25 JUL 2026
BCA Tahan Bunga Deposito 2,75–3% — Likuiditas Solid Perkuat NIM

Foto: Tempo Bisnis — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / BCA Tahan Bunga Deposito 2,75–3% — Likuiditas Solid Perkuat NIM
Korporasi

BCA Tahan Bunga Deposito 2,75–3% — Likuiditas Solid Perkuat NIM

Tim Redaksi Feedberry ·25 Juli 2026 pukul 05.41 · Sinyal menengah · Sumber: Tempo Bisnis ↗
6.7 Skor

Keputusan BCA menahan bunga deposito di tengah tekanan dana mahal (deposito valas naik 42%) menegaskan kekuatan struktur CASA — berdampak langsung pada profitabilitas sektor perbankan dan suku bunga kredit korporasi.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Alasan Strategis
Mempertahankan NIM di tengah tekanan cost of fund industri — strategi memanfaatkan struktur CASA dominan (85,2% dari total DPK) untuk tidak ikut perang suku bunga deposito.
Pihak Terlibat
PT Bank Central Asia Tbk.

Ringkasan Eksekutif

Bank Central Asia (BCA) mengonfirmasi akan mempertahankan suku bunga deposito di rentang 2,75–3% per 1 April 2026, dengan syarat likuiditas tetap solid. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, menyatakan kondisi likuiditas saat ini solid dan akan menjadi pertimbangan utama setiap penyesuaian suku bunga. Data keuangan kuartal I-2026 menunjukkan loan to deposit ratio (LDR) di 74,1%, net stable funding ratio (NSFR) 159,9%, dan liquidity coverage ratio (LCR) 305,7% — tiga rasio yang sangat sehat. Rasio LCR yang di atas 300% menandakan bank memiliki buffer likuiditas tinggi untuk menghadapi skenario tekanan arus dana. Dari sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) mencapai Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2% year-on-year, dengan porsi 85,2% dari total dana pihak ketiga (DPK).

Angka ini sangat dominan dibandingkan rata-rata industri perbankan yang berada di kisaran 60-65%, menegaskan posisi BCA sebagai bank dengan basis simpanan murah (low-cost deposit) terkuat di Indonesia. BCA menjelaskan bahwa pergerakan suku bunga deposito dipengaruhi oleh suku bunga acuan Bank Indonesia, kondisi likuiditas perbankan secara keseluruhan, permintaan kredit, hingga kualitas kredit. Dengan struktur CASA yang masif, BCA memiliki kelonggaran untuk tidak ikut perang suku bunga deposito — berbeda dengan bank-bank menengah yang lebih bergantung pada deposito berbiaya tinggi. Keputusan ini menjadi penting mengingat tekanan pada sistem perbankan Indonesia: simpanan valas melesat 42% (year-on-year) pada Juni 2026, mendorong kenaikan cost of fund (CoF) di sektor perbankan. BCA justru relatif kebal terhadap tren ini karena dominasi CASA rupiah.

Implikasinya, BCA dapat mempertahankan net interest margin (NIM) yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri. Ini menjadi daya tarik bagi investor di tengah lingkungan suku bunga tinggi dan volatilitas nilai tukar. Bagi nasabah, keputusan BCA menahan bunga deposito berarti imbal hasil simpanan tidak akan naik dalam waktu dekat — nasabah perlu mencari alternatif instrumen untuk mendapatkan yield lebih tinggi, seperti obligasi korporasi atau reksa dana pasar uang.

Mengapa Ini Penting

BCA adalah barometer sistem perbankan Indonesia — bank dengan kapitalisasi pasar terbesar. Keputusan menahan bunga deposito di saat industri menaikkan suku bunga deposito valas untuk mengamankan likuiditas mengirim sinyal bahwa bank dengan basis simpanan murah kuat dapat mempertahankan margin tanpa mengorbankan pertumbuhan. Ini bisa memperlebar kesenjangan profitabilitas antara bank tier-1 (BBCA, BBRI, BMRI) dengan bank menengah-kecil, yang bergantung pada deposito berbiaya tinggi. Bagi pasar obligasi korporasi, NIM BCA yang terjaga membuatnya tetap menjadi emiten obligasi dengan risiko kredit paling rendah — yield SUN 10 tahun yang masih tinggi (terkait data FRED: US 10Y di 4,71%) membuat SBN alternatif menarik, namun BCA tetap menjadi safe haven.

Dampak ke Bisnis

  • Perbankan: BCA mempertahankan keunggulan struktural. Bank dengan rasio CASA rendah (di bawah 60%) akan tertekan oleh kenaikan cost of fund akibat perang suku bunga deposito valas. Dampak cascade: NIM menyempit, laba per saham (EPS) tertekan, dan kemampuan bank ekspansi kredit terbatas.
  • Korporasi debitur: Suku bunga kredit korporasi di BCA kemungkinan besar tetap kompetitif karena dana murah yang melimpah. Perusahaan dengan utang dalam rupiah dan hubungan perbankan di BCA akan mendapat keuntungan relatif dibandingkan yang bergantung pada bank dengan basis pendanaan mahal.
  • Nasabah individu: Deposito rupiah BCA dengan bunga 2,75-3% menjadi kurang menarik secara riil. Dengan inflasi domestik dan tingkat bunga deposito yang tidak berubah, tabungan di BCA kehilangan daya beli. Nasabah mungkin beralih ke instrumen reksa dana pasar uang atau SBN ritel (jika yield menarik). Ini bisa mengubah struktur DPK perbankan di masa depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons bank kompetitor (BNI, Mandiri, BRI) terhadap kebijakan bunga deposito BCA — apakah ikut menahan atau justru menaikkan bunga untuk mempertahankan porsi DPK. Jika bank besar lain juga menahan bunga, tekanan suku bunga deposito industri bisa mereda.
  • Risiko yang perlu dicermati: peningkatan LDR BCA di atas 80% — jika pertumbuhan kredit melampaui pertumbuhan deposito, tekanan likuiditas akan mendorong BCA menaikkan bunga deposito, mengubah struktur biaya dana yang selama ini unggul.
  • Sinyal penting: data pertumbuhan CASA BCA di laporan keuangan Q2-2026 (rilis akhir Juli) — jika pertumbuhan CASA melambat signifikan, itu bisa menandakan awal pergeseran preferensi nasabah ke instrumen dengan yield lebih tinggi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.