20 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / Anglo American: Tembaga Turun 5%, De Beers Tertekan
Korporasi

Anglo American: Tembaga Turun 5%, De Beers Tertekan

Tim Redaksi Feedberry ·20 Oktober 2026 pukul 17.51 WIB · Sinyal menengah · Sumber: MINING.com ↗
5 Skor

Produksi tembaga Anglo turun 5% tapi panduan setahun penuh dipertahankan dan biaya unit justru dipangkas — sinyal pasokan tembaga global tetap ketat, dengan jalur transmisi ke ekspor Freeport Indonesia dan Amman Mineral serta ke harga input manufaktur domestik.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Anglo American membukukan produksi tembaga kuartal III turun 5% menjadi 174.900 ton, dari 183.500 ton pada periode yang sama setahun sebelumnya. Pelemahan terpusat di Chile, yang menyusut 6% ke 94.200 ton akibat curah salju rekor, cuaca ekstrem, dan kadar bijih yang lebih rendah di Collahuasi dan El Soldado. Operasi Peru turun 3% ke 80.700 ton. Secara akumulatif Januari–September, produksi tembaga mencapai 518.500 ton atau 1% di bawah periode pembanding 2025. Meski demikian, manajemen mempertahankan panduan produksi setahun penuh di kisaran 700.000–760.000 ton. Keputusan mempertahankan target itu bertumpu pada dua asumsi: perbaikan kadar bijih di Collahuasi dan Quellaveco pada kuartal IV, serta disiplin biaya yang sudah terlihat hasilnya.

Proyeksi biaya unit tembaga dipangkas menjadi sekitar 139 sen per pon dari sebelumnya 145 sen per pon, ditopang harga produk sampingan yang lebih kuat dan efisiensi operasional di Peru. Di luar tembaga, kinerja portofolio terbelah. Bijih besi premium turun 4% ke 13,8 juta ton seiring program peningkatan fasilitas Kumba di Afrika Selatan yang mengimbangi kinerja lebih kuat Minas-Rio di Brasil. Mangan naik 6% ke 1,03 juta ton, sementara batu bara metalurgi meningkat 53% ke 2,9 juta ton. Divestasi aset batu bara metalurgi Australia ke Dhilmar senilai hingga US$3,9 miliar terus berjalan, sedangkan rencana pelepasan unit nikel masih ditelaah regulator Eropa. Titik paling rapuh justru datang dari lini yang paling dikenal pasar: De Beers.

Produksi berlian kasar turun 11% year-on-year menjadi 6,8 juta karat, terutama karena pemeliharaan terjadwal di Orapa, Botswana. Harga berlian yang melemah membuat rencana penjualan salah satu nama paling legendaris di industri ini jauh lebih rumit dibanding divestasi aset lainnya — pembeli menghadapi ketidakpastian harga, gangguan produksi, dan tanda tanya atas kepemilikan baru. Di sisi tembaga, tekanan justru berbalik arah. Harga tunai tembaga di LME sempat menetap di rekor US$14.822 per ton, dan kontrak Comex Desember diperdagangkan mendekati US$6,52 per pon atau masih dalam 6% dari rekor penyelesaian US$6,89 pada 9 September.

Beberapa perusahaan teknologi bahkan menyampaikan minat mendalam untuk mengambil ekuitas di Anglo guna mengunci pasokan logam bagi pusat data — sinyal bahwa kelangkaan tembaga kini menarik modal dari luar sektor tambang. Rencana merger dengan Teck Resources tetap pada jadwal penyelesaian Maret 2027, dengan persetujuan otoritas antimonopoli China sebagai syarat regulasi terakhir yang belum tuntas. Kombinasi itu akan menghasilkan output tahunan sekitar 1,2 juta ton dan menempatkan entitas gabungan di jajaran lima produsen tembaga terbesar dunia, dengan nilai nominal mendekati US$90 miliar — naik dari US$53 miliar saat pengumuman. Bagi Indonesia, jalur transmisinya berjalan melalui dua pintu.

Pertama, tembaga adalah komoditas ekspor strategis lewat operasi Freeport Indonesia dan Amman Mineral; harga yang bertahan di level tinggi menopang penerimaan ekspor dan memperkuat urgensi hilirisasi smelter domestik. Kedua, permintaan China atas konsentrat — negara itu menyuling hingga 60% katoda tembaga dunia — berpotensi menyerap pasokan global dan mengubah dinamika negosiasi ekspor konsentrat. Manufaktur berbasis tembaga di dalam negeri menghadapi risiko biaya input yang lebih tinggi bila harga bertahan di level sekarang. Sinyal pasar domestik sendiri masih rapuh: IHSG berada di 5.279 dan USD/IDR di 17.943, sementara Brent di US$109,13.

Mengapa Ini Penting

Divestasi Anglo berjalan di dua kecepatan yang berbeda, dan pasar cenderung membaca keduanya sebagai satu paket. Aset batu bara metalurgi Australia dilepas dengan valuasi hingga US$3,9 miliar, sementara De Beers — nama yang paling melekat pada identitas korporasi ini — justru tersandera harga berlian yang melemah dan produksi yang turun 11%. Artinya, strategi penyederhanaan portofolio Anglo bergantung pada kesediaan pembeli menyerap aset yang justru sedang kehilangan momentum harga, bukan aset yang sedang naik. Bagi Teck dan calon entitas gabungan, kualitas penyelesaian divestasi De Beers akan menentukan seberapa bersih neraca yang diwariskan ke merger Maret 2027.

Dampak ke Bisnis

  • Harga tembaga yang bertahan di area rekor mempertahankan insentif ekspor bagi Freeport Indonesia dan Amman Mineral, tetapi juga menaikkan biaya bahan baku bagi produsen kabel, komponen listrik, dan peralatan elektronik dalam negeri yang mengimpor katoda maupun konsentrat olahan.
  • Tambahan pasokan batu bara metalurgi Anglo sebesar 53% ke 2,9 juta ton menyentuh pasar baja global, bukan pasar batu bara termal yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Transmisi ke emiten batu bara domestik seperti ADRO, PTBA, atau ITMG karena itu tidak langsung — yang terpengaruh lebih dulu adalah produsen baja dan smelter yang memakai kokas sebagai input.
  • Minat perusahaan teknologi mengambil ekuitas di Anglo menandakan sumber pendanaan baru bagi ekspansi tambang global. Jika pola ini meluas, proyek hilirisasi mineral di Indonesia — yang selama ini mengandalkan pasar modal dan pinjaman bank — akan bersaing memperebutkan modal dengan skema offtake dan penyertaan langsung dari korporasi teknologi yang jauh lebih dalam kantongnya.
  • Penundaan atau penurunan valuasi penjualan De Beers berpotensi menahan laju deleveraging Anglo, yang pada akhirnya memengaruhi tempo integrasi dengan Teck dan struktur belanja modal entitas gabungan di tahun-tahun pertama pasca-merger.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: keputusan otoritas antimonopoli China atas merger Anglo-Teck — jika Beijing menuntut komitmen pasokan konsentrat ke smelter domestik sebagai syarat, itu menjadi preseden tata kelola komoditas yang akan memengaruhi posisi tawar eksportir konsentrat termasuk dari Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: realisasi perbaikan kadar bijih di Collahuasi dan Quellaveco pada laporan produksi kuartal IV — bila kadar tidak membaik sesuai asumsi, panduan 700.000–760.000 ton berisiko direvisi dan sentimen pasokan tembaga global berbalik arah.
  • Sinyal penting: arah harga berlian dan perkembangan proses penjualan De Beers — pelemahan lebih lanjut memperpanjang ketidakpastian struktur modal Anglo menjelang merger, sementara penyelesaian penjualan akan memperjelas profil aset entitas gabungan.
  • Yang perlu dipantau: apakah pembicaraan dengan perusahaan teknologi berlanjut menjadi kepemilikan ekuitas atau berhenti pada kontrak offtake jangka panjang — perbedaannya menentukan apakah modal korporasi teknologi masuk ke hulu tambang atau tetap di hilir pembelian.
  • Risiko yang perlu dicermati: pergerakan USD/IDR di 17.943 dan IHSG di 5.279 — harga tembaga yang tinggi menopang penerimaan ekspor, tetapi rupiah yang lemah membuat biaya impor bahan baku berbasis tembaga bagi industri domestik tetap mahal meski harga global stabil.

Konteks Indonesia

Tembaga adalah komoditas ekspor strategis Indonesia melalui operasi Freeport Indonesia dan Amman Mineral, sehingga harga yang bertahan di area rekor menopang penerimaan ekspor dan memperkuat urgensi pembangunan smelter domestik. Permintaan China atas konsentrat tembaga dapat menyerap pasokan global dan mengubah dinamika negosiasi ekspor konsentrat Indonesia. Di sisi lain, tambahan pasokan batu bara metalurgi Anglo tidak menyentuh pasar batu bara termal yang menjadi andalan ekspor nasional, melainkan pasar baja global — sehingga efeknya lebih terasa pada produsen baja dan smelter domestik yang memakai kokas sebagai input.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.