23 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Teknologi / Belanja Data Center Global US$2,1 Triliun pada 2028
Teknologi

Belanja Data Center Global US$2,1 Triliun pada 2028

Tim Redaksi Feedberry ·23 Oktober 2026 pukul 22.05 WIB · Sinyal menengah · Sumber: CNA Business ↗
6.7 Skor

Proyeksi belanja US$2,1 triliun pada 2028 memperluas rantai pasok fisik AI, tetapi dampak langsung ke Indonesia moderat dan bergantung pada impor perangkat serta biaya dana global.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

BofA Global Research memproyeksikan belanja data center global mencapai US$1 triliun pada 2026 dan lebih dari dua kali lipat menjadi US$2,1 triliun pada 2028. Proyeksi itu bertumpu pada permintaan layanan AI yang terus tumbuh. Dalam catatan yang dikutip CNA Business, pasar data center yang bernilai US$275 miliar pada 2022 berpotensi mencapai US$2,93 triliun pada 2030. BofA memperkirakan laju pertumbuhan majemuk tahunan pasar sebesar 37% sepanjang 2025-2030. Yang membedakan gelombang ini dari siklus belanja teknologi sebelumnya adalah komposisinya. BofA menempatkan biaya konstruksi data center US$49 juta per megawatt, dengan 78% di antaranya untuk belanja terkait TI. Server menjadi komponen termahal US$31,4 juta per megawatt, diikuti networking US$4,8 juta per megawatt.

Fungsi lain—switchgear, distribusi daya, generator, daya cadangan, chiller, dan pendinginan—berkisar US$100.000 hingga US$1,1 juta per megawatt. Neocloud, pusat data khusus AI, membutuhkan sekitar US$57 juta per megawatt tetapi lebih hemat ruang dibandingkan fasilitas konvensional. Implikasinya, penerima manfaat terbesar bukan hanya pengembang model AI. Produsen chip dan server, terutama di AS, disebut sebagai penerima manfaat utama. Namun belanja ini juga mengalir ke industri yang memproduksi generator, alat konstruksi, switchgear, dan chiller. Bagi Indonesia, jalur dampaknya melalui impor perangkat keras dan infrastruktur digital. Dengan USD/IDR di 17.956, pengadaan server, chip, sistem pendingin, dan panel listrik dalam dolar menjadi lebih mahal dalam rupiah. Brent di US$112,05 menambah tekanan biaya energi karena data center adalah konsumen listrik besar.

IHSG di 5.439 (+0,95%) menunjukkan sentimen domestik belum terganggu, tetapi proyek padat modal akan sensitif pada biaya dana global. Operator data center dalam negeri dan penyedia cloud akan menghadapi dilema: kapasitas tambahan dibutuhkan untuk melayani AI, tetapi biaya modal per megawatt naik. Pemain besar dengan akses pendanaan dan kontrak jangka panjang lebih mampu menyerap biaya, sementara operator menengah yang bergantung pada perangkat impor dan jaringan listrik yang ada lebih rentan. Sektor pengguna—perbankan, e-commerce, manufaktur—akan mewarisi biaya layanan yang tidak turun secepat harapan. Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Belanja data center kini bergeser dari software ke infrastruktur fisik—listrik, pendinginan, kabel, dan konstruksi. Pergeseran ini mengubah peta penerima manfaat: pemasok komponen industri menjadi lebih penting daripada sekadar pengembang aplikasi AI. Bagi Indonesia, dampaknya tidak datang dari proyek AI domestik semata, melainkan dari biaya impor perangkat serta tekanan pada listrik dan rupiah.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen switchgear, generator, chiller, distribusi daya, dan alat konstruksi mendapat lonjakan permintaan global; di Indonesia, kontraktor mekanikal-elektrikal dan penyedia panel listrik berpeluang masuk rantai pasok jika memenuhi standar kualitas dan sertifikasi.
  • Operator data center dan neocloud domestik menghadapi kenaikan biaya modal: konstruksi standar US$49 juta per megawatt, sementara neocloud sekitar US$57 juta per megawatt. Dengan USD/IDR 17.956, setiap megawatt tambahan menjadi lebih mahal dalam rupiah.
  • Sektor pengguna seperti perbankan, e-commerce, dan manufaktur akan menanggung biaya layanan cloud dan AI yang tidak turun secepat harapan; dampaknya ke margin digitalisasi baru terasa dalam 3-6 bulan ke depan ketika kontrak kapasitas diperbarui.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: revisi proyeksi belanja data center 2026-2028 oleh BofA atau broker lain — jika proyeksi naik, permintaan server, chip, dan komponen pendingin menguat; jika turun, risiko kelebihan kapasitas meningkat.
  • Risiko yang perlu dicermati: pergerakan USD/IDR dari 17.956 — depresiasi rupiah memperbesar biaya impor server, chip, switchgear, dan sistem pendingin bagi operator domestik.
  • Sinyal penting: realisasi komitmen proyek data center di Asia dalam 2-4 minggu ke depan — komitmen yang terealisasi akan menguji apakah proyeksi global BofA berdampak nyata pada kapasitas domestik.

Konteks Indonesia

Akselerasi belanja data center global berdampak ke Indonesia melalui tiga jalur: impor perangkat keras seperti server, chip, switchgear, dan sistem pendingin yang menjadi lebih mahal saat USD/IDR 17.956; biaya energi yang tertekan seiring Brent US$112,05; dan arus modal asing ke sektor digital. IHSG di 5.439 (+0,95%) mencerminkan sentimen domestik yang belum terganggu, tetapi proyek padat modal akan lebih sensitif pada biaya dana global.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.