25 JUN 2026
Bali Kuasai 63,85% Wisman, 31 Bandara Lain Hanya 9,81% — Sinyal Ketimpangan Struktural Pariwisata

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Bali Kuasai 63,85% Wisman, 31 Bandara Lain Hanya 9,81% — Sinyal Ketimpangan Struktural Pariwisata
Kebijakan

Bali Kuasai 63,85% Wisman, 31 Bandara Lain Hanya 9,81% — Sinyal Ketimpangan Struktural Pariwisata

Tim Redaksi Feedberry ·25 Juni 2026 pukul 09.50 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
6.7 Skor

Data tahunan 2025 yang baru diungkap menunjukkan ketimpangan ekstrem, berimplikasi langsung pada kebijakan bandara, investasi infrastruktur, dan masa depan pariwisata daerah — dampak sektoral luas.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Bali masih menjadi pintu masuk utama wisatawan mancanegara dengan kontribusi 63,85% dari 6,9 juta wisman tahun 2025. Bandara Soekarno-Hatta di posisi kedua dengan 25%, disusul Hang Nadim Batam 14,73%, sementara 31 bandara internasional lainnya hanya menyumbang akumulasi 9,81%. Menteri Koordinator AHY mengungkapkan data ini dalam rapat koordinasi kebandarudaraan sambil menekankan pemerintah tengah melakukan monitoring dan evaluasi berbasis empat parameter: trafik, kinerja keuangan, kesiapan infrastruktur, dan dampak ekonomi daerah. Ketimpangan ini bukan sekadar angka statistik — ia mengindikasikan bahwa kebijakan pembukaan kembali bandara internasional di berbagai daerah belum berhasil mendistribusikan kunjungan wisman secara merata. Faktor daya tarik, konektivitas, dan promosi yang kuat membuat Bali tetap menjadi primadona.

Sementara itu, bandara di luar Jawa-Bali-Sumatra utama menghadapi tantangan serius: biaya operasional tinggi, okupansi rendah, dan kurangnya rute langsung dari luar negeri. Kondisi ini diperparah oleh tekanan pada maskapai penerbangan akibat harga avtur yang tinggi dan nilai tukar rupiah yang lemah, seperti tercermin dari penurunan penumpang hingga 61% di Bandara Minangkabau. Dampak langsungnya terasa pada industri pariwisata daerah. Hotel, restoran, UMKM, dan pelaku ekonomi kreatif di luar Bali kesulitan mendapatkan porsi wisman, sehingga target peningkatan devisa pariwisata nasional menjadi timpang.

Di sisi lain, pemerintah harus memikirkan ulang alokasi anggaran untuk bandara-bandara yang underutilized — apakah akan terus disubsidi, dialihfungsikan, atau ditutup status internasionalnya. Tekanan fiskal yang sudah berat (defisit APBN Rp240 triliun per Maret 2026) membuat pilihan ini semakin krusial.

Mengapa Ini Penting

Ketimpangan ini menandakan bahwa pariwisata Indonesia belum beranjak dari model Jawa-Bali sentris. Bagi investor di sektor perhotelan, transportasi udara, dan infrastruktur bandara, data ini menjadi sinyal risiko konsentrasi: terlalu banyak aset bergantung pada satu destinasi. Jika terjadi guncangan di Bali (bencana alam, isu keamanan, atau penurunan daya tarik), dampak sistemik bisa langsung menekan arus wisman nasional dan pendapatan daerah. Pemerintah pun dihadapkan pada pilihan sulit antara terus mensubsidi bandara yang tidak efisien atau mengorbankan potensi pertumbuhan daerah demi penghematan fiskal.

Dampak ke Bisnis

  • BUMN pengelola bandara (Angkasa Pura, InJourney) akan menghadapi tekanan profitabilitas di bandara-bandara non-Bali karena rendahnya trafik dan pendapatan non-aeronautika, berpotensi memicu restrukturisasi operasional atau penurunan dividen ke negara.
  • Maskapai penerbangan akan semakin rasional dalam pemilihan rute: konsentrasi frekuensi ke Bali, sementara rute ke Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi mungkin dikurangi atau ditutup, yang berdampak langsung pada konektivitas dan mobilitas usaha daerah.
  • Pelaku UMKM pariwisata di luar Pulau Dewata — seperti pengrajin, homestay, dan biro perjalanan lokal — kehilangan potensi pendapatan dari wisman, memperlebar kesenjangan ekonomi regional dan memperlambat pertumbuhan sektor jasa di daerah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: keputusan resmi Kemenko IPK dan Kemenhub soal hasil evaluasi 31 bandara internasional — apakah ada yang diturunkan statusnya menjadi domestik atau dialihfungsikan untuk kargo?
  • Risiko yang perlu dicermati: jika pemerintah memilih memangkas subsidi operasional bandara daerah, beban biaya akan beralih ke pengelola dan maskapai, berpotensi menaikkan harga tiket dan menurunkan permintaan.
  • Sinyal penting: data kunjungan wisman bulan Mei-Juni 2026 yang dirilis BPS — jika pangsa Bali di atas 60% lagi, ini mengonfirmasi kegagalan desentralisasi dan akan memicu tekanan publik terhadap kebijakan pariwisata nasional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.