4 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Diproyeksi ke US$90.000, Fed Jadi Penentu
Forex & Crypto

Bitcoin Diproyeksi ke US$90.000, Fed Jadi Penentu

Tim Redaksi Feedberry ·3 November 2026 pukul 23.47 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Proyeksi Bitcoin US$90.000 sangat bergantung pada sikap Fed; dampak ke Indonesia tidak langsung tetapi menyentuh selera risiko ritel kripto, saham teknologi, dan rupiah.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Markus Thielen dari 10x Research memproyeksikan Bitcoin menuju US$90.000 pada akhir tahun, tetapi ia melihat kemungkinan penurunan lebih dulu ke kisaran pertengahan hingga atas US$70.000. Proyeksi itu muncul saat Bitcoin sudah diperdagangkan di area tersebut, termasuk turun ke sekitar US$76.100 pada Jumat setelah peretasan Binance senilai US$6,3 miliar. Menurut Coinglass, Bitcoin menutup Oktober dengan penurunan 7,3%. Kombinasi target optimistis dan momentum lemah itu membuat tesis Thielen bukan soal keyakinan buta pada kripto, melainkan taruhan pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Thielen menilai pemulihan harga sebagian bergantung pada seberapa jauh The Fed menaikkan suku bunga. Bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase pada September ke rentang target 3,75%–4%.

Pekan lalu, The Fed menahan suku bunga dalam voting terbelah, dengan dua pejabat mendukung kenaikan seperempat poin lagi. Pernyataan The Fed menyebut inflasi masih tinggi, sehingga membuka kemungkinan kenaikan lanjutan. Thielen memperkirakan satu kenaikan lagi pada Desember, lalu sikap yang lebih hati-hati terhadap kenaikan berikutnya — skenario yang menurutnya dapat membantu Bitcoin rally menuju akhir tahun. Ia juga mempertanyakan permintaan institusi terhadap ETF, karena gelombang awal dana itu mencakup investor ritel yang membeli melalui institusi dan kendaraan korporasi, dengan sebagian membayar premi besar terhadap nilai aset kripto yang mendasarinya. Thielen masih melihat kemungkinan institusi dan sovereign wealth fund masuk. Di sisi Ethereum, Thielen memperkirakan Bitcoin mengungguli Ether dan mengaku bearish terhadap Ether lebih dari setahun.

Alasannya, terlalu banyak nilai dari aktivitas Ethereum mengalir ke jaringan layer-2. Ethereum membakar biaya dasar yang dibayar pengguna, sehingga pasokannya menyusut ketika jumlah yang dibakar melebihi ETH baru yang diterbitkan untuk validator. Namun, biaya yang lebih murah dapat berarti lebih sedikit ETH yang dihancurkan; pasokan ETH bertambah ketika penerbitan melebihi jumlah yang dibakar. Thielen mencontohkan Hyperliquid, yang dana bantuannya mengubah biaya perdagangan menjadi HYPE lalu membakarnya. Ia menginginkan hubungan lebih kuat antara penggunaan jaringan dan manfaat finansial bagi pemegang. Ini mengungkap pergeseran penting: pasar tidak lagi hanya membeli narasi utilitas, tetapi mulai menuntut mekanisme nilai yang jelas. Konteks pasar global memperkuat kerangka itu.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di 4,94% dan tenor 2 tahun di 4,56%, dengan spread 0,38 poin persentase — kurva datar yang mencerminkan ekspektasi pertumbuhan hati-hati. Indeks dolar broad tertimbang-dagang berada di 121,67 dan VIX di 19,42. Di domestik, IHSG berada di 4.904 setelah koreksi 3,78%, sementara USD/IDR di 18.148. Bagi pasar Indonesia, jalur yang paling relevan bukan harga Bitcoin itu sendiri, melainkan sinyal selera risiko yang dibawanya.

Mengapa Ini Penting

Proyeksi US$90.000 bukan sekadar soal optimisme kripto; itu taruhan pada jeda Fed. Jika Desember tetap menaikkan suku bunga, premi risiko aset tanpa arus kas melebar dan rally akhir tahun bisa tertunda. Yang lebih struktural, ETF mengubah basis pembeli Bitcoin dari narasi ritel menjadi mandat institusi, sementara Ethereum menunjukkan risiko 'utilitas tanpa value capture' — pemisahan yang akan menentukan token mana yang bertahan.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi investor ritel kripto Indonesia, level US$76.100 menjadi garis penentu sentimen. Dengan USD/IDR di 18.148, pembelian aset berdenominasi dolar membutuhkan rupiah lebih besar, sehingga premi risiko yang diminta meningkat tanpa perlu ada perubahan harga aset.
  • Exchange kripto lokal dan startup blockchain menghadapi uji likuiditas. Jika Bitcoin gagal bertahan dan Fed kembali menaikkan bunga, minat transaksi ritel cenderung menahan diri lebih dulu; pendapatan berbasis volume bisa tertekan.
  • Saham teknologi di IHSG dan emiten berkapitalisasi besar yang dimiliki asing dapat terkena efek psikologis risk-off. IHSG sudah berada di 4.904 setelah koreksi 3,78%, sehingga sinyal tambahan dari kripto dapat memperkuat tekanan valuasi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kemampuan Bitcoin bertahan di sekitar US$76.100 — jika jebol, jalur ke kisaran pertengahan hingga atas US$70.000 terbuka dan sentimen risk-off bisa menular ke aset berisiko domestik.
  • Risiko yang perlu dicermati: sinyal kenaikan Fed pada Desember — jika terkonfirmasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,94% dan indeks dolar broad 121,67 berpotensi menahan rally Bitcoin serta menekan rupiah.
  • Sinyal penting: arus institusi ke ETF Bitcoin dan dinamika biaya layer-2 Ethereum — keduanya menguji tesis Thielen bahwa Bitcoin unggul atas Ether hingga akhir tahun.

Konteks Indonesia

Jalur dampak ke Indonesia berlapis. Bitcoin dan kripto dibaca sebagai barometer selera risiko global; pelemahan berlanjut dapat menahan minat investor ritel kripto domestik dan menekan sentimen saham teknologi di IHSG. Dengan USD/IDR di 18.148, aset berdenominasi dolar menjadi lebih mahal saat dirupiahkan, sehingga premi risiko yang diminta untuk kripto meningkat. IHSG yang berada di 4.904 setelah koreksi 3,78% menunjukkan pasar domestik sudah dalam mode risk-off; kombinasi imbal hasil US Treasury 10 tahun 4,94% dan indeks dolar broad tertimbang-dagang 121,67 memperkuat tekanan arus modal asing.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.