16 JUL 2026
Base Tinggalkan Fokus Sosial, Beralih ke Stablecoin & RWA – Sinyal Pergeseran Strategi Layer-2

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Base Tinggalkan Fokus Sosial, Beralih ke Stablecoin & RWA – Sinyal Pergeseran Strategi Layer-2
Forex & Crypto

Base Tinggalkan Fokus Sosial, Beralih ke Stablecoin & RWA – Sinyal Pergeseran Strategi Layer-2

Tim Redaksi Feedberry ·16 Juli 2026 pukul 01.14 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.3 Skor

Pergeseran strategi Base dari sosial ke finansial berdampak pada arah inovasi layer-2 Ethereum dan produk kripto yang mungkin diadopsi ekosistem Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Jesse Pollak, pencipta Base, mengakui kegagalan strategi yang mengandalkan pengalaman sosial untuk mendorong adopsi kripto. Ia menyerahkan kepemimpinan Base App kembali ke Coinbase di bawah Jordan Fish (Cobie), dan akan fokus mengembangkan blockchain Base.

Langkah ini mengikuti pengakuan CEO Coinbase Brian Armstrong bahwa 'content coins tidak berhasil', yang mendorong perusahaan beralih haluan lebih awal tahun ini. Base telah menghentikan program Creator Rewards dan feed sosial bertenaga Farcaster pada Februari lalu, beralih ke aset yang dapat diperdagangkan. Pada minggu lalu, Base mengaktifkan standar token B20 di mainnet, menyediakan kerangka kerja untuk stablecoin, tokenized real-world assets (RWA), dan token fungible lainnya. Pada Mei, Base meluncurkan Base MCP (Model Context Protocol), alat yang memungkinkan pengguna mengelola kripto langsung dari antarmuka chat AI dan berinteraksi dengan protokol seperti Morpho, Moonwell, Uniswap, dan Aerodrome.

Pada April, Base mengatakan sedang meningkatkan sistem kunci sebagai persiapan ekonomi agen AI sebagai bagian dari peta jalan 2026, dengan menonjolkan tokenisasi RWA, stablecoin, dan pasar prediksi sebagai area pertumbuhan utama. Pollak menyatakan akan membangun Base menjadi blockchain untuk keuangan global. Pergeseran ini menandakan bahwa Base tidak lagi bersaing sebagai platform sosial, melainkan sebagai infrastruktur finansial terdesentralisasi yang bersaing langsung dengan jaringan layer-1 dan layer-2 lainnya seperti Arbitrum, Optimism, dan Solana. Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa kegagalan strategi sosial Base merupakan cerminan perjuangan sektor kripto secara umum dalam menemukan kasus penggunaan massal di luar spekulasi dan keuangan terdesentralisasi. Banyak proyek sebelumnya mencoba 'gamifikasi' atau 'sosialisasi' tetapi gagal menghasilkan adopsi berkelanjutan.

Keputusan Base untuk fokus pada stablecoin, RWA, dan pasar prediksi — sektor yang tumbuh pesat berdasarkan data on-chain — menunjukkan bahwa investor dan pengembang kini lebih menghargai utilitas keuangan nyata daripada engagement sosial murni. Bagi ekosistem Indonesia, perubahan haluan Base membawa implikasi langsung. Indonesia memiliki basis pengguna kripto ritel yang besar dan aktif di berbagai bursa lokal seperti Reku, Tokocrypto, dan Pintu. Sebagai Ethereum L2 paling terkemuka di bawah merek Coinbase, Base berpotensi menjadi jalur utama bagi proyek stablecoin dan RWA yang masuk ke Indonesia. Namun, langkah Base ke pasar prediksi juga menimbulkan risiko regulasi: pemerintah Indonesia telah memblokir Polymarket karena dianggap sebagai judi online ilegal.

Jika Base mengintegrasikan protokol prediksi yang serupa, platform lokal yang berinteraksi dengan Base bisa terkena dampak penegakan hukum. Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Base adalah Ethereum L2 dengan likuiditas dan pengguna terbesar yang didukung Coinbase. Pergeseran strateginya dari sosial ke finansial memperkuat tren bahwa sektor DeFi dan RWA, bukan media sosial, yang akan mendorong adopsi kripto global. Bagi Indonesia, yang memiliki populasi crypto aktif namun regulasi belum matang, arah Base bisa menjadi acuan bagi regulator dan pelaku pasar dalam menentukan produk apa yang akan diizinkan atau dilarang.

Dampak ke Bisnis

  • Ekosistem kripto Indonesia — termasuk bursa lokal Reku, Tokocrypto, Pintu — akan menghadapi tekanan kompetisi dan inovasi karena Base menawarkan standar token B20 untuk stablecoin dan RWA yang bisa diintegrasikan lintas platform. Bursa yang tidak beradaptasi bisa kehilangan pangsa pasar.
  • Startup blockchain Indonesia yang membangun di atas Base akan diuntungkan oleh peningkatan infrastruktur Base MCP dan dukungan AI, memungkinkan aplikasi keuangan yang lebih canggih. Namun, mereka juga harus mematuhi regulasi lokal yang mungkin belum mengakomodasi produk tokenisasi dan pasar prediksi.
  • Regulator Indonesia (Bappebti, OJK) perlu mempercepat penyusunan kerangka hukum untuk stablecoin dan tokenized assets, karena Base dan jaringan lain akan terus mendorong produk-produk tersebut masuk ke pasar domestik. Keterlambatan regulasi dapat membuat Indonesia ketinggalan atau justru membuka celah risiko bagi konsumen.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: adopsi standar token B20 oleh pengembang dan bursa Indonesia — apakah ada proyek lokal yang mulai menerbitkan stablecoin atau RWA di Base dalam 2-4 minggu ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi penegakan hukum oleh Bappebti terhadap aplikasi terdesentralisasi (dApps) di Base yang menyediakan layanan pasar prediksi, mengingat Indonesia telah memblokir Polymarket.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Coinbase atau komunitas Base tentang ekspansi ke pasar Asia Tenggara — ini bisa menjadi indikator masuknya Base secara formal ke Indonesia, baik melalui kemitraan dengan bursa lokal maupun lisensi.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki basis pengguna kripto ritel yang besar dan aktif di bursa lokal. Base sebagai layer-2 Ethereum dengan dukungan Coinbase berpotensi menjadi jalur utama masuknya produk stablecoin, RWA, dan prediksi ke Indonesia. Namun, langkah Base ke pasar prediksi bisa berbenturan dengan kebijakan Indonesia yang telah memblokir Polymarket. Regulator domestik perlu mengantisipasi gelombang tokenisasi aset yang mungkin masuk melalui Base. Di sisi lain, adopsi Base MCP dan AI agent economy dapat membuka peluang baru bagi startup fintech Indonesia yang ingin memanfaatkan infrastruktur DeFi dan AI secara bersamaan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.