3 JUL 2026
AS Tak Perpanjang USMCA, Ketidakpastian Perdagangan Global Meningkat

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / AS Tak Perpanjang USMCA, Ketidakpastian Perdagangan Global Meningkat
Kebijakan

AS Tak Perpanjang USMCA, Ketidakpastian Perdagangan Global Meningkat

Tim Redaksi Feedberry ·2 Juli 2026 pukul 16.20 · Sinyal tinggi · Sumber: Asia Times ↗
7.3 Skor

Keputusan AS tidak memperbarui USMCA meningkatkan ketidakpastian rantai pasok dan sentimen proteksionisme, berdampak langsung pada perdagangan global dan secara tidak langsung pada ekspor, valuta, serta aliran modal Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
USMCA non-renewal decision by President Trump
Penerbit
Pemerintah Amerika Serikat (Presiden Donald J. Trump)
Berlaku Sejak
Segera berlaku, dengan masa transisi 10 tahun melalui review tahunan
Perubahan Kunci
  • ·USMCA tidak akan diperbarui dan akan berakhir dalam 10 tahun jika tidak ada kesepakatan perpanjangan.
  • ·Selama periode 10 tahun, perjanjian akan menjalani review tahunan yang dapat menjadi momen renegosiasi.
  • ·AS kini melakukan negosiasi bilateral terpisah dengan Meksiko dan Kanada, bukan lagi perundingan trilateral.
  • ·Produk pertanian dan manufaktur otomotif menjadi sektor yang paling terdampak karena hilangnya kepastian akses pasar bebas.
Pihak Terdampak
Petani dan eksportir pertanian AS (pasar utama adalah Meksiko dan Kanada)Produsen otomotif AS yang mengandalkan rantai pasok terintegrasi di Amerika UtaraPemerintah Meksiko dan Kanada, serta pelaku bisnis di kedua negaraPerusahaan global yang memiliki basis produksi di Meksiko/Kanada untuk mengekspor ke ASSecara tidak langsung: negara-negara eksportir komoditas dan emerging market termasuk Indonesia, yang terpapar melalui sentimen risk-off dan pergeseran arus perdagangan global

Ringkasan Eksekutif

Presiden Trump secara resmi memutuskan untuk tidak memperbarui United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA), perjanjian perdagangan bebas yang menggantikan NAFTA pada 2020. Perjanjian ini kini akan di-review setiap tahun selama 10 tahun ke depan, dan jika tidak ada kesepakatan perpanjangan, USMCA akan berakhir sepenuhnya. Artikel mencatat bahwa Meksiko dan Kanada adalah pasar ekspor terbesar bagi produk pertanian AS, dengan nilai kontribusi 149 miliar dolar AS dan setengah juta lapangan kerja. Defisit perdagangan AS dengan Meksiko mencapai 196,9 miliar dolar AS pada 2025 dan dengan Kanada 46,4 miliar dolar AS — angka yang menjadi pemicu utama keputusan Trump. Meskipun Trump masih ingin menjaga dukungan petani, prioritasnya adalah membawa pulang manufaktur ke AS, dan ia memandang USMCA sebagai 'car deal' yang menguntungkan produsen asing.

Keputusan ini menambah lapisan ketidakpastian di tengah fragmentasi perdagangan global yang sudah meningkat akibat perang tarif AS-China serta kebijakan pemotongan impor China. Dengan USMCA yang tidak diperbarui, risiko peningkatan hambatan dagang di kawasan Amerika Utara menjadi lebih nyata. Langkah Trump ini dapat mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, yang secara langsung akan menekan nilai tukar rupiah dan aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, ketidakpastian ini memicu risk-off sentiment global, berpotensi memicu capital outflow dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Dampak tidak langsung terhadap Indonesia terutama terasa melalui tiga kanal. Pertama, penguatan dolar dan sentimen risk-off dapat memperlemah rupiah dan menekan IHSG.

Kedua, jika AS mengalihkan permintaan barang dari Meksiko dan Kanada ke negara lain, Indonesia berpeluang menangkap pangsa pasar baru untuk komoditas seperti batu bara, CPO, atau produk manufaktur — tetapi potensi ini masih belum pasti. Ketiga, eskalasi proteksionisme AS dapat memicu balasan dari mitra dagang, memperlambat pertumbuhan ekonomi global yang pada akhirnya mengurangi permintaan ekspor Indonesia. Data pasar terkini menunjukkan rupiah melemah ke Rp17.955 per dolar AS, dan IHSG di level 5.875 — tekanan tambahan dari sentimen global ini perlu diwaspadai.

Mengapa Ini Penting

Keputusan AS tidak memperpanjang USMCA menghilangkan kepastian rantai pasok kawasan Amerika Utara — salah satu pusat perdagangan dan investasi global. Bagi Indonesia, ini memperkuat tren proteksionisme yang sudah berlangsung, menekan aliran modal asing dan nilai tukar, serta memaksa pemerintah dan pelaku bisnis untuk lebih agresif mendiversifikasi pasar ekspor dan memperkuat daya saing dalam negeri.

Dampak ke Bisnis

  • Ancaman terhadap arus modal asing: Ketidakpastian perdagangan global memicu risk-off sentiment, berpotensi meningkatkan capital outflow dari pasar SBN dan saham Indonesia, yang sudah terbebani oleh defisit APBN awal tahun dan tekanan rupiah.
  • Tekanan pada sektor ekspor komoditas: Jika perlambatan ekonomi global berlanjut akibat perang dagang yang meluas, permintaan terhadap batu bara, CPO, dan nikel sebagai andalan ekspor Indonesia bisa menurun, meskipun belum terlihat dalam data bulanan terkini.
  • Potensi relokasi rantai pasok: Perusahaan AS yang sebelumnya memanfaatkan fasilitas produksi di Meksiko dan Kanada mungkin mulai mencari lokasi alternatif di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai hub manufaktur. Ini peluang sekaligus tantangan — membutuhkan kepastian regulasi dan infrastruktur yang kompetitif.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons pasar keuangan Indonesia — pergerakan rupiah di atas level psikologis Rp18.000 dan IHSG yang bertahan di atas 5.800 akan menjadi indikator utama kekuatan sentimen domestik melawan tekanan global.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi balasan dari Meksiko dan Kanada terhadap kebijakan AS — jika keduanya memberlakukan tarif baru atau membatasi investasi AS, gelombang proteksionisme akan makin meluas dan menekan pertumbuhan ekonomi global.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Kementerian Perdagangan atau BKPM terkait strategi antisipasi perdagangan — apakah Indonesia akan mempercepat perjanjian dagang baru (misalnya dengan Uni Eropa, Inggris, atau negara Amerika Latin) untuk mengamankan akses pasar.

Konteks Indonesia

Meskipun USMCA secara langsung tidak melibatkan Indonesia, kebijakan ini merupakan sinyal kuat meningkatnya proteksionisme di bawah pemerintahan Trump. Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbuka dan ketergantungan pada ekspor komoditas serta aliran modal asing sangat rentan terhadap gejolak perdagangan global. Penguatan dolar AS akibat ketidakpastian dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah yang sudah melemah, meningkatkan biaya impor, dan mempersempit ruang fiskal pemerintah akibat beban utang luar negeri yang membengkak. Di sisi lain, jika AS mengurangi impor dari Meksiko dan Kanada, Indonesia berpotensi mengisi celah pasokan untuk produk seperti elektronik, alas kaki, dan garmen — namun perlu diantisipasi dengan peningkatan daya saing dan diplomasi perdagangan yang agresif.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.