22 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Kebijakan / BEI Keluarkan 15 Saham HSC dari IHSG Mulai 2 November
Kebijakan

BEI Keluarkan 15 Saham HSC dari IHSG Mulai 2 November

Tim Redaksi Feedberry ·22 Oktober 2026 pukul 10.04 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
6.7 Skor

Efektif hanya sekitar dua pekan setelah pengumuman, menyentuh 15 emiten sekaligus mengubah kalender rebalancing yang menjadi acuan seluruh produk terindeks IHSG.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Penyesuaian kriteria evaluasi IHSG — pengecualian saham berkepemilikan terkonsentrasi tinggi (HSC) dari perhitungan indeks
Penerbit
Bursa Efek Indonesia, bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia
Berlaku Sejak
2026-11-02
Perubahan Kunci
  • ·Saham dalam daftar kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (HSC) dikeluarkan dari kriteria seleksi dan perhitungan IHSG, berlaku efektif 2 November 2026.
  • ·Metode penghitungan IHSG tetap capped free float adjusted market capitalization weighted dengan batas pembobotan 9%.
  • ·Periode evaluasi indeks dipindahkan dari Maret, Juni, September, Desember menjadi Januari, April, Juli, Oktober.
  • ·Waktu penerapan hasil evaluasi bergeser ke hari bursa pertama Februari, Mei, Agustus, dan November.
  • ·Ditambahkan ketentuan evaluasi insidental: saham yang masuk atau keluar dari daftar HSC di luar periode evaluasi reguler langsung disesuaikan dalam perhitungan IHSG.
Pihak Terdampak
15 emiten dalam daftar HSC per 12 Oktober 2026, termasuk SSMS, SMMT, BMAS, TBIG, CITA, PSAB, BALI, MAYA, CLAY, ADES, TMAS, BBMD, INPP, SAME, dan DMPengelola reksa dana indeks, ETF, dan mandat institusional yang memakai IHSG sebagai acuanInvestor minoritas pada saham yang dikeluarkan dari konstituen indeksEmiten lain dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi yang berpotensi masuk daftar HSC pada evaluasi berikutnya

Ringkasan Eksekutif

Bursa Efek Indonesia mengeluarkan saham-saham dalam daftar kepemilikan terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari perhitungan IHSG, efektif 2 November 2026. Keputusan ini menambah satu lapis penyaringan pada indeks acuan pasar modal Indonesia: sebelumnya hanya saham di Papan Akselerasi yang dikecualikan, kini daftar HSC ikut dikeluarkan. Metode penghitungan tidak berubah — tetap capped free float adjusted market capitalization weighted dengan batas pembobotan 9%. Daftar HSC per 12 Oktober 2026 memuat 15 emiten, antara lain Tower Bersama Infrastructure (TBIG), Temas (TMAS), Akasha Wira International (ADES), Indonesian Paradise Property (INPP), Bali Towerindo Sentra (BALI), serta tiga bank kecil: Bank Maspion (BMAS), Bank Mayapada (MAYA), dan Bank Mestika Dharma (BBMD). Yang luput dari headline adalah perubahan arsitektur kalender evaluasinya.

BEI memindahkan periode evaluasi dari Maret-Juni-September-Desember ke Januari-April-Juli-Oktober, dan menggeser penerapan hasilnya ke hari bursa pertama Februari, Mei, Agustus, dan November. Pergeseran ini menciptakan jeda sekitar satu bulan antara penetapan hasil evaluasi dan efeknya pada bobot indeks — periode di mana pasar sudah mengetahui siapa yang masuk dan keluar, tetapi komposisi resmi belum berubah. Lebih penting lagi, BEI menambahkan ketentuan evaluasi insidental: saham yang masuk atau keluar dari daftar HSC di luar periode reguler akan langsung disesuaikan. Konsekuensinya, rebalancing tidak lagi sepenuhnya bisa diantisipasi lewat kalender tetap. Bagi pengelola dana terindeks, sifat risikonya bergeser dari peristiwa terjadwal menjadi risiko yang bisa muncul kapan saja.

Dampak paling langsung menyentuh produk yang mereplikasi IHSG — reksa dana indeks, ETF, dan mandat institusi yang memakai IHSG sebagai pembanding kinerja. Ketika sebuah saham keluar dari konstituen, dana tersebut harus melepas posisinya, menciptakan tekanan jual mekanis yang tidak mencerminkan penilaian fundamental. Bagi emiten yang dikeluarkan, konsekuensinya berlapis: hilangnya visibilitas di indeks acuan, berkurangnya likuiditas, dan dalam horizon lebih panjang, biaya modal yang lebih tinggi karena basis investor menyempit. Ini bukan hukuman atas kinerja usaha, melainkan konsekuensi struktur kepemilikan. Latar strukturalnya perlu dibaca dalam kerangka kebijakan free float yang sudah berjalan.

BEI merujuk Pengumuman Nomor Peng-00148/BEI.POP/05-2021 tanggal 31 Mei 2021 tentang penerapan free float dalam penghitungan indeks, serta Surat Keputusan Bersama Direksi BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia Nomor Kep-00047/BEI/03-2026 dan KEP-0024/DIR/KSEI/0426 tentang Penetapan Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi. Dengan kata lain, ini kelanjutan pengetatan, bukan langkah pertama. Dorongan ke depan cukup jelas: emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi menghadapi pilihan antara mempertahankan kontrol atau tetap berada di dalam benchmark. Di tengah IHSG di 5.378 dan rupiah di 18.045 per dolar AS, insentif untuk memperlebar free float melalui rights issue atau pelepasan saham ke publik menjadi lebih kuat.

Mengapa Ini Penting

IHSG berhenti menjadi cermin seluruh pasar dan mulai berfungsi sebagai indeks yang menyaring likuiditas — saham dengan pemegang terkonsentrasi secara efektif dikeluarkan dari panggung acuan. Yang menang adalah emiten blue-chip dengan kepemilikan tersebar yang bobotnya naik secara relatif tanpa perlu membeli apa pun. Yang kalah bukan hanya 15 emiten itu, melainkan juga pemegang saham minoritasnya: saham yang tidak lagi di indeks cenderung kehilangan pembeli institusional otomatis, dan itu terjadi tanpa ada perubahan apa pun pada kinerja perusahaan.

Dampak ke Bisnis

  • Pengelola reksa dana indeks, ETF, dan mandat institusional berbasis IHSG harus menyesuaikan portofolio pada 2 November. Pelepasan posisi pada 15 saham HSC bersifat mekanis, bukan berbasis valuasi — artinya harga bisa bergerak di luar fundamental pada hari-hari sekitar tanggal efektif.
  • Emiten yang dikeluarkan menghadapi erosi bertahap: visibilitas turun, likuiditas menyusut, dan dalam jangka menengah biaya modal naik karena basis investor menyempit ke ritel dan dana aktif. Sektor yang paling terekspos adalah bank kecil, properti, dan menara telekomunikasi yang ada dalam daftar.
  • Dampak yang baru terasa dalam 6-12 bulan: gelombang berikutnya. Perusahaan dengan kepemilikan keluarga terkonsentrasi kini punya alasan finansial konkret untuk memperlebar free float — lewat rights issue, secondary offering, atau penjualan saham treasury — sehingga pipeline aksi korporasi di BEI berpotensi bertambah, sekaligus mengubah peta kontrol sejumlah emiten mid-cap.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga 15 saham HSC pada 2 November dan beberapa hari sesudahnya — volume yang melonjak tajam di luar kebiasaan akan mengonfirmasi adanya pelepasan mekanis dari dana terindeks.
  • Risiko yang perlu dicermati: mekanisme evaluasi insidental — karena penyesuaian bisa terjadi kapan saja di luar jadwal, dana terindeks kehilangan kepastian waktu rebalancing dan harus menyiapkan buffer likuiditas lebih besar.
  • Sinyal penting: hasil evaluasi Januari 2027 dengan penerapan di hari bursa pertama Februari — ini uji pertama jadwal baru sekaligus indikator apakah daftar HSC melebar atau menyusut setelah pengetatan berlaku.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.