23 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Teknologi / 77% Bisnis Belum Punya Strategi GEO, Anggaran SEO Tetap Naik
Teknologi

77% Bisnis Belum Punya Strategi GEO, Anggaran SEO Tetap Naik

Tim Redaksi Feedberry ·23 Oktober 2026 pukul 14.58 WIB · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6.3 Skor

Bukan krisis hari ini, tapi pergeseran kanal penemuan pelanggan menyentuh langsung anggaran pemasaran, industri agensi, media, dan daya saing UMKM — dan sebagian besar pelaku baru menyadarinya setelah trafik bergeser.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Survei PT Arfadia Digital Indonesia terhadap 127 bisnis pada Januari–Februari 2026 menemukan 77% responden belum memiliki strategi formal untuk menjaga visibilitas merek di mesin pencari berbasis kecerdasan buatan, atau Generative Engine Optimization (GEO). Hanya 23% yang mengaku sudah memilikinya. Yang membuat temuan ini layak dibaca lebih dari sekadar statistik pemasaran: 73% responden justru menambah anggaran SEO pada 2025–2026. Artinya, arus dana mengalir ke kanal yang diasumsikan masih bekerja dengan logika lama, sementara cara konsumen menemukan informasi sudah bergeser ke ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan Claude. Pergeseran itu bukan wacana. Pada 9 September 2025 Google memperkenalkan AI Mode berbahasa Indonesia dengan dukungan Gemini 2.5, menyajikan jawaban ringkas atas pertanyaan kompleks berikut tautan ke sumber web.

Riset yang dipublikasikan di konferensi ACM SIGKDD 2024 oleh peneliti Princeton dan rekan-rekannya menemukan teknik optimasi tertentu dapat menaikkan visibilitas konten hingga 40% dalam jawaban mesin generatif pada kondisi pengujian mereka. Namun studi Rand Fishkin dari SparkToro dan Patrick O'Donnell dari Gumshoe.ai pada awal 2026 — 600 relawan, 12 perintah identik, hampir 3.000 eksekusi di ChatGPT, Claude, dan Google AI — melaporkan peluang memperoleh daftar merek yang sama dalam dua jawaban kurang dari satu banding 100. Di titik ini premis GEO mulai goyah: jika output-nya sendiri nyaris tidak reproducible, penemuan merek di mesin AI tidak bisa diperlakukan sebagai taktik mekanis seperti SEO, melainkan perang reputasi lintas sumber.

Klaim bahwa responden berstrategi GEO mencatat rata-rata kutipan AI bulanan 3,4 kali lebih banyak perlu dibaca dengan hati-hati. Angka itu berasal dari survei dan pengukuran internal Arfadia, dan artikelnya sendiri menyatakan belum dapat dijadikan bukti hubungan sebab-akibat. Pihak yang menerbitkan temuan sekaligus menjual jasa GEO, sehingga kesimpulan "ada kesenjangan, segera tutup" berfungsi ganda sebagai pipeline komersial. Bagi korporasi, angka 3,4 kali itu lebih tepat diperlakukan sebagai hipotesis kerja ketimbang benchmark anggaran. Sampel 127 bisnis juga membatasi seberapa jauh temuan ini bisa digeneralisasi ke seluruh populasi usaha di Indonesia. Dampak sektoralnya berlapis. Agensi yang menjual layanan SEO murni menghadapi risiko komoditisasi karena taktik on-page makin mudah ditiru dan makin tidak menjamin kehadiran di jawaban AI.

Sebaliknya, penerbit, media, dan pemilik kanal ulasan yang sering dikutip mesin AI justru mengumpulkan daya tawar baru — nilai earned media naik ketika mesin generatif menjawab dengan merangkum pihak ketiga. Bagi UMKM, ketimpangan ini paling tajam: tanpa strategi dan tanpa anggaran, mereka bergantung sepenuhnya pada platform agregator sebagai sumber jawaban. Dengan USD/IDR di 18.075, biaya berlangganan perkakas analitik dan layanan AI yang didominasi denominasi dolar menambah beban adopsi.

Mengapa Ini Penting

Yang berubah bukan taktik pemasaran, melainkan gerbang penemuan pelanggan. Selama dua dekade, siapa yang menguasai halaman pertama mesin pencari menguasai arus permintaan. Ketika jawaban AI mengambil alih lapisan itu, keunggulan kompetitif berpindah dari pemilik situs ke pihak yang paling sering dikutip — dan itu biasanya media, komunitas, serta platform ulasan, bukan perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang menambah anggaran SEO tanpa menyesuaikan sasaran berisiko membiayai optimasi untuk kanal yang makin tipis kontribusinya.

Dampak ke Bisnis

  • Anggaran pemasaran digital 2026 berpotensi salah alokasi secara struktural: 73% responden menambah belanja SEO, tetapi 77% belum punya kerangka untuk kanal AI. Pada perusahaan dengan siklus anggaran tahunan, koreksi arah biasanya baru terjadi setelah laporan trafik kuartalan menunjukkan pergeseran — artinya satu siklus belanja bisa terbuang sebelum evaluasi dilakukan.
  • Agensi SEO menghadapi tekanan margin ganda: harga jasa makin terkomoditisasi, sementara hasilnya makin sulit dijamin karena jawaban AI berubah meski pertanyaannya sama. Pemain yang bertahan adalah yang bisa membuktikan dampak pada penyebutan merek di luar situs klien — bukti yang jauh lebih sulit diukur daripada peringkat kata kunci.
  • Penerbit dan pemilik kanal ulasan memperoleh daya tawar baru yang belum tercermin dalam struktur kontrak kerja sama media. Jika mesin generatif konsisten merangkum pihak ketiga, nilai pemuatan artikel, ulasan produk, dan liputan independen naik — sementara konten milik merek sendiri justru kehilangan sebagian fungísnya sebagai pintu masuk.
  • Sektor yang paling luput dari perhatian: penyedia layanan pelanggan dan contact center. Ketika konsumen mulai bertanya ke asisten AI alih-alih mencari di mesin pencari, volume pencarian berbayar bisa turun lebih dulu sebelum terlihat di laporan penjualan — dan penurunan itu sulit dibedakan dari pelemahan daya beli.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: laporan trafik rujukan dari kanal AI pada analitik kuartal berikutnya — jika kontribusinya masih sangat kecil, urgensi restrukturisasi anggaran bisa ditunda; jika mulai terlihat, penundaan menjadi mahal.
  • Risiko yang perlu dicermati: klaim kausal 3,4 kali kutipan AI yang berasal dari pengukuran internal vendor — keputusan anggaran yang mengambil angka ini mentah-mentah berpotensi membiayai program tanpa dasar pengukuran independen.
  • Sinyal penting: perluasan fitur AI Mode Google Indonesia dan pengumuman lini layanan GEO oleh agensi besar — keduanya menandai kapan kanal ini berpindah dari eksperimen ke arus utama penetapan anggaran.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.