26 JUN 2026
Allo Bank Tahan Bunga Kredit Meski BI Rate 5,75% — Tanda Bank Digital Punya Ruang Manuver

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Allo Bank Tahan Bunga Kredit Meski BI Rate 5,75% — Tanda Bank Digital Punya Ruang Manuver
Korporasi

Allo Bank Tahan Bunga Kredit Meski BI Rate 5,75% — Tanda Bank Digital Punya Ruang Manuver

Tim Redaksi Feedberry ·25 Juni 2026 pukul 13.11 · Sinyal tinggi · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
6 Skor

Respon Allo Bank menunjukkan fleksibilitas bank digital di tengah siklus suku bunga ketat, namun sinyal ini belum tentu berlaku untuk perbankan konvensional — dampak terbatas pada sektor perbankan digital dan nasabah paylater.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

PT Allo Bank Indonesia Tbk menyatakan tidak akan menaikkan bunga kredit secara otomatis menyusul kenaikan BI Rate ke 5,75% dan kenaikan tingkat bunga penjaminan (TBP) LPS menjadi 3,75%. Komisaris Utama Independen Allo Bank Aviliani menegaskan penetapan bunga kredit tetap didasarkan pada biaya dana (cost of fund) dan profil risiko nasabah, bukan semata-mata mengikuti pergerakan suku bunga acuan. Strategi ini dimungkinkan karena biaya dana Allo Bank yang dinilai efektif dan rendah, serta fokus ekspansi melalui produk paylater berbasis mitra bisnis yang dinilai lebih mampu mengendalikan risiko kredit macet.

Keputusan ini diambil di tengah tekanan makro: BI Rate telah naik tiga kali dalam sebulan terakhir, sementara LPS menaikkan TBP simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75% untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Kenaikan TBP biasanya mendorong bank untuk menaikkan suku bunga simpanan guna menjaga likuiditas, yang ujungnya berpotensi menaikkan cost of fund. Namun Allo Bank meyakini efisiensi operasional dan model bisnis digitalnya memberi ruang untuk tidak langsung meneruskan tekanan tersebut ke bunga kredit.

Di sisi lain, OJK baru saja mengimbau perbankan untuk mewaspadai risiko kredit dari pelemahan daya beli dan PHK, dengan NPL perbankan per April 2026 masih di 2,17% — tergolong aman, namun OJK membaca sinyal leading indicator yang mengkhawatirkan. Keputusan Allo Bank untuk mempertahankan bunga kredit di tengah kenaikan BI Rate dan imbauan OJK tersebut menunjukkan perbedaan strategi yang signifikan antara bank digital dan bank konvensional. Bank digital dengan basis simpanan yang lebih efisien dan penyaluran kredit yang lebih terkontrol melalui mitra bisnis memiliki kelonggaran lebih besar untuk tidak menaikkan suku bunga.

Namun, strategi ini tidak serta-merta dapat diterapkan oleh bank konvensional yang memiliki biaya dana lebih tinggi dan portofolio kredit yang lebih luas, termasuk ke sektor UMKM dan konsumsi yang sensitif terhadap suku bunga. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah bahwa keputusan Allo Bank justru bisa menjadi sinyal positif bagi sektor paylater dan mitra bisnis yang selama ini menjadi tulang punggung ekspansi kredit digital. Dengan suku bunga yang tetap kompetitif, Allo Bank berpotensi merebut pangsa pasar dari bank konvensional yang kemungkinan akan menaikkan bunga kredit dalam waktu dekat. Namun, risiko tetap ada: jika BI Rate terus naik dan cost of fund Allo Bank ikut tertekan dalam jangka menengah, penundaan kenaikan suku bunga kredit hanya bersifat sementara.

Selain itu, jika tekanan likuiditas memaksa Allo Bank untuk menaikkan bunga simpanan lebih cepat, margin bunga bersih (NIM) bisa tertekan.

Mengapa Ini Penting

Keputusan Allo Bank menjadi uji petik apakah bank digital di Indonesia benar-benar memiliki efisiensi biaya yang lebih rendah dibanding bank konvensional, atau justru hanya menunda dampak dari siklus suku bunga tinggi. Jika strategi ini berhasil — yaitu Allo tetap bisa mengelola margin tanpa menaikkan bunga kredit — maka akan memperkuat posisi bank digital sebagai alternatif pembiayaan yang lebih murah. Sebaliknya, jika dalam 1-2 kuartal ke depan cost of fund Allo Bank ikut naik dan mereka terpaksa menaikkan bunga, pasar akan mulai meragukan klaim efisiensi bank digital. Implikasinya tidak hanya untuk Allo Bank, tetapi juga untuk seluruh ekosistem paylater dan fintech lending yang menggantungkan pasokan dana pada perbankan digital. Bagi nasabah, ini bisa berarti kelonggaran sementara, tapi belum tentu permanen.

Dampak ke Bisnis

  • Allo Bank dan bank digital lainnya mendapat ruang napas untuk tidak langsung menaikkan bunga kredit, mempertahankan daya saing di segmen paylater dan kredit konsumsi digital. Namun tekanan pada cost of fund tetap mengintai di tengah kenaikan TBP LPS.
  • Mitra bisnis Allo Bank, terutama merchant e-commerce dan platform belanja online, diuntungkan karena produk paylater tetap menarik dengan suku bunga rendah. Ini bisa mendorong volume transaksi dan kerjasama lebih luas.
  • Bank konvensional yang tidak memiliki efisiensi biaya serupa akan kesulitan mempertahankan suku bunga kredit. Nasabah mereka mungkin beralih ke bank digital untuk mencari bunga lebih murah, mempercepat pergeseran pangsa pasar ke perbankan digital.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: keputusan bank digital lain (Seabank, Bank Jago, Bank Neo Commerce) terkait bunga kredit dan simpanan — apakah mereka ikut menahan bunga atau justru menaikkan sebagai respons terhadap TBP baru.
  • Risiko yang perlu dicermati: kenaikan cost of fund Allo Bank jika LPS menaikkan TBP lebih lanjut atau jika nasabah mulai menarik dana simpanan ke bank yang menawarkan bunga lebih tinggi — margin bunga Allo bisa tertekan.
  • Sinyal penting: data NPL perbankan digital bulan Mei–Juni 2026 dari OJK — jika NPL mulai naik di atas 3%, strategi penahanan bunga kredit menjadi tidak berkelanjutan. Juga pantau IFRS 9 dan pembentukan CKPN bank digital.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.