26 JUL 2026
Bank Terbesar Korsel Adopsi Blockchain JPMorgan untuk Pembayaran Lintas Batas

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Bank Terbesar Korsel Adopsi Blockchain JPMorgan untuk Pembayaran Lintas Batas
Korporasi

Bank Terbesar Korsel Adopsi Blockchain JPMorgan untuk Pembayaran Lintas Batas

Tim Redaksi Feedberry ·26 Juli 2026 pukul 10.21 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5.7 Skor

Berita ini tidak mendesak secara langsung untuk Indonesia, tetapi adopsi blockchain oleh bank besar Korea menandakan percepatan digitalisasi sistem pembayaran global yang berpotensi mengubah lanskap fintech dan perdagangan regional.

Urgensi
4
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Agustus 2026
Alasan Strategis
Meningkatkan efisiensi dan kecepatan pembayaran lintas batas untuk bisnis impor-ekspor dengan mengadopsi teknologi blockchain yang terintegrasi dengan SWIFT.
Pihak Terlibat
KB Kookmin BankJPMorgan Kinexys

Ringkasan Eksekutif

KB Kookmin Bank, bank terbesar di Korea Selatan berdasarkan aset, akan meluncurkan layanan pembayaran lintas batas berbasis blockchain pada Agustus 2026 menggunakan platform Kinexys milik JPMorgan. Layanan ini akan mendukung transfer dolar AS untuk bisnis impor-ekspor di 10 negara, termasuk Amerika Serikat, Singapura, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Platform Kinexys, yang sebelumnya dikenal sebagai Onyx, merupakan jaringan blockchain JPMorgan yang dirancang untuk pembayaran institusional, tokenisasi, dan aset digital. Layanan ini akan terintegrasi dengan sistem SWIFT yang sudah ada untuk memungkinkan pembayaran lintas batas yang hampir instan dan penyelesaian valuta asing.

Langkah ini menempatkan KB Kookmin Bank sebagai salah satu bank tradisional pertama di Asia yang mengadopsi infrastruktur blockchain untuk layanan korporasi secara massal. Langkah KB Kookmin didorong oleh meningkatnya kebutuhan efisiensi dalam perdagangan internasional dan tekanan biaya transaksi yang tinggi melalui jalur konvensional. Bank-bank global seperti JPMorgan telah mengembangkan Kinexys sejak 2020, dan adopsi oleh bank besar Korea ini menjadi bukti bahwa blockchain untuk pembayaran wholesale mulai meninggalkan fase uji coba. Yang tidak terlihat dari headline adalah dampaknya terhadap ekosistem SWIFT. Kinexys tidak sepenuhnya menggantikan SWIFT, tetapi berjalan di atasnya untuk mempercepat settlement.

Ini menandakan bahwa SWIFT tetap menjadi infrastruktur dasar, namun lapisan tambahan berbasis blockchain akan menjadi standar baru untuk transaksi bernilai tinggi dan frekuensi rendah yang membutuhkan kecepatan dan transparansi lebih. Dampak dari langkah ini akan terasa di beberapa lapisan. Pertama, bagi perusahaan Korea yang melakukan ekspor-impor, biaya transaksi bisa turun signifikan karena pengurangan perantara dan waktu penyelesaian yang lebih cepat. Kedua, bank-bank lain di Asia, termasuk di Indonesia, akan mendapat tekanan untuk mengadopsi teknologi serupa agar tidak kehilangan daya saing dalam melayani klien korporasi yang bergerak di perdagangan internasional. Ketiga, regulator di kawasan akan semakin didorong untuk menyusun kerangka hukum yang jelas bagi aset digital dan pembayaran blockchain, termasuk dalam hal kepatuhan anti pencucian uang (AML) dan perlindungan konsumen.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menandai babak baru adopsi blockchain oleh bank arus utama di Asia untuk layanan korporasi. Bagi Indonesia, ini menjadi sinyal bahwa efisiensi pembayaran lintas batas akan menjadi kunci daya saing perdagangan. Perusahaan Indonesia yang bertransaksi dengan Korea atau negara-negara tujuan layanan ini (AS, Singapura, Saudi, UAE) berpotensi menikmati biaya lebih rendah dan settlement lebih cepat. Di sisi lain, perbankan Indonesia harus beradaptasi agar tidak ketinggalan dalam persaingan regional. Ini juga mendorong regulator untuk mempercepat penyusunan kerangka hukum aset digital dan pembayaran blockchain.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan eksportir dan importir Indonesia yang bermitra dengan perusahaan Korea akan merasakan langsung manfaat berupa biaya transaksi lebih rendah dan waktu penyelesaian valas yang lebih cepat, karena layanan ini mengurangi perantara dan mempercepat kliring.
  • Bank-bank Indonesia yang melayani segmen korporasi perdagangan internasional, seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI, akan menghadapi tekanan kompetitif untuk mengadopsi teknologi serupa agar tidak kehilangan pangsa pasar layanan trade finance dan remitansi korporasi.
  • Perusahaan fintech penyedia layanan remitansi dan pembayaran lintas batas di Indonesia, seperti Xendit, Midtrans, dan platform transfer uang, perlu mencermati langkah ini karena dapat mengubah standar biaya dan kecepatan layanan di tingkat regional.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman bank Indonesia tentang adopsi platform blockchain untuk pembayaran korporasi — apakah ada kemitraan dengan JPMorgan Kinexys, Ripple, atau solusi lain dalam 1-3 bulan ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: fragmentasi standar pembayaran blockchain antar bank — jika setiap bank menggunakan platform berbeda tanpa interoperabilitas, biaya integrasi bagi perusahaan multinasional justru bisa meningkat.
  • Sinyal penting: respons regulator Indonesia (BI dan OJK) terhadap percepatan pembayaran lintas batas berbasis blockchain — apakah akan mengeluarkan sandbox atau pedoman baru yang memungkinkan adopsi serupa.

Konteks Indonesia

Pembayaran lintas batas berbasis blockchain oleh bank Korea Selatan ini relevan bagi Indonesia karena Indonesia merupakan mitra dagang utama Korea di ASEAN, terutama di sektor elektronik, otomotif, dan tekstil. Volume perdagangan bilateral Indonesia-Korea mencapai lebih dari $20 miliar per tahun. Efisiensi pembayaran yang ditawarkan Kinexys dapat mengurangi biaya dan waktu transaksi bagi eksportir Indonesia. Selain itu, langkah ini menambah tekanan pada perbankan Indonesia untuk mempercepat digitalisasi trade finance dan remitansi, sejalan dengan dorongan Bank Indonesia untuk mengadopsi teknologi pembayaran modern. Regulator dan pelaku industri di Indonesia perlu memantau perkembangan ini sebagai tolok ukur percepatan transformasi digital sektor keuangan nasional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.