12 JUL 2026
Bandara Husein Sastranegara Kembali Layani Jet – Operasi Bertahap Mulai 17 Agustus 2026

Foto: Tempo Bisnis — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Bandara Husein Sastranegara Kembali Layani Jet – Operasi Bertahap Mulai 17 Agustus 2026
Korporasi

Bandara Husein Sastranegara Kembali Layani Jet – Operasi Bertahap Mulai 17 Agustus 2026

Tim Redaksi Feedberry ·12 Juli 2026 pukul 13.22 · Sinyal menengah · Sumber: Tempo Bisnis ↗
6.7 Skor

Reaktivasi bandara jet di Bandung berdampak langsung pada konektivitas, pariwisata, dan investasi Jawa Barat; melibatkan operator BUMN, maskapai, dan sektor pendukung.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Bandara Husein Sastranegara, Bandung, ditargetkan mulai melayani pesawat jet pada 17 Agustus 2026 melalui skenario bertahap sebelum mencapai operasional penuh pada 17 September 2026. Keputusan ini diumumkan oleh Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, yang menyatakan bahwa dua skenario telah disiapkan: skenario pertama untuk penerbangan jet dengan operasi minimal, penerbangan bisnis, dan carter dengan infrastruktur dasar; skenario kedua untuk pesawat jet kategori Boeing 737-800 dan Airbus A320 dengan sistem slot manajemen. Kementerian Perhubungan mendorong PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) untuk mempercepat pemenuhan kesiapan operasional, termasuk overlay runway dan taxiway, rekonstruksi rigid apron, perbaikan atap terminal, waterproofing, serta pemenuhan fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Kategori 7.

Untuk itu, Angkasa Pura akan memobilisasi kendaraan Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF) dari Bandara Kertajati. Reaktivasi ini merupakan langkah strategis untuk mengembalikan peran Bandara Husein Sastranegara sebagai pintu gerbang udara utama Jawa Barat, setelah sebelumnya sempat fokus melayani penerbangan turboprop karena keterbatasan infrastruktur. Dengan layanan jet penuh, bandara ini akan memperkuat konektivitas Bandung ke berbagai kota di Indonesia dan internasional, mendorong sektor pariwisata, MICE (meetings, incentives, conferences, and exhibitions), serta investasi di kawasan Bandung Raya. Dampak langsung terasa pada operator bandara, InJourney Airports, yang akan mencatat peningkatan pendapatan dari landing fee, parkir pesawat, dan jasa aeronautika lainnya. Maskapai penerbangan seperti Lion Air, Garuda Indonesia, dan Citilink berpotensi membuka rute baru dari dan ke Bandung, meningkatkan utilitas armada.

Di sisi lain, sektor perhotelan, transportasi darat, dan logistik di Bandung akan terdorong oleh peningkatan arus penumpang dan kargo. Namun, ada dimensi yang tidak disebut artikel ini: pemindahan ARFF dari Kertajati dapat mengurangi kesiapan bandara tersebut untuk penerbangan jet jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Bandara Kertajati yang sebelumnya diproyeksikan sebagai bandara utama Jawa Barat kini perannya mungkin bergeser ke kargo atau penerbangan haji/umrah. Bagi investor, saham PT Angkasa Pura Indonesia (jika sudah IPO) atau induknya, InJourney, perlu dicermati sebagai barometer optimisme infrastruktur penerbangan.

Mengapa Ini Penting

Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan sinyal pemulihan konektivitas udara di luar Jakarta. Dengan kapasitas melayani pesawat jet penuh, bandara ini akan menjadi alternatif bagi penerbangan yang selama ini terpusat di Soekarno-Hatta, mengurangi kemacetan bandara utama dan mempercepat akses ke pusat ekonomi kreatif Bandung. Dampak ekonominya akan terasa di sektor pariwisata, properti komersial, dan logistik Jawa Barat — daerah dengan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional.

Dampak ke Bisnis

  • InJourney Airports (PT Angkasa Pura Indonesia) akan menikmati peningkatan pendapatan operasional dari penerbangan jet, terutama landing fee dan layanan ground handling. Biaya investasi untuk infrastruktur tambahan dapat ditekan dengan mobilisasi aset dari Kertajati.
  • Maskapai seperti Lion Air, Garuda, Citilink, dan Super Air Jet berpotensi membuka rute baru Bandung ke kota-kota sekunder seperti Medan, Makassar, atau bahkan Singapura dan Malaysia, meningkatkan utilitas armada jet mereka.
  • Sektor perhotelan, restoran, dan transportasi darat di Bandung akan mendapat efek multiplier dari peningkatan penumpang dan kunjungan bisnis. Properti komersial di sekitar bandara dan pusat kota juga akan merasakan kenaikan permintaan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: progres fisik pengerjaan runway, apron, dan terminal pada akhir Juli 2026 — jika molor, target operasi 17 Agustus berisiko diundur.
  • Risiko yang perlu dicermati: penurunan kapasitas Bandara Kertajati akibat pemindahan ARFF — jika terjadi kecelakaan atau kedaruratan di Kertajati, kesiapan bandara tersebut menurun.
  • Sinyal penting: pernyataan maskapai tentang rencana pembukaan rute baru dari Bandung — ini akan menjadi indikator awal kepercayaan pelaku usaha terhadap kelancaran operasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.