel
  • ·Probabilitas kenaikan suku bunga Fed Juli mendekati 40% (naik dari 12% sepekan sebelumnya)
  • ·Imbal hasil US 10-year naik ke level tertinggi 18 bulan di 4,63%

Ringkasan Eksekutif

Bitcoin jatuh ke level terendah tiga hari di $64.799 pada perdagangan Kamis, saat eskalasi konflik AS-Iran memicu aksi jual di pasar kripto dan saham AS. S&P 500 terkoreksi 1,2% dan Nasdaq turun 2,2%, sementara minyak Brent melonjak ke $100,56 per barel — level tertinggi sejak awal Juni. Lonjakan harga minyak ini dipicu oleh pernyataan Presiden Trump yang menyalahkan Iran atas serangan Houthi terhadap kapal dagang Saudi, meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan global. Di saat yang sama, probabilitas kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada Juli mendekati 40%, naik dari 12% hanya sepekan sebelumnya, menurut data CME FedWatch. Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga naik ke level tertinggi 18 bulan di 4,63%, menekan aset berisiko di seluruh dunia.

Kombinasi antara lonjakan harga energi dan ekspektasi moneter yang lebih ketat menciptaan lingkungan risk-off yang kuat. Trader Bitcoin terpecah: sebagian melihat potensi reli ke $70.000 jika level resistance $65.000 tertembus, sementara yang lain memperingatkan bahwa reli Juli akan segera berakhir dan koreksi ke bawah $65.000 dapat memicu aksi jual lebih lanjut. Teknikal menunjukkan support penting pada moving average 21-hari, sementara support psikologis $64.000 menjadi ujung tombak selanjutnya. Dampak konflik ini meluas ke pasar komoditas dan valas global. Kenaikan minyak Brent di atas $100 memberikan tekanan langsung pada negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Rupiah yang saat ini berada di Rp17.910 per dolar AS — level yang melemah dalam beberapa pekan terakhir — menghadapi tekanan tambahan dari penguatan dolar sebagai safe haven.

Belanja subsidi energi Indonesia berpotensi membengkak jika harga minyak bertahan di atas $100, memperlebar defisit APBN yang sudah mencapai Rp240,1 triliun per Maret 2026. Sementara itu, imbal hasil US Treasury yang tinggi mengurangi daya tarik obligasi Indonesia bagi investor asing, seperti tercermin dari kenaikan yield SUN pada lebaran pekan lalu. Di sisi kripto, pasar Indonesia yang didominasi investor ritel sangat sensitif terhadap pergerakan Bitcoin. Jika harga Bitcoin terus tertekan di bawah $65.000, volume perdagangan di platform lokal seperti Tokocrypto dan Indodax berpotensi menurun, namun jika berhasil rebound ke atas $67.000, sentimen positif bisa kembali mengalir.

Dalam satu hingga dua pekan ke depan, investor perlu mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, data inflasi AS yang memengaruhi ekspektasi suku bunga Fed, serta pergerakan harga minyak Brent yang menjadi barometer tekanan fiskal Indonesia. Level support $64.000 dan resistance $67.000 pada Bitcoin menjadi threshold penting yang menentukan arah selanjutnya.

Mengapa Ini Penting

Konflik AS-Iran yang mendorong minyak di atas $100 dan probabilitas kenaikan suku bunga Fed mendekati 40% menciptakan 'double whammy' bagi Indonesia: biaya impor energi membengkak dan tekanan pada rupiah semakin kuat, yang pada gilirannya mempersempit ruang gerak BI untuk melonggarkan kebijakan moneter. Bagi investor lokal, korelasi antara kripto dan saham teknologi global membuat portofolio yang terekspos aset digital atau saham growth berisiko mengalami koreksi jika sentimen risk-off berlanjut.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan pada rupiah: Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury membuat rupiah yang sudah di Rp17.910 berpotensi melemah lebih lanjut. Importir, terutama yang bergantung pada bahan baku impor, akan menghadapi kenaikan biaya yang langsung menekan margin.
  • Beban fiskal membengkak: Harga minyak Brent di atas $100 meningkatkan kebutuhan subsidi BBM dan listrik. APBN yang sudah defisit Rp240 triliun per Maret 2026 berisiko semakin tertekan, memaksa pemerintah mengurangi belanja produktif atau menambah utang dengan yield yang lebih mahal.
  • Dampak ke sektor kripto lokal: Pasar kripto Indonesia yang ritel dan sensitif terhadap sentimen global akan bereaksi cepat. Jika Bitcoin bertahan di bawah $65.000, volume perdagangan di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto bisa turun. Sebaliknya, jika reli terjadi, minat beli ritel bisa kembali menguat, namun tetap dibayangi risiko koreksi lanjutan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: level support $64.000 dan resistance $67.000 pada Bitcoin — jika tembus ke bawah $64.000, koreksi lebih dalam mungkin terjadi; jika menembus $67.000, reli ke $70.000 terbuka.
  • Risiko yang perlu dicermati: perkembangan diplomasi AS-Iran dalam 1-2 pekan ke depan — eskalasi lebih lanjut bisa mendorong minyak Brent ke $105-110 dan memperkuat dolar, menekan rupiah lebih dalam.
  • Sinyal penting: data inflasi AS (CPI) berikutnya dan pernyataan pejabat Fed — jika probabilitas kenaikan suku bunga Juli terus naik di atas 40%, tekanan risk-off akan berlanjut dan berdampak ke IHSG serta aset emerging market termasuk Indonesia.

Konteks Indonesia

Kenaikan harga minyak Brent di atas $100 per barel akibat konflik AS-Iran berdampak langsung pada beban subsidi energi Indonesia, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak netto. Defisit APBN yang sudah mencapai Rp240,1 triliun per Maret 2026 berpotensi melebar jika harga minyak bertahan tinggi — tanpa data spesifik, perkiraan dampak tidak bisa disebutkan. Pelemahan rupiah ke Rp17.910 menambah tekanan biaya impor bagi perusahaan manufaktur dan energi. Di sisi kripto, pasar Indonesia yang didominasi investor ritel — jumlahnya belasan juta menurut data Bappebti (konteks umum) — sangat sensitif terhadap pergerakan Bitcoin; koreksi di bawah $65.000 dapat menekan volume perdagangan lokal. Sementara itu, kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke 4,63% mengurangi daya tarik SBN, seperti terlihat dari kenaikan yield SUN pada lelang pekan lalu, yang mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.