Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Berita ini tidak mendesak, namun berdampak luas pada industri data center global, regulasi lingkungan, dan keputusan investasi infrastruktur digital yang relevan bagi Indonesia sebagai pesaing hub Asia.
Ringkasan Eksekutif
Amazon mengungkapkan total konsumsi air pusat data global mereka mencapai 2,5 miliar galon pada 2025. Angka ini pertama kali dipublikasikan secara terbuka. Perusahaan mengklaim berhasil memangkas penggunaan air sebesar 2% di fasilitas yang dimiliki dan dioperasikan langsung dibandingkan 2024. Efisiensi penggunaan air mencapai 0,12 liter per kilowatt-jam listrik pada 2025, membaik dari 0,15 liter per kilowatt-jam pada tahun sebelumnya. Amazon menyebut angka tersebut lebih dari tujuh kali lebih efisien dari rata-rata industri yang mereka hitung sebesar 0,84 liter per kilowatt-jam. Sebagai perbandingan, warga AS menggunakan sekitar 3,3 triliun galon air per tahun untuk menyiram halaman — lebih dari 1.300 kali lipat konsumsi air data center Amazon.
Wakil Presiden AWS yang membawahi operasional data center, Kerry Person, menepis anggapan bahwa industri data center menghabiskan sumber daya air dalam jumlah besar. Ia menyatakan bahwa klaim tersebut tidak sesuai dengan data riil. Amazon menjelaskan sekitar 90% operasional pusat datanya menggunakan pendinginan udara luar. Ketika suhu melampaui 29,4 derajat Celsius, sistem beralih ke pendinginan evaporatif: udara dialirkan melalui filter jenuh air untuk mengurangi panas dan kelembapan. Amazon telah menaikkan ambang suhu aktivasi pendinginan berbasis air, mampu mengurangi penggunaan air sekitar 50% pada fasilitas sebanding. Namun, terdapat perbedaan metode perhitungan yang penting. Amazon memasukkan air yang hilang akibat penguapan serta air yang dialirkan ke sistem pembuangan limbah. Sebaliknya, banyak pesaing hanya menghitung kehilangan air akibat penguapan.
Pendekatan ini membuat angka penggunaan air Amazon terlihat lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain, sehingga menyulitkan perbandingan langsung lintas industri. Dalam konteks global, pengungkapan ini muncul saat investasi data center AI melonjak drastis. Artikel terkait misalnya mencatat Meta-Reliance membangun data center 168 MW di India, dan CoreWeave mendapatkan pendanaan lebih murah untuk data center. Sementara itu, kelebihan biaya data center justru menekan saham Oracle. Artinya, efisiensi biaya — termasuk air dan energi — menjadi faktor kunci daya saing operator data center global. Bagi Indonesia, berita ini membawa implikasi strategis. Indonesia tengah gencar menarik investasi data center global. Namun, ketersediaan air bersih dan keandalan listrik menjadi syarat mutlak.
Rupiah yang berada di level lemah (berdasarkan data pasar terverifikasi: USD/IDR 17.916) menaikkan biaya impor peralatan dan energi bagi investor. Jika negara pesaing seperti India menawarkan insentif fiskal dan infrastruktur air/energi lebih baik, Indonesia bisa kehilangan momentum.
Mengapa Ini Penting
Transparansi konsumsi air data center oleh Amazon menjadi preseden penting. Investor global dan regulator akan semakin menuntut standar keberlanjutan yang ketat, termasuk efisiensi air dan energi. Bagi Indonesia yang ingin menjadi hub data center Asia, berita ini menyoroti bahwa biaya operasional (air, listrik, pajak) harus kompetitif. Tanpa infrastruktur pendukung yang memadai, Indonesia bisa tertinggal dari India dan Malaysia yang sudah lebih agresif dalam insentif data center.
Dampak ke Bisnis
- Operator data center di Indonesia harus bersiap menghadapi potensi regulasi efisiensi air yang lebih ketat, yang dapat menaikkan biaya operasional dan investasi awal.
- Perusahaan penyedia utilitas air dan listrik di kawasan industri yang mengincar proyek data center perlu mengantisipasi permintaan besar — menawarkan tarif kompetitif dan pasokan stabil menjadi kunci daya tarik.
- Emiten properti yang mengembangkan kawasan data center, seperti META (jika terafiliasi) atau pengelola kawasan industri, terdampak langsung oleh keputusan investasi operator global yang semakin sensitif terhadap biaya air dan energi.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pengumuman investasi data center baru dari AWS, Google, atau Microsoft di Indonesia dalam 1–2 bulan ke depan — jika tidak ada, sinyal bahwa Indonesia kalah bersaing dengan India.
- Risiko yang perlu dicermati: kenaikan tarif air industri atau ketidakstabilan pasokan listrik di kawasan target — dapat memicu pembatalan atau relokasi investasi data center.
- Sinyal penting: penerbitan standar efisiensi air untuk data center oleh Kemenkominfo atau OJK — jika diadopsi, akan mengubah lanskap biaya operasional secara permanen.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.